Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Tersimpan Dendam


__ADS_3

Siang menampakkan wajah muramnya, awan mulai tampak menghitam. Menutup sinar matahari, hingga tak terlihat teriknya. Empat orang lelaki dewasa terlihat sibuk dengan alat yang mereka gunakan untuk membuat berbagai macam teralis dari besi.


Keempatnya serius dengan pekerjaan mereka. Hingga tak menyadari sebuah mobil berhenti di depan tempat mereka bekerja. Seorang wanita yang mengenakan blazer berwarna merah muda di padu rok mini berwarna hitam , high heels tampak menghiasi kaki jenjangnya.


Wanita itu tampak berdiri mengamati seraya berdiri dengan bersandar di badan mobil. Tatapannya tertuju pada lelaki bermasker yang sedang mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan. Tampak wanita itu mengigit bibir bawahnya, melihat pemandangan lelaki yang terlihat macho dengan keringat yang membasahi tubuh.


Wanita berambut pirang dengan panjang sepunggung itu tak lain adalah Yuna. Entah ada keperluan apa wanita itu datang ke tempat kerja Nuril. Namun terlihat sebuah tentengan di tangan kanan Yuna. Wanita itu mendekati Nuril yang tampak sedang istirahat dan meneguk air minum dengan gelas.


'' Hay Ril,'' sapa Yuna yang mendekati Nuril yang sedang duduk di kursi. Lelaki itu menengadah melihat siapa yang menyapanya. Nuril tampak mengerutkan keningnya, melihat siapa yang datang menghampiri dirinya.


'' Yun, Assalamualaikum ,'' ucap Nuril ramah.


'' Wa'alaikumussalam ,'' jawab Yuna dengan senyum terkembang, wanita itu meletakkan tentengan yang di bawanya. Kemudian duduk di sebelah Nuril,yang menduduki sebuah kursi panjang. Membuat lelaki itu menggeser duduknya.


'' Ada apa Yun ?,'' tanya Nuril yang merasa heran dengan kedatangan teman lamanya itu.


'' Gak ada apa-apa,cuma mau kamu ngasi ini ,'' ujar Yuna seraya menyodorkan kresek berisi makanan yang di bawanya.

__ADS_1


'' Apa ?,'' tanya Nuril seraya menoleh ke arah Yuna, membuat pandangan keduanya bertemu sesaat. Nuril langsung membuang muka saat menyadari ia bersitatap dengan wanita itu.


'' Cuma makan siang,aku tahu kamu gak bakal terima kalau uang yang istri kamu kasih aku balikin. Jadi sebagai gantinya aku bakal anterin makan siang buat kamu,'' tutur Yuna sambil tersenyum. Berbeda dengan Nuril yang kini menunduk seraya menghela nafas.


'' Gak harus gitu Yun,itu emang uang kamu. Dan kamu gak perlu mengantar makan siang buat aku. Gak etis rasanya, kalau kamu ngirim makanan buat aku,'' ujar Nuril,ia sesekali menatap Yuna yang tak pernah melepaskan pandangannya pada lelaki di sampingnya.


'' Kenapa gak etis ?,'' tanya Yuna dengan nada sedikit ketus. Wanita itu sepertinya tidak menyukai apa yang dikatakan oleh Nuril.


'' Karena aku lelaki beristri Yun, kamu tau itu,'' jelas Nuril, ia tak mau pertemuan dengan janda muda itu akan menjadi fitnah yang akhirnya menimbulkan kesalahpahaman antara dia dengan sang istri.


'' Ya aku tau,tapi apa salah aku sedikit memberi perhatian terhadap teman,'' nada bicara wanita itu sedikit meninggi, Nuril menghirup nafas dalam, berusaha menenangkan hati agar tak terbawa emosi.


murni sebagai teman. Akan ada hati yang terlibat di dalamnya. Dan aku tidak mau itu terjadi di antara kita,'' ucap Nuril panjang lebar,Yuna menatap lelaki itu dengan tatapan sulit di artikan.


''Bagaimana jika hatiku sudah terlibat sekarang ?,'' tanya Yuna membuat Nuril mengernyitkan dahi saat mendengarnya.


'' Maksud kamu ?,'' bukan lelaki itu tak mengerti maksud dari wanita di sampingnya. Namun tak ingin menerka yang mungkin saja salah.

__ADS_1


'' Aku suka sama kamu,'' ucap Yuna lantang. Tanpa ada rasa segan sedikitpun saat mengungkapkan rasa dalam hatinya.


Nuril tersenyum tipis, tatapan matanya lurus ke depan. Ia tak menyangka teman sekolahnya seberani itu.


'' Aku gak ada hak buat melarang seseorang untuk menyukaiku. Tapi ada batas yang gak akan pernah bisa kamu lewati. Kamu tahu kan ,aku sudah beristri ?,apa yang kamu harapkan dari laki-laki yang telah memiliki pendamping ? ,'' tanya lelaki itu, namun jawaban wanita di sampingnya sungguh di luar dugaan.


'' Kalau tidak menjadi istri pertama kamu,bisa kan aku jadi istri keduamu ?.''


Nuril benar-benar tak paham dengan jalan pikiran wanita yang masih duduk di sampingnya dengan tenang.


'' Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran kamu,tapi aku tidak pernah ada niatan untuk menikah lagi. Dan bagaimana mungkin, kamu sebagai wanita menginginkan hal semacam itu ?,'' ucap Nuril yang sungguh merasa tidak mengerti tentang wanita itu.


'' Bukankah kamu berhak untuk memiliki istri lebih dari satu ?, bukankah itu juga adalah sunah ?,''


'' Yah aku berhak memiliki istri lebih dari satu. Tapi aku tidak berhak menyakiti wanita satu pun. Karena aku yakin tidak mungkin ada wanita yang rela di duakan. Dan banyak sunah yang bisa kita lakukan selain untuk menikah lagi. Yun, aku gak tau maksud kamu apa sebenarnya. Tapi kenapa kamu melakukan hal yang jika benar terjadi akan menyakiti kaummu ?, sesama wanita ,'' tutur Nuril,yang justru di sambut senyum miring wanita itu.


Nuril di buat gelisah dengan kelakuan Yuna,ia sesekali melirik ke arah teman kerjanya yang bekerja sedikit jauh dari tempat istirahat. Wanita di sampingnya tampak menatap nanar , matanya berkaca-kaca. Kemudian sesaat kemudian tampak tersenyum sinis.

__ADS_1


'' Aku tidak perduli, saat aku terluka oleh hadirnya wanita lain pun tak ada yang perduli. Bagaimana jika saat ini aku ingin egois ?, ingin memiliki lelaki yang aku sukai ?,'' tanya Yuna dengan tatapan tajam ,ada dendam yang masih berkibar terlihat dari sorot mata itu.


Nuril menghela nafas seraya mengucap istighfar. Kobarkan dendam yang terlihat di mata wanita itu harus di padamkan. Jika tidak ingin kobaran api dendam itu justru akan membakar wanita itu sendiri.


__ADS_2