Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Saling Mengingatkan


__ADS_3

Awan hitam tampak menggumpal, sesekali petir menyambar. Suara gemuruh guntur saling bersahutan. Malam telah datang, gelap semakin pekat saat air hujan mulai berjatuhan. Risda duduk termenung di ruang tamu. Menunggu sang suami yang belum kunjung datang.


Maghrib tadi Nuril telah mengabari dirinya bahwa lelaki itu akan pulang terlambat. Namun malam yang kian larut dan cuaca buruk membuat Risda khawatir. Belum lagi ponsel suaminya yang kini tak bisa di hubungi.


Bibir wanita itu tak berhenti menyebut nama Allah dalam zikir yang ia lafadz kan. Dalam setiap hela nafas tersimpan doa keselamatan untuk sang suami. Rasa resahnya ia balut dalam lantunan doa dan zikir. Memohon pada sang pemilik kehidupan,agar keselamatan menyertai suaminya.


Kilat petir menyambar, membuat wanita itu tersentak. Bangun dari duduknya dan menyibak tirai jendela.


'' Subhanallah ,'' lirih Risda, petir berkilatan seolah membelah langit. Risda menatap jam di dinding ruang tamu. Hampir jam sembilan malam dan . suaminya belum juga datang.


'' Ya Alloh , selamatkan suami hamba dari marabahaya ,ya Alloh,'' ucap Risda .


Beberapa Minggu terakhir suaminya selalu pulang malam bahkan terkadang hampir tengah malam. Komunikasi keduanya sedikit terkendala. Hanya di pagi hari itu pun di sela rutinitas pagi . Bukan dalam keadaan santai untuk saling berbincang dari hati ke hati.


Sedikitnya waktu mereka bersama membuat hubungan mereka sedikit renggang. Banyak cerita yang terlewat, banyak waktu yang terbuang. Cinta yang sempat menghangat mulai terasa hambar. Ketika tidur pun tak tak lagi saling memeluk. Rutinitas keintiman keduanya pun berimbas,tak lagi menggebu. Karena rasa lelah bekerja membuat mereka hanya menghabiskan malam dengan tidur lelap.


Risda kembali duduk di sofa ruang tamu, bibirnya tak berhenti mengagungkan asma Allah dalam lantunan dzikir. Hingga tak terasa wanita itu terlelap sembari duduk bersandar. Saat deru motor Nuril berhenti di halaman, Risda tak mendengarnya, apalagi suara deras hujan di luar juga menyamarkan suara motor Nuril.


Nuril membuka kunci tanpa mengetuk pintu, istrinya pasti sudah tidur. Berjalan perlahan memasuki ruang tamu. Mata Nuril di hadapkan pemandangan yang membuat nyeri hatinya. Risda tidur meringkuk seraya terduduk. Nuril mendekati sang istri dengan mata berkaca-kaca. Belakangan ini interaksi keduanya tidak terlalu intens. Istrinya pasti merindukan saat mereka berbicara berdua sebelum terlelap. Hingga wanita itu rela menunggu dirinya.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul sepuluh malam,saat Nuril memasuki rumah. Lelaki itu kini berjongkok di hadapan sang istri. Menatap wajah ayu yang sesungguhnya sangat ia rindukan. Namun pekerjaan menyita banyak waktunya. Orderan di tempat kerjanya cukup banyak, di tambah lagi ia yang masih menerima jasa servis setelah jam kerja. Membuat ia pulang larut malam.


'' Abang kangen dek ,'' bisik lirih Nuril sembari menatap wajah terlelap itu. Nuril tersenyum melihat wajah teduh yang selalu bisa menentramkan hati. Ia bangkit dan meletakkan tas di samping sang istri. Kemudian mengangkat tubuh wanitanya dalam gendongan.


Risda tampak terusik dari tidurnya saat Nuril mengangkat tubuhnya. Mata itu mengerjap ,dan akhirnya terbuka merasakan dirinya seakan melayang.


'' Abang ,'' ucap Risda dengan suara serak,Nuril tersenyum kemudian menundukkan sedikit kepalanya untuk mengecup singkat bibir istrinya.


'' Maaf ya dek, gara-gara nungguin abang adek jadi ketiduran di luar ,'' ucap Nuril sembari terus melangkah membawa tubuh sang istri.


Risda tersenyum, tanpa berniat turun dari gendongan sang suami. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang yang ia rindukan. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher sang suami. Keduanya saling beradu pandang.


'' Adek juga kangen abang,abang pulang malam terus,'' keluh Risda.


'' Maaf ya sayang,'' tutur Nuril sambil menidurkan Risda di atas tempat tidur setelah mereka sampai di kamar.


Risda tak melepaskan tangannya yang masih mengalungi leher Nuril. Membuat lelaki itu mengungkung tubuh Risda. Tatapan Risda begitu dalam pada lelaki yang juga menatapnya dengan tatapan lembut. Risda menyusuri wajah suaminya dengan ujung jari telunjuk.


'' Apa yang sebenarnya abang cari ?, apa abang masih tersinggung dengan pemberian ibu ?,'' tanya Risda yang merasa suaminya berubah semenjak sang ibu mengirim banyak perabotan untuk mereka. Nuril menggelengkan kepala, mengambil tangan sang istri dan di kecupnya telapak tangan itu.

__ADS_1


'' Abang tidak tersinggung,tapi termotivasi untuk menjadi lelaki yang layak menjadi pendamping kamu. Lelaki yang bisa memberikan kamu kenyamanan termasuk dalam finansial. Abang mau menjadi lelaki yang bisa kamu andalkan dalam segala hal,''ucap Nuril. Risda menarik tengkuk sang suami hingga lelaki itu tertunduk semakin dekat dengan istrinya. Hidung mereka saking bersentuhan, tatapan keduanya bertaut begitu dalam.


'' Apa yang abang beri buat Risda sudah lebih dari cukup, Abang tidak perlu mengejar dunia hingga lupa waktu. Karena aku lebih suka abang yang menyisakan waktunya untuk ku, bukan memberikan materi berlebih tapi tak pernah ada waktu untuk saling berbagi cerita. Aku kangen bang Nuril yang selalu menatap ku penuh cinta,yang selalu mendengarkan ceritaku ,yang selalu menyediakan tempat untuk ku bersandar,'' ujar Risda, wanita itu sedikit menengadah dan mencium bibir sang suami. Kemudian menggulingkan lelakinya untuk berbaring di sampingnya.


Kini keduanya berbaring sambil memeluk dengan mata saling bertaut.


'' Rejeki sudah Alloh atur, jangan mengejar berlebihan. Karena Alloh sudah menakar rejeki sesuai ukuran. Mengejar dunia tak akan ada cukupnya. Risda gak mau ,abang terlalu sibuk dengan dunia hingga lupa dengan ibadah. Abang beberapa hari terakhir sudah tidak pernah lagi membangunkan Risda untuk sholat malam,'' wanita itu menjeda ucapannya, mengeratkan pelukan pada sang suami hingga tubuh mereka rapat tanpa celah.


'' Risda kangen kita sama-sama duduk bermunajat pada Alloh, sama-sama berdzikir mengagungkan asma Nya . Sama-sama menengadah meminta ampunan dari Nya. Risda kangen bang ,'' ucap Risda dengan wajah tertunduk. Nuril berkaca-kaca mendengar penuturan sang istri. Ia sudah lalai, bahkan meninggalkan kebiasaan sholat malamnya beberapa hari terakhir. Ia terlalu sibuk mempertahankan egonya sebagai lelaki yang ingin diakui.


'' Terima kasih, terima kasih sudah mengingatkan abang. Abang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa abang justru menjauh dari sang pemberi rezeki,'' ucap Nuril yang kemudian mengecup kepala sang istri dengan sayang.


Nuril mengangkat wajah istrinya untuk menengadah menatap dirinya. Ia menunduk dan mencium lembut bibir yang sesungguhnya sangat ia rindukan. Bibir merona merah tanpa lipstik yang membuat candu dirinya. Cukup lama Nuril tenggelam dalam ciuman yang begitu lembut dan mendebarkan. Risda terpejam menikmati sentuhan sang suami,ia pun merindukan itu.


Nuril melepaskan ciumannya, menatap wajah memerah di hadapannya.


'' Jangan pernah lelah mengingatkan Abang,saat abang mulai jauh dari jalan Allah,''ucap Nuril,Risda mengangguk kemudian berucap.


'' Jika Risda salah melangkah tegur Risda, mari kita saling mengingatkan agar rumah tangga kita sejalan ,'' ujar Risda yang diiyakan oleh sang suami.

__ADS_1


Keduanya saling memeluk erat, menghangatkan tubuh yang dingin karena guyuran hujan di luar sana. Hawa dingin yang mengantarkan sepasang kekasih halal itu untuk mengurai rindu dalam ibadah terindah.


__ADS_2