Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Liciknya Harsa


__ADS_3

Risda duduk termenung,di hadapannya laptop menyala. Namun pikiran wanita itu entah sedang berkelana dimana. Rasa tak nyaman menyapa dirinya. Saat ia merasa Harsa tetap tak memperlakukan dirinya sebagai teman biasa. Nyatanya,saat jam makan siang. Lelaki itu memesan makanan untuknya,tapi tidak dengan yang lain.


Istimewa,yah lelaki itu masih memperlakukan dirinya dengan istimewa, membuat ia merasa semakin bersalah pada suaminya. Lisna terlihat menghampiri Risda yang masih asyik dengan pikirannya sendiri, hingga tak menyadari kedatangan wanita itu.


'' Ris ,'' panggil Lisna sembari melambaikan tangan di depan wajah Risda yang tampak melamun.


'' Eh ,ya kenapa Lis ?,'' tanya Risda tergagap. Lisna tampak menggelengkan kepala kemudian duduk di depan Risda terhalang meja kerja.


'' Ada apa ?,'' tanya Lisna,Risda tampak mengernyit.


'' Apanya ?,'' seolah tak memahami pertanyaan Sang sahabat, Lisna mengembalikan pertanyaan tanpa menjawab. Lisna tersenyum miring.


'' Gak usah pura-pura gak ngerti deh Ris, kamu tau kok maksud aku ,'' ujar Lisna yang kini duduk bersandar dengan lengan bersedekap di dada. Risda tampak menghela nafas.


'' Harsa,'' sahut pendek Risda, Lisna mengangkat sebelah alisnya.


'' Kenapa dengan Harsa ?,'' tanya Lisna.

__ADS_1


'' Jangan pura-pura gak tau,'' ucap Risda yang hendak mengembalikan pernyataan yang sama seperti yang terlontar dari mulut sang sahabat. Tapi Lisna buru-buru memotong ucapan wanita itu.


'' Ya aku tau, kenapa kamu terganggu dengan keberadaan dia ?,'' Lisna memperjelas pertanyaannya. Risda mengangguk sembari menghembuskan nafas berat.


'' Kenapa harus terganggu, anggep aja kayak sama aku dan Tama,'' sambung Lisna, Risda tampak termenung dengan pulpen di tangannya yang ia putar-putar.


'' Aku juga pengennya gitu,tapi gak bisa Lis. Dia udah bilang terus terang kalau suka sama aku,aku gak bisa nutup mata dengan semuanya. Dia bilang cuma sekedar memberi tahu soal perasaannya tanpa mengharap apapun. Nyatanya dia masih ngasih perhatian lebih, dengan dalih pertemanan. Tapi dia gak memperlakukan aku sama kayak dia ke kamu dan Tama,'' terang Risda yang benar-benar merasa risau. Ia tak ingin terlibat hubungan apapun dengan lelaki lain.


'' Ya udahlah kamu nikmati aja,mau gimana lagi. Dia ngasi modal paling gede buat tempat les ini,'' sahut Lisna cuek, Risda menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang terasa menyebalkan bagi dirinya.


'' Nikmati gimana,aku udah nikah Lis,kamu lupa ?,'' tanya Risda geram.


Risda sudah cukup lama mengenal Lisna,ia tahu karakter wanita itu yang keras dan mudah terhasut. Tapi ia tak menyangka sahabatnya itu bisa merendahkan suaminya di depan dia Risda menggelengkan kepala dengan wajah kecutnya. Ia sudah tersulut emosi, namun berusaha untuk menahan luapan emosi dalam dadanya.


'' Please Lis,hargai pernikahan aku, hubungan aku dengan bang Nuril bukan hubungan main-main. Kami sepasang suami istri yang memang seharusnya saling menjaga. Gak perduli kamu suka atau gak sama bang Nuril,tapi gak seharusnya juga kamu ngerendahin dia di hadapan aku,''ucap Risda dengan nada rendah namun terdengar tajam. Lisna tampak melengos, Risda meraih tas di sudut meja kerjanya. Mematikan laptop di hadapannya dan memasukkan ke dalam tas punggung yang di bawanya.


'' Aku pergi dulu, kerjaan aku nanti aku kirim ke kamu via email,'' lanjut Risda yang langsung beranjak dari sana. Tanpa menunggu Lisna menyahut. Tampak Lisna mendengus kesal kemudian mendorong kasar kursi di sampingnya dengan kaki. Risda yang masih mendengar tak memperdulikannya, ia meneruskan langkah keluar ruangan.

__ADS_1


Beberapa saat setelah Risda keluar, tampak Harsa menghampiri Lisna yang masih duduk di ruangan Risda.


'' Risda kenapa ?,'' tembak Harsa tanpa basa-basi. Ia bisa melihat wajah keruh dari wanita pujaannya.


'' Gara-gara kamu,'' kata yang terlontar dari mulut pedas Lisna.


'' Gara-gara aku gimana ?,'' tanya Harsa tak paham, lelaki itu menyeret kursi yang tadi di dorong Lisna dan di gunakan untuk duduk dengan menghadap Lisna yang wajahnya tampak keruh.


'' Gara-gara aku baik-baikin kamu di depan dia dan ngejatuhin suami dia. Risda jadi marah sama aku,'' ketus Lisna dengan kesal,Harsa justru tertawa.


'' Resiko kamu dong,udah perjanjian kita dari awal kan,aku keluar uang buat tempat les ini. Dan tugas kamu bikin aku deket dengan Risda,'' ucap Harsa angkuh. Lisna menghela nafas panjang. Keputusannya kini benar-benar membebani dirinya.


'' Tapi bukannya kamu udah ungkapin perasaan kamu ke dia,dan kata Risda kamu udah ikhlasin dia,'' ujar Lisna ,Harsa tersenyum smirk. Keangkuhan jelas nampak di wajah lelaki itu.


'' Itu namanya trik, biar dia bisa lihat betapa tulusnya aku sama dia. Aku gak akan pernah ikhlas lihat dia dengan lelaki lain. Karena dia harusnya hanya bahagia sama aku,'' ujar Harsa yang membuat Lisna merasa begitu jengah.


Tanpa kata, Lisna berdiri dan meninggalkan Harsa di sana. Ia bakal di buat gila oleh obsesi Harsa pada sahabatnya. Dan gilanya ia telah membuat perjanjian itu dengan Harsa. Ia yang saat itu butuh dana merasa itu tidak menjadi masalah. Apalagi dia pikir Risda menerima pernikahan itu karena terpaksa. Dan ternyata ia salah. Wanita itu hanya bisa mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Di tempat lain,Risda dengan tas punggung yang tersampir di pundak, berjalan tak tentu arah. Ia ingin sedikit menenangkan diri. Ia harus memikirkan ulang untuk bekerja di tempat les itu. Tapi ia pun telah keluar dana yang baginya tidaklah sedikit. Ia merasa kecewa dengan sang sahabat yang tak memberi tahu dirinya tentang Harsa yang ikut mengeluarkan menanam modal di sana.


Langkah Risda membawanya masuk perpustakaan umum yang memang tak terlalu jauh dari tempat les yang mereka sewa. Ia butuh sendiri, meredam amarahnya yang masih menguasai hati.


__ADS_2