Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Bibit Pelakor


__ADS_3

Suara ketukan pintu terdengar di rumah Yuna. Wanita itu tampak masih nyaman di balik selimut tebalnya ,meski matahari sudah terlihat meninggi.


'' Assalamualaikum,'' suara salam membuat wanita itu merasa terusik.


'' Siapa sih pagi-pagi,'' gerutu Yuna seraya menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur. Lagi,suara ketukan pintu terdengar dari pintu utama rumahnya,disertai salam dari seseorang di luar sana.


'' Assalamu'alaikum,'' seru seseorang yang mengganggu paginya.


'' Ya , Wa'alaikumussalam,'' sahut Yuna sembari melangkah ke arah pintu. Di bukanya daun pintu dan wajah cemberut wanita itu berubah sumringah saat melihat siapa tamunya.


'' Kamu Ril,aku pikir siapa, masuk !,'' pinta Yuna, Nuril yang melihat penampilan wanita di hadapannya hanya bisa membuang muka. Baju tidur yang di kenakan wanita itu terlalu seksi. Terusan tanpa lengan dengan potongan bagian dada yang rendah serta panjangnya yang hanya di atas lutut , memperlihatkan paha mulus.


'' Ehm,'' suara deheman seorang wanita,dan muncul dari belakang Nuril, Risda yang tampak menghela nafas melihat penampilan wanita di hadapannya.


'' Pagi mbak ,'' sapa Risda dengan senyum di paksakan. Yuna tampak mengernyit melihat wanita berjilbab dengan pakaian over size yang menutupi lekuk tubuh.


'' Maaf mbak , perkenalkan saya Risda, istrinya bang Nuril ,'' tutur Risda sembari mengulurkan tangan. Dengan enggan Yuna menerima uluran tangan tersebut.


'' Yuna ,'' sambut Yuna singkat. Wanita itu tampak mengalihkan pandangannya, menatap ke arah Nuril yang sedang menunduk berpura-pura sibuk dengan ponsel di tangannya.


'' Oh ya Ril,mau ambil motor ?. Masuk aja dulu,aku ambilin kuncinya,'' ucap Yuna yang tampak lebih bersemangat saat mengajak Nuril berbicara.


'' Makasih mbak,tapi udah kesiangan nih. Bang Nuril masih harus nganterin aku juga,'' jawab Risda. Yuna tampak mendengus kesal.

__ADS_1


'' Kenapa harus diantar ?, jadi wanita itu harus mandiri, jangan apa-apa ngerepotin suami,'' ketus Yuna yang tentu saja membuat Risda harus menghela nafas dalam.


'' Wanita harus mandiri itu kalau gak ada pasangan buat manja-manja mbak, kalau ada suami ya harus manja dong,biar suami merasa keberadaannya di butuhkan. Ya gak Yang ?,'' ucap Risda dengan sikap genitnya tersenyum menggoda sang suami. Membuat Nuril tersenyum lebar ,dan mengusap lembut kepala istrinya sembari menyahut. " Iya sayang .''


Yuna di buat melengos dengan kemesraan pasangan di hadapannya.


'' Tunggu sebentar,aku ambilin kunci,'' ucap Yuna dengan wajah kecutnya. Risda mengangguk seraya menampilkan senyum di bibirnya.


Setelah Yuna menghilang dari penglihatan sepasang suami istri itu. Risda menatap sang suami dengan tatapan sinis.


'' Pagi-pagi udah disuguhin pemandangan kayak gitu. Vitamin ya bang ?,'' ketus Risda pada suaminya. Nuril tersenyum melihat tingkah Risda yang sedang merasa cemburu.


'' Gemes banget sih, istri abang kalau cemburu gini,'' ucap Nuril sembari memencet hidung istrinya, membuat wanita itu memanyunkan bibirnya . Nuril meraih pundak Risda dan mendekapnya dengan erat. Lelaki itu menunduk dan berbisik di dekat telinga istrinya.


'' Abang ih, genit," ketus Risda , Nuril tertawa kecil sembari mendekap tubuh sang istri dari samping.


Tanpa di sadari sepasang suami istri yang sedang mengumbar kemesraan itu,ada sepasang mata yang menatap penuh kebencian kepada mereka. Kedua tangannya mengepal erat, wajahnya tampak merah padam. Gemuruh dadanya meluapkan kemarahan.


Setelah mampu meredam emosi yang membuncah, Yuna menghampiri sepasang suami istri yang masih menunggu di teras rumahnya. Nuril masih merangkul pundak sang istri saat Yuna kembali ke teras.


'' Ini kuncinya,'' Yuna menyodorkan kunci pada Nuril namun Risda yang mengambilnya dengan cepat.


'' Makasih ya mbak. Oh iya biaya servisnya habis berapa mbak ?,'' tanya Risda yang sudah kembali dengan mode lembut yang terlihat sekali jika di paksakan.

__ADS_1


'' Gak usah,gak seberapa kok,'' jawab Yuna sambil mengibaskan tangan.


'' Gak gitu dong Yun, aku udah ngerepotin kamu masa kamu juga yang bayar,'' Nuril yang sedari tadi diam ikut bersuara.


'' Gak apa-apa kok Ril , beneran,'' sahut Yuna dengan suara lembut dan senyum lebar. Membuat hati Risda tersulut api cemburu lagi. Tanpa berucap, Risda mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam tas selempang yang di pakainya.


'' Makasih mbak,tapi saya tidak mau berhutang budi,'' ujar Risda seraya menyalami Yuna dan menjejalkan uang tersebut dalam genggaman tangan wanita itu. Yuna mengeratkan genggaman tangannya. Nafasnya tampak memburu menahan emosi yang siap menggelegak.


'' Duluan ya Mbak, permisi,'' ucap Risda sembari menarik tangan Nuril menunju samping rumah, dimana motor milik sang suami terparkir.


'' Makasih ya Yun,'' ujar Nuril seraya tersenyum dan mengangguk kecil,Yuna membalas dengan senyum tipisnya.


Risda menyeret langkah suaminya dengan cengkeraman tangannya yang cukup kuat. Tapi tidak menyakiti lelaki itu, melainkan membuat Nuril tersenyum melihat kelakuan sang istri. Ia tak menyangka wanitanya begitu tangguh mempertahankan miliknya.


'' Apa senyum-senyum, seneng diperhatiin wanita seksi ?,'' tanya Risda dengan wajah cemberut. Nuril menangkup wajah sang istri dan mengecup bibir istrinya sekilas.


'' Abang seneng lihat adek gak gampang terintimidasi. Ternyata istri abang garang,'' ucap lirih Nuril di samping telinga istrinya. Risda mencebikkan bibir, seraya memberikan helm pada suaminya.


'' Bibit pelakor tuh harus di basmi,''ketus Risda.


'' Iya sayang ku,tenang suamimu ini gak gampang tergoda,'' jawab Nuril seraya memakai helm di kepalanya. Risda hanya mengangkat bahu,acuh.


Nuril memakaikan helm di kepala sang istri, kemudian ia naik ke atas motor diikuti istrinya. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Saat melewati samping teras ternyata Yuna masih berdiri di sana. Nuril menganggukkan kepala sebelum melesat meninggalkan rumah wanita yang menatap kepergian mereka dengan tatapan kesal.

__ADS_1


__ADS_2