
Sepi memeluk malam dalam pekat dan gelap. Hanya derik binatang malam yang terdengar. Dan gemerisik suara daun yang saling bergesekan karena tertiup angin, menambah syahdu suasana malam yang sunyi.
Hawa dingin menyergap, namun tak membuat sepasang suami istri itu enggan untuk membasuh diri dengan air wudhu. Malam menjadi waktu yang tepat untuk bermunajat. Berpasrah diri pada Ilahi, mengadu tentang segalanya pada sang pemilik takdir.
Menengadahkan tangan, meminta pada sang khalik untuk berpasrah tentang jalan takdir yang telah tertulis dalam hidup mereka. Sepasang suami istri itu khusuk beribadah di atas sajadah terbentang.
Hingga saat mereka telah selesai dengan sholat malam, keduanya membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Mengisi sunyi sepertiga malam dengan suara indah yang melantunkan ayat-ayat suci.
Ibadah yang terasa begitu menyenangkan,di jalankan berdua. Menambah rasa tenang dan damai dalam hati. Menimbulkan percikan cinta yang terus berkobar dalam dada. Cinta yang di dasarkan pada ibadah , hingga ridho Alloh terus teriring bersama mereka.
Kumandang adzan subuh, menyudahi merek yang sedang membaca Al Qur'an. Berdua mereka menjalankan ibadah dua rakaat dengan berjamaah.
Selalu ada syukur tersemat dalam hati Risda. Memiliki pasangan seperti Nuril,dia memang bukan lelaki sempurna, karena tak ada manusia biasa yang sempurna . Namun dia lelaki terbaik yang telah Alloh takdir kan untuk dirinya.
Pancaran sinar sang Surya mengintip dari celah-celah jendela , menandakan pagi mulai datang. Sepasang suami istri itu di sibukkan dengan rutinitas pagi hari. Risda telah menyiapkan dua cangkir minuman yang masih mengepulkan asap. Kopi hitam untuk sang suami dan teh manis untuk dirinya.
'' Bang minum dulu,'' ujar Risda memanggil Nuril yang baru saja selesai menjemur pakaian di samping rumah. Lelaki itu tersenyum menatap istrinya yang membawa nampan dan di letakkan di meja samping rumah.
'' Iya sayang, sebentar abang cuci tangan dulu ,''sahut Nuril sambil berlalu,masuk ke dalam rumah untuk mencuci tangan. Tak berapa lama lelaki itu menghampiri sang istri,duduk bersebelahan dengan wanitanya yang sedang menikmati secangkir teh hangat. Tampak piring di atas meja berisi risoles buatan Risda sendiri.
'' Hmmm enak Yang,'' puji Nuril setelah menggigit risoles. Risda tersenyum kemudian meletakkan cangkir miliknya di atas meja. Wanita berkerudung biru itu tampak termangu. Menatap sendu tanpa objek yang pasti. Melihat sang istri yang terlihat murung, Nuril menggenggam tangan Risda yang di letakkan di atas pangkuan.
__ADS_1
'' Kenapa ?,'' tanya Nuril lembut, Risda menghela nafas kemudian menyandarkan kepalanya di bahu lebat Nuril.
''Kok aku belum hamil juga ya bang,'' ucap wanita itu dengan nada sedih. Nuril mengusap lembut kepala sang istri seraya mengecupnya dengan mesra..
'' Kita belum lama nikah dek, janganlah jadi beban. Kita nikmati saja prosesnya, mungkin Alloh masih memberi kita kesempatan untuk pacaran dulu,'' jawab Nuril, Risda melingkarkan tangannya di pinggang Nuril.
'' Kalau seandainya aku memang tidak bisa memberi abang keturunan gimana ?,'' tanya Risda sendu. Nuril tersenyum tipis, kemudian membawa tubuh istrinya untuk duduk tegak. Lelaki itu menangkup wajah sang istri dan di bawanya menghadap dirinya.
'' Dengerin abang, jangan dulu berburuk sangka. Jangan membebani pikiran kita dengan seandainya. Pasrahkan semua pada Alloh,biar Alloh yang mengatur. Di beri kepercayaan berupa anak oleh Alloh ataupun tidak , tidak akan merubah apapun,'' ucap Nuril dengan perkataan yang begitu meyakinkan. Lelaki itu melepaskan tangannya dari pipi Risda. Wanita itu tampak tersenyum dan secepat kilat, mengecup pipi sang suami. Membuat lelaki itu tercengang sesaat kemudian tersenyum lebar. Meraih tubuh wanitanya dan memeluknya dengan erat.
'' Makasih ya bang, selalu memberikan sandaran ternyaman buat Risda,'' tutur wanita itu dalam pelukan suaminya.
'' Abang gak akan nikah lagi kan ?, kalau seandainya aku gak bisa punya anak ?,'' wanita itu kembali bertanya. Ternyata dalam benaknya masih ada keraguan yang tersimpan.
Nuril tersenyum tipis, menatap sang istri dengan tatapan yang begitu lembut.
'' Abang sudah di kasih istri segini cantiknya. Gak akan abang berpaling. Gak pernah sekalipun Abang berpikir untuk mendua. Buat Abang cukup adek. Jangan over thinking,'' ujar Nuril meyakinkan wanitanya. Risda mengangguk menanggapi sang suami.
Pembahasan masalah anak memang sedikit sensitif untuk seorang wanita. Begitupun dengan Risda yang beberapa kali mendapat pertanyaan tentang kehamilan dari keluarga maupun temannya. Ada rasa tak percaya diri menyapa hatinya.
Nuril tersenyum, menyadari istrinya yang masih terlihat muram. Lelaki itu meraih pundak Risda dan membawa wanitanya bersandar di bahunya.
__ADS_1
'' Sayang, jangan berprasangka buruk pada Alloh. Dia lah penentu segala urusan manusia. Jika Alloh mempercayai kita untuk di beri titipan. Maka cepat atau lambat pasti akan datang. Tapi jika Alloh tidak mempercayai kita, jangan menjadikan kita manusia yang mudah mengeluh. Banyak nikmat yang sudah Alloh berikan pada kita, jangan lupa untuk kita syukuri. Seandainya Alloh tidak mempercayai kita untuk melahirkan seorang anak. Masih ada banyak anak yang membutuhkan kasih sayang dan kita bisa memberikannya. Alloh lebih tau apa yang kita butuh,'' tutur Nuril sembari mendekap erat sang istri. Menyalurkan sebuah rasa nyaman .
'' Kita sebagai manusia, cukup berusaha dan berdoa. Mungkin sekarang kita juga bisa berusaha ,'' ucap Nuril sembari menatap wajah istrinya dengan alis ia naik turunkan.
'' Abang ih, genit ,'' ucap Risda yang membuat Nuril tergelak. Risda mencubit pinggang suaminya. Bibir mengerucut sang istri membuat Nuril gemas, hingga mendaratkan kecupan singkat di bibir itu.
'' Astaga abang, kalau ada orang lewat gimana ?,'' keluh Risda.
'' Ya gak apa-apa. Istri sendiri ini yang di cium,'' sahut Nuril santai. Risda melingkarkan tangan di pinggang sang suami dan mendekapnya dengan erat.
'' Risda sayang abang,'' ucap wanita itu. Nuril mengecup puncak kepala istrinya.
'' Abang lebih sayang sama kamu ,'' timpal Nuril. Keduanya saling pandang sesaat, dan saling melempar senyum manis.
'' Ehmm, pantesan di panggilin gak nyaut. Ternyata lagi pacaran,'' suara seseorang membuat sepasang suami istri itu menoleh ke arah yang sama. Seorang gadis dengan kerudung berwarna biru berdiri dengan tangan bersedekap di dada.
'' Dek ,''ucap sepasang suami istri itu hampir bersamaan. Gadis yang di panggil '' Dek '' itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
'' Mata Syaibah tercemar ,''gumam gadis yang tak lain adalah adik perempuan Nuril. Risda bangkit dari duduknya dan menghampiri sang
ipar.
__ADS_1