Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Bertemu Rival


__ADS_3

Pagi itu, Nuril berkendara dengan laju sedang. Menyusuri jalanan pagi yang cukup ramai lalu lalang kendaraan. Di perutnya melingkar tangan sang istri,yang sesekali ia usap lembut saat berhenti di lampu merah. Senyum seakan enggan pergi dari bibir keduanya.


Sampai di salah satu lampu lalu lintas, Nuril kembali menghentikan laju motornya,saat lampu menyala merah. Lelaki itu menggenggam tangan sang istri yang melingkar di perutnya. Tak sadar apa yang di lakukan olehnya sedang di perhatikan seseorang yang berada dalam mobil yang berhenti tepat di sebelahnya.


Lelaki yang tampak mengeras raut wajahnya melihat Nuril yang sesekali berbicara dengan sang istri membuat wanita itu mendekatkan wajahnya pada sang suami. Dan terkadang mereka berbagi tawa bersama. Harsa, lelaki yang duduk di balik kemudi itu, terlihat mengeraskan cengkeram tangannya pada setir mobil. Tak rela, melihat wanita yang dipujanya tertawa dengan lelaki lain.


Harsa yang hendak pergi ke kantor akhirnya mengikuti Nuril yang hendak mengantar Risda ke tempat les. Sampai di tempat les, tampak masih sepi. Lisna danTama belum terlihat. Risda turun dari motor sang suami. Mengulurkan tangannya untuk menyalami Nuril, lelaki itu menyambutnya dan seperti biasanya Nuril mengecup kening sang istri.


'' Abang langsung berangkat ya, nanti pulangnya Abang jemput,''ucap Nuril seraya mengambil helm di tangan Risda. Wanita itu tampak mengangguk.


Belum Nuril kembali duduk di atas motor, sebuah mobil berhenti tepat di samping lelaki itu memarkirkan motor. Harsa keluar dari dalam mobil dengan stelan jas rapi. Harsa tersenyum lebar sembari menatap ke arah Risda.


'' Pagi Ris ,'' sapa Harsa dengan senyum lebar, seolah tak menganggap keberadaan Nuril di sampingnya. Nuril menoleh kearah suara. Tampak lelaki lebih muda dari dirinya berdiri di samping mobil. Lelaki yang tak asing di mata Nuril.


'' Assalamualaikum,'' sahut Risda seraya mengangguk kecil. Harsa tertawa menyadari ia yang lupa mengucap salam.


'' Wa'alaikumussalam,'' jawab Harsa sambil melangkah mendekati Risda yang masih berdiri di samping Nuril yang menatap waspada pada lelaki yang menghampiri istrinya.


'' Kenalin Sa, suami ku ,'' ucap Risda memperkenalkan sang suami pada temannya itu. Nuril tersenyum seraya mengulurkan tangan.

__ADS_1


'' Nuril ,'' lelaki itu memperkenalkan diri,Harsa menyambut uluran tangan tersebut .


'' Harsa,teman Risda,'' ujar Harsa yang menatap Nuril dengan tatapan menilai.


'' Ikut kerja di sini Mas ?,'' tanya Nuril dengan sopan.


'' Gak, cuma ikut investasi saja. Mas nya sendiri kerja dimana ?,'' tanya Harsa masih dengan tatapan menilai dari sudut matanya.


'' Kerja serabutan saja Mas,'' jawab Nuril. Harsa tampak tersenyum miring.


'' Lulusan universitas mana ?, di kantorku sedang ada lowongan bagian staf. Bisalah nanti saya masukkan,'' ucap Harsa yang terdengar sombong dari nada bicaranya.


'' Beruntung sekali anda mendapatkan Risda, yang cerdas, baik dan tentunya cantik. Berpendidikan tinggi dan berwawasan luas,'' puji Harsa, Risda tampak menahan diri untuk tidak meledak pada lelaki itu. Nuril masih memasang senyum di bibirnya, sambil menyahut.


'' Tentu saja, saya orang yang sangat beruntung mendapatkan Risda menjadi pendamping saya,'' sahut Nuril sembari merangkul pundak sang istri dan menatapnya dengan penuh cinta.


Risda tersenyum lembut menyambut sang suami dengan melingkarkan tangan di pinggang lelaki itu. Dan membalas tatapan suaminya dengan tatapan mendamba.


'' Dan aku lebih beruntung, memiliki imam seperti bang Nuril. Lelaki bertanggung jawab,yang memiliki akhlak luar biasa dan tahu menempatkan diri,'' telak Risda,Harsa yang melihat pemandangan di hadapannya di buat panas sendiri.

__ADS_1


Niat Harsa menjatuhkan Nuril ternyata justru membuat dirinya kepanasan. Tampak nafas Harsa yang naik turun dengan wajah memerah. Lelaki itu menahan amarahnya yang siap meledak.


Nuril mengangkat sebelah tangannya, melihat jam yang tersemat di pergelangan tangan.


'' Sayang, abang berangkat dulu,udah siang,'' pamit Nuril yang kemudian menyematkan kecupan di pelipis sang istri. Harsa yang melihatnya hanya bisa mengepalkan tangan dengan wajah mengeras. Terlihat lelaki itu memalingkan wajah, terlalu memuakkan pemandangan yang sengaja di perlihatkan sepasang suami istri itu.


'' Ya udah ,abang hati-hati,'' sahut Risda dengan melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang sang suami.


'' Iya, adek juga hati-hati, jangan nakal,'' ucap Nuril, jarinya menjawil hidung mancung istrinya.


'' Assalamualaikum,'' sambung Nuril sembari naik ke atas motor dan menstarter untuk menghidupkan mesin motornya.


'' Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,'' jawab Risda yang kemudian melambaikan tangan,saat suaminya melaju meninggalkan area parkir tempat les.


Harsa hanya bisa tersenyum kecut, tak ada lagi cela untuk dirinya masuk dalam kehidupan Risda. Mungkin saatnya ia untuk menyerah. Tapi rasanya ia belum rela. Bagaimana mungkin ia yang notabene lebih muda,kaya,dan ketampanan pun tak kalah jauh dengan Nuril, harus kalah dalam mendapatkan seorang Risda.


'' Aku masuk dulu Sa,'' suara Risda menyadarkan Harsa yang sedang berkelana dalam pikirannya sendiri.


'' Iya,aku juga mau langsung ke tempat kerja,''sahut lelaki itu dengan seulas senyum. Risda hanya mengangguk kemudian melangkah meninggalkan Harsa yang masih menatap punggung Risda yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


'' Apa yang kamu lihat dari Nuril ,Ris ?,'' tanya Harsa yang merasa tak rela dirinya kalah oleh seorang Nuril.


__ADS_2