
Minggu pagi,saat Nuril dan Risda memiliki waktu senggang bersama. Keduanya memilih libur untuk bisa menghabiskan waktu berdua. Pagi itu, tampak sepasang kekasih halal itu sedang menikmati secangkir teh yang masih mengepulkan asap di temani singkong goreng .
'' Bang, Lisna keberatan aku keluar dari tempat les,'' adu Risda pada suaminya dengan kepala bersandar di bahu lelaki itu. Nuril mengusap lembut lengan sang istri.
'' Gak apa-apa, kalau kamu memang di butuhkan. Selama kamu tidak merasa terbebani ,'' sahut Nuril, sesekali lelaki itu mencium puncak kepala Risda yang tertutup kerudung instan berwarna coklat muda.
'' Kalau sekarang Risda gak ada masalah, Harsa sudah tidak pernah datang lagi ke tempat les,'' terang Risda.
Sepasang suami istri itu sedang duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di halaman belakang. Di sana terdapat sebuah pohon mangga dan pohon rambutan yang lumayan rimbun daunnya. Sehingga membuat nyaman duduk di bawahnya.
'' Abang akan dukung apapun selama itu baik dek ,'' sahut Nuril sembari mengecup kening istrinya sekilas. Risda mengangkat kepalanya dan duduk tegak, menatap sang suami yang juga sedang menatap ke arah dirinya.
'' Terima kasih ya bang, selalu bisa ngertiin Risda,'' ucap wanita itu dengan senyum lembut. Nuril menyambut senyum dengan tulus seraya menganggukkan kepala.
Lelaki itu kemudian mengangkat cangkirnya dan meminum teh yang masih menghangatkan tenggorokannya. Risda mengikuti apa yang di lakukan sang suami.
'' Maaf ya dek,abang belum bisa bahagiain adek ,'' ucap Nuril tanpa menatap sang istri. Ia selalu merasa rendah diri karena belum bisa memberikan materi lebih pada istrinya.
Risda meraih telapak tangan sang suami dan menggenggam dengan lembut.
'' Bang !," panggil wanita itu membuat Nuril menatap kearahnya. Dua pasang bola mata itu saling bertemu tatap.
__ADS_1
'' Mungkin abang belum bisa memberikan limpahan materi buat Risda,tapi perlu abang tahu, Risda bahagia bang hidup sama abang. Abang sudah memberikan hal yang lebih dari materi. Abang memberi limpahan cinta buat Risda. Dan itu jauh lebih berharga daripada sekedar materi bang,'' tutur lembut sang wanita menambah sejuk pagi itu.
Nuril balas menggenggam tangan itu , kemudian membawa telapak tangan sang istri untuk di kecupnya.
'' Terima kasih sayang ,'' keduanya saling menatap penuh cinta dan saling memberi kan senyum lembut.
Di bawah cahaya matahari pagi yang terasa menghangatkan. Sepasang suami istri itu pun tampak hangat saling bersenda gurau di bawah senyum sang mentari dan birunya langit .
Pertautan dua hati dalam ikatan suci pernikahan. Menyatukan hati hingga menumbuhkan indahnya cinta yang suci. Cinta itu semakin indah merekah dalam hati keduanya. Semakin hari cinta dengan landasan sang Ilahi semakin bersemi.
Setelah menghabiskan waktu pagi bersama, kini keduanya sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Risda tampak sedang mencuci pakaian sedang Nuril mengepel lantai rumah. Sampai suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah mereka.
'' Ibu ,'' lirih Nuril,yang langsung bergegas membereskan peralatan pelnya.
'' Assalamualaikum ,'' suara wanita yang di katakan ibu okeh Nuril terdengar. Dengan sedikit berlari Nuril yang telah menyingkirkan alat pelnya menyahut seraya berjalan kearah pintu.
'' Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,'' jawab Nuril, pintu depan rumah terbuka. Memperlihatkan wanita berkerudung besar dengan gamis membungkus tubuh yang sudah tidak lagi terlihat muda. Namun wajahnya masih memancarkan pesona keanggunannya.
'' Ibu ,'' ucap Nuril sembari membungkuk dan meraih telapak tangan wanita yang tak lain adalah ibu mertuanya. Lelaki itu mencium punggung yang sang ibu dengan takzim.
'' Silahkan masuk bu !,'' Nuril mempersilakan wanita yang telah melahirkan wanita tercintanya. Wanita itu tampak tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
'' Risda kemana ?,'' tanya ibu yang sedang melangkah masuk ke dalam rumah.
''Didalam bu sedang mencuci, sebentar saya panggilkan. Ibu silahkan duduk dulu ,'' jawab Nuril, Ibu duduk di atas kursi plastik yang terdapat di ruang tamu. Setelah menantunya berpamitan hendak memanggil sang putri , wanita itu tampak menghela nafas dan menatap prihatin pada ruangan itu.
Ibu sudah beberapa kali mengunjungi sang putri di rumah sederhana itu. Wanita yang telah membesarkan anak perempuannya dengan limpahan materi merasa miris dengan kehidupan yang di jalani putrinya kini.
'' Ibu , Assalamualaikum ,'' suara Risda menggugah ibu dari lamunan. Wanita itu menyambut sang anak dengan senyum terkembang.
'' Wa'alaikumussalam nak,''sahut ibu kemudian menyambut uluran tangan putrinya. Wanita itu memeluk anaknya setelah sang anak mengecup punggung tangan sang ibu .
'' Bagaimana kabarnya bu ?,'' tanya Risda setelah mereka melepas pelukan.
'' Alhamdulillah baik nak , kamu sendiri bagaimana di sini ?,'' tanya ibu sembari menggenggam dua telapak tangan putrinya yang terasa dingin karena sehabis mencuci .
'' Alhamdulillah Risda bahagia dan baik-baik saja, Ibu gak sama ayah ?,'' tanya Risda yang kini duduk melantai di hadapan ibu dengan kepala di letakkan di pangkuan ibu. Ibu mengusap lembut kepala Risda.
'' Ayah ada pekerjaan yang belum bisa di tinggal. Alhamdulillah kalau kamu bahagia,ibu senang mendengarnya,'' ucap Ibu dengan sebuah senyum. Sepasang ibu dan anak itu berbincang saling menanyakan kabar. Sampai muncul Nuril dari dalam rumah dengan nampan berisi secangkir teh hangat dan makanan ringan dalam toples serta kue buatan Risda dalam piring.
Melihat kedatangan sang suami Risda bangkit dari tempat duduknya dan mengambil apa nampan di tangan sang suami. Baru Risda meletakkan cangkir di atas meja di hadapan sang ibu, terdengar suara mobil berhenti.
'' Siapa yang datang ?,'' tanya Risda sembari menatap suaminya, Nuril menggeleng sembari melangkah menuju pintu. Lelaki itu tampak membeku di ambang pintu saat melihat siapa yang datang. Bahkan pertanyaan istrinya seperti tak terdengar oleh lelaki itu. Nuril tertegun dengan raut wajah sulit di artikan.
__ADS_1