
Langkah anggun Risda, memasuki sebuah restoran yang telah Lisna berikan alamatnya. Dengan menggunakan kendaraan umum Risda sampai di tempat yang ia tuju. Sebuah restoran yang cukup mewah. Terlihat berkelas dengan tamu-tamu yang tampak memarkirkan mobil di depan restoran tersebut.
Saat menginjakkan kaki ke dalam restoran, Risda menatap sekeliling restoran yang siang itu cukup ramai. Objek yang di tuju belum terlihat. Mungkinkah Harsa belum datang ?.
'' Selamat siang Bu,ada yang bisa saya bantu ?,'' seorang pelayan wanita datang padanya sembari tersenyum ramah.
'' Siang Mbak,saya ada janji dengan teman saya. Apa ada reservasi meja atas nama Harsa Widiatmoko ?,'' Risda memastikan pada sang pelayan wanita yang menyambutnya.
'' Ada bu,mari saya antar ,'' ucap pelayan wanita itu dengan ramah. Risda mengikuti sang pelayan di belakangnya. Sampai pelayan itu menaiki tangga dan sampai di tempat yang di tuju tidak terlalu banyak pengunjung sana. Terletak di rooftoop restoran yang terdapat beberapa kursi dan meja. Namun hanya ada satu meja meja yang terisi seseorang yang memunggungi dirinya.
'' Silahkan bu,itu pak Harsa nya sudah menunggu,'' tutur wanita pelayan dengan senyum yang tak luntur di wajahnya.
'' Terima kasih mbak,'' ujar Risda bersamaan dengan Harsa menoleh ke arahnya. Harsa berdiri dari duduknya, menyongsong sang wanita pujaan dengan senyum terkembang.
Risda berjalan menghampiri Harsa dengan hati yang sedikit ragu. Namun ia meyakinkan hatinya,ini hanya tentang pekerjaan, tidak lebih. Risda sampai di dekat meja yang telah Harsa reservasi sebelumnya.
'' Assalamualaikum Ris ,'' sapa Harsa yang berdiri dengan tatapan tak lepas dari Risda.
'' Wa'alaikumussalam Sa,maaf telat.'' ucap Risda basa-basi. Harsa memundurkan kursi untuk Risda.
'' Gak apa-apa,aku juga belum lama. Silahkan ,'' Harsa meminta Risda duduk di kursi yang ia sediakan. Risda menatap sekilas wajah Harsa, kemudian duduk di tempat yang Harsa inginkan.
__ADS_1
'' Terima kasih,''ucap Risda sembari duduk di kursi.
'' Sama-sama,'' jawab Harsa yang kemudian duduk di seberang Risda,duduk saling berhadapan seperti pasangan.
'' Aku di minta Lisna untuk menyerahkan berkas ,'' belum Risda selesai berbicara Harsa memotong ucapan wanita itu.
'' Nanti saja,kita makan dulu,'' ucap Harsa, lelaki itu memanggil seorang pelayan yang segera mendatangi mereka untuk mencatat pesanan.
Harsa memesan beberapa menu karena Risda tak mau memesan satu pun makanan.
'' Kenapa gak mau pesen makan ?,'' tanya Harsa setelah sang pelayan meninggalkan meja mereka.
'' Kan sekalian Ris,'' ucap Harsa, Risda menatap ke arah Harsa .
'' Sorry Sa aku gak bisa, tolong ini kamu cek dulu berkasnya ,'' ujar Risda seraya meletakkan berkas yang di bawanya di hadapan Harsa. Lelaki itu menatap kecewa pada Risda.
'' Cuma makan siang doang Ris,kita kan temen gak apa-apa dong,'' kata yang selalu menjadi senjata saat Risda menolak apa yang Harsa berikan .
'' Maaf Sa,aku pikir udah saatnya aku membatasi pertemanan. Aku perempuan bersuami, sepertinya kurang etis memiliki hubungan pertemanan dengan lawan jenis,'' tutur Risda, Harsa tersenyum sinis.
'' Suami kamu yang melarang ?,'' tanya Harsa, Risda tersenyum sembari menggelengkan kepala.
__ADS_1
'' Suamiku tidak mengekang ku,dia memberikan aku kebebasan. Tapi aku yang harus bisa memilah dan memilih apa yang baik untuk ku dan pasangan ku,aku tidak mau apa yang aku lakukan akhirnya menjadi bumerang dalam pernikahan kami,'' ujar Risda, sesaat wanita itu menghentikan perkataannya saat pelayan datang membawa pesanan Harsa. Meski tak memesan makanan,Harsa memesankan steak serta jus alpukat untuk Risda.
'' Apa yang kamu banggakan dari pernikahan kamu ?, bahkan maaf ,suami kamu tidak bisa memberikan kamu materi yang cukup,'' ucap Harsa, Risda tersenyum mendengar penuturan lelaki di hadapannya.
'' Bang Nuril memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar materi seperti yang kamu bilang. Beliau mencukupi semua kebutuhan ku dengan baik,dan memberikanku limpahan cinta yang tak ternilai harganya,'' Risda menjeda ucapannya, ia menatap sekilas lelaki di hadapannya yang tampak menunjukkan wajah tak sukanya. Kemudian wanita itu memalingkan wajah, menatap pemandangan dari atas restoran.
'' Aku gak tau apa yang ada di pikiran kamu Sa, kamu bilang suka sama aku. Dan kamu bilang juga sudah ikhlas aku bahagia dengan suamiku. Tapi yang aku merasa kamu tidak memperlakukan aku layaknya teman biasa,'' ujar Risda, Harsa menundukkan kepala, lelaki itu menghela nafas dalam. Kemudian ia kembali mengangkat wajahnya, menatap Risda yang duduk menghadap dirinya.
'' Gak mudah Ris memperlakukan kamu menjadi teman, karena perasaan ku tidak berubah. Dan kenapa kamu memilih lelaki itu daripada aku,apa kurang ku di banding dia. Apa aku segitu tidak kayaknya buat kamu ?,'' cerca Harsa yang kecewa.
'' Ini bukan soal memilih Sa,aku dan bang Nuril berjodoh atas nama takdir. Alloh yang menggariskan dengan siapa aku berjodoh. Dan itu bukan dengan kamu. Kamu harus bisa menerima apa yang sudah Alloh gariskan,'' tutur Risda, Harsa memejamkan matanya. Ada sisi hatinya yang terluka.
'' Lantas, kenapa Alloh memberikanku perasaan ini, jika aku tidak pernah di tuliskan pada lembar takdirmu ?,'' pertanyaan lelaki itu terdengar mengambang.
'' Mungkin Alloh sedang menguji keikhlasan kamu Sa, bukankah tahta tertinggi dari sebuah keikhlasan adalah melepaskan hal yang paling kamu sukai ?,''Harsa terdiam mendengar penuturan Risda.
'' Maaf Sa,aku harus tegaskan sekali lagi sama kamu.Aku wanita yang sudah bersuami dan aku sangat menghormati pernikahan ini. Jangan mengharapkan apapun dariku karena kamu hanya akan kecewa. Aku pergi dulu,'' Risda mengakhiri ucapnya seraya berdiri dari tempat duduknya.
'' Assalamualaikum,'' ucap Risda yang kemudian melangkah meninggalkan Harsa yang termangu di tempat.
'' Wa'alaikumussalam,'' jawab Harsa lirih setelah Risda tak lagi terlihat di matanya.
__ADS_1