
Mentari sudah menyingsing ke arah barat saat Risda turun dari angkutan umum yang ditumpanginya. Angkutan yang berhenti kurang lebih seratus meter dari rumahnya. Dengan langkah cepat Risda berjalan melewati gang rumahnya, menyapa beberapa tetangga yang mulai di kenal olehnya.
Sementara si belakang sana,sebuah mobil berwarna putih masih mengikuti dengan jarak yang cukup jauh. Mengawasi sang wanita yang melangkah mantap hingga sampai di sebuah rumah sederhana yang tampak rapi dan bersih.
Sebuah motor telah terparkir di halaman rumah,dan tak berselang lama keluar lelaki tampan yang menyambut dengan senyum sumringah kedatangan istrinya. Harsa masih mengamati,ada banyak pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Interaksi yang terlihat dari sepasang suami istri itu bukanlah sebuah kebohongan.
Dimana Risda yang menyalami sang suami , mengecup punggung tangan itu dan di balas sebuah kecupan di kening serta pelukan dari sang lelaki. Harsa hanya bisa menghela nafas, namun melihat rumah yang di tempati wanita idamannya itu sungguh ia sangat miris. Ia bisa berkali-kali lipat membangunkan rumah mewah untuk wanita itu.
'' Apakah kamu bahagia Ris ?,'' gumam lirih Harsa sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya berhenti.
Sementara di dalam rumah , wanita yang di ragukan kebahagiaannya itu masih menggelayut manja di lengan sang suami.
'' Maaf ya bang, Risda telat pulang,abang udah lama ?,'' tanya Risda, Nuril tersenyum seraya mengusap lembut kepala sang istri yang masih tertutup jilbab.
'' Gak apa-apa sayang,abang juga belum lama. Gimana udah dapet tempatnya ?,'' balas Nuril seraya menatap wajah polos sang istri.
''Ada tempat sih tadi. Katanya Lisna cocok aku sih ikut aja,'' terang Risda, Nuril tersenyum dengan tatapan tak lepas dari wajah ayu istrinya.
'' Abang ih, ngeliatin Risda nya gitu,'' ucap Risda dengan bibir cemberut yang membuat sang suami tergeletak. Dan menarik tubuh istrinya dalam pelukan.
'' Abang kangen istri abang,'' ucap Nuril membuat Risda yang bersandar di dada lelaki itu tersenyum.
__ADS_1
'' Abang gombal,'' ucap Risda yang masih nyaman berada di dada bidang itu. Nuril mengecup kepala sang istri dengan sayang.
'' Kok gombal sih, dengerin deh detak jantung abang,'' sambung Nuril yang di hadiahi pukulan manja di dadanya.
'' Kok adek gak dianter sama temennya ?,'' tanya Nuril yang tidak melihat teman sang istri yang sudah beberapa kali bertemu dengan dirinya.
'' Masih ada acara katanya,jadi aku ngangkot deh,'' jawab Risda, Nuril melepas pelukannya. Memegang pundak sang istri dan menatap wajah yang tak pernah ada bosannya untuk ia pandang.
'' Adek sudah sholat ?,'' tanya Nuril yang membuat sang istri tersenyum dan menggeleng.
'' Belum bang,'' sahut Risda,Sang suami mengusap lembut pipi putih bersih itu.
Risda berlalu dari hadapan Nuril, lelaki itu memasukkan dua telapak tangannya ke dalam saku celana pendeknya. Menatap kepergian sang istri dengan helaan nafas panjang. Nuril beranjak pergi ke teras rumah. Menatap seberang jalan dimana tadi ia melihat sebuah mobil berhenti sesaat setelah istrinya datang.
Sekilas ia melihat sosok lelaki yang berada di dalam mobil tersebut. Mungkinkah Risda pulang diantar lelaki itu ?, sekilas pemikiran itu menghampiri benaknya. Namun sesaat kemudian ia tepis. Ia percaya pada sang istri. Ia tidak mungkin meragukan kejujuran wanitanya.
Membuang segala pikiran buruk yang bercokol di kepalanya, Nuril berjalan ke arah samping rumah. Melihat tanaman di sana,di ambilnya selang yang biasa ia gunakan untuk menyiram sayuran yang di tanamnya.
'' Rajinnya mas Nuril ini,mantu idaman memang,'' ucap seorang ibu paruh baya yang berjalan melewati jalan kecil di samping rumah Nuril.
'' Ibu bisa saja,mau kemana bu ?,'' sapa Nuril dengan senyum menghias bibirnya menandakan keramahan yang di miliki lelaki itu.
__ADS_1
'' Mau ke warung, bener lho mas mantu idaman. Kalau belum nikah,ibu jodohkan dengan anak ibu. Anak ibu bidan lho,'' tutur wanita yang justru kini berhenti di dekat Nuril. Lelaki itu hanya tergelak ,tak tahu harus berkata apa menanggapi wanita yang belum terlalu di kenalnya itu.
'' Mas nya itu udah ganteng,rajin, mandiri lagi. Tau gitu dulu ibu kenalkan anak ibu,'' wanita itu masih berbicara dengan lantangnya.
'' Anak ibu kan bidan mana mau sama saya bu, saya kan cuma kuli. Anak ibu pasti cari yang sepadan ,'' ujar Nuril merendah, ingin segera mengakhiri percakapan unfaedah itu.
'' Ah,anak saya mah gak pilih-pilih asal setia dan tanggung jawab,'' sahut ibu itu lagi. Nuril mulai merasa jengah,ia memalingkan wajah dan mendapati sang istri yang berdiri menatapnya tajam dengan lengan bersedekap di dada. Nuril meringis melihat ekspresi wajah sang istri.
'' Oh ya bu,saya mau ke dalam dulu. Ibu mampir ?,'' tawar Nuril berbasa-basi.
'' Terima kasih,ibu ke warung dulu,'' sahut wanita itu seraya melangkah pergi. Nuril segera bergegas menghampiri sang istri yang berdiri di ambang pintu samping rumah.
'' Hm , calon mantu idaman. Tuh mau di nikahin sama bidan,'' ketus Risda,Nuril hanya tertawa ringan sembari merangkul pundak sang istri dan membawanya masuk ke dalam rumah.
'' Tapi abang cintanya sama dek Risda yang cantiknya tiada tara,'' ucap Nuril yang di hadiahi cebikkan di bibir sang istri dan kibasan tangan. Namun Nuril tetap merangkul Risda dan justru semakin erat. Meski beberapa kali istrinya mengibaskan tangan sang suami. Tak hilang akal,Nuril mengangkat tubuh istrinya membuat wanita itu menjerit sambil tertawa.
Dibaringkannya sang istri di tikar yang terletak di ruang tengah. Nuril mengungkung tubuh Risda di bawah tubuhnya. Keduanya saling bertukar pandang. Nuril membelai rambut istrinya yang telah menanggalkan jilbabnya.
'' Abang cinta sama adek, jangan dengarkan omongan orang yang bisa merenggangkan hubungan kita. I love you my wife,'' ucap Nuril berupa bisikan. Risda tersipu di bawa tatapan sang suami yang begitu dalam. Wanita itu memberanikan diri mengalungkan tangan di leher sang suami. Mengangkat sedikit tubuhnya dan mengecup sekilas bibir lelakinya.
'' I love you too,suami,'' balasnya, membuat senyum terukir di bibir sepasang suami istri itu.
__ADS_1