Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Godaan Setan Terkutuk


__ADS_3

Sebuah rumah bercat putih bersih, tampak seperti bangunan baru. Nuril berhenti di depan rumah berlantai dua itu . Kemudian ia mengambil ponsel dalam saku jaketnya. Memastikan alamatnya tidaklah salah.


Yakin dengan alamat yang di datanginya. Nuril turun dari sepeda motor, berjalan ke arah pintu utama yang tertutup rapat. Lelaki itu melangkah mendekati pintu, mengetuknya beberapa kali seraya mengucap salam.


'' Assalamualaikum, permisi,'' seru Nuril. Tak ada sahutan yang terdengar dari dalam sana. Sepi, seperti rumah tak berpenghuni.


'' Assalamualaikum,'' tambah Nuril dengan ketukan pintu yang sedikit dikeraskan.


'' Wa'alaikumussalam, sebentar,'' suara seorang wanita menjawab salam dari Nuril. Tak berapa lama suara pintu terbuka. Muncul seorang wanita cantik dengan pakaian seksi.


''Permisi Mbak, benar ini kediaman ibu Yuna ?,''tanya Nuril pada wanita berdada besar yang hanya mengenakan tank top ketat berwarna hitam,di padu hot pants super pendek.


'' Ya, kamu Nuril kan ?,'' tanya wanita itu sembari memicingkan mata. Nuril tampak mengernyit, mengamati wajah bermake up tebal di hadapannya.


'' Iya,kamu ?,'' tanya Nuril yang belum mengenali wanita di hadapannya. Kerutan di kening Nuril menandakan lelaki itu belum mengenali wanita tersebut.


Wanita itu mengulurkan tangannya, dengan sedikit ragu Nuril menyambut uluran tangannya.


'' Yuna Aryani, alumni SMA negeri 6,'' ucap Yuna dengan senyum terkembang. Nuril membelalakkan mata,tak menyangka wanita di depannya adalah teman sekelas yang dulu terlihat kalem dan bisa di katakan cupu.


'' Yuna ?,beda banget,'' ucap Nuril,Yuna tergelak seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan.


'' Gimana ?,'' tanya wanita itu dengan wajah centilnya . Seraya mengerling ke arah Nuril. Membuat lelaki itu merasa kikuk sendiri. Hingga ia membuang pandangannya.

__ADS_1


'' Oh ya,kamu ada perlu apa ?,'' tanya Yuna yang belum menanyakan kepentingan Nuril berada di rumahnya.


'' Kemarin temenku Januar minta aku buat masang instalasi listrik,'' terang Nuril.


'' Oh,iya itu listrik bagian belakang belum terpasang. Maklum rumah baru,ya udah yuk masuk !," ajak Yuna, Nuril menoleh sekitar, tampak sepi. Ia merasa tak enak harus berada satu rumah dengan wanita yang berpakaian cukup berani itu.


'' Sepi Yun ?,'' tanya Nuril saat mengekor di belakang Yuna dan tak mendapati penghuni lain.


'' Aku tinggal sendiri,'' sahut Yuna seraya berbalik dan menatap Nuril dengan senyum manja di bibirnya.


'' Oh,'' hanya itu yang keluar dari bibir Nuril karena semakin merasa tak enak berduaan dengan wanita bukan mahramnya.


'' Duduk dulu Ril,aku bikinin minum,'' titah Yuna yang diangguki Nuril yang kemudian duduk di sofa yang berada dalam ruang tamu tersebut.


Beberapa kali Nuril menghela nafas dalam. Rasanya semakin tidak nyaman saja. Langkah kaki dari dalam terdengar semakin mendekat. Nuril menyimpan ponsel di atas meja. Tak lama Yuna keluar dengan nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring brownies.


'' Minum dulu Ril,'' tawar Yuna sembari meletakkan secangkir teh di hadapan Nuril. Nuril hanya mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya.


'' Makasih,'' jawab Nuril seraya mengambil cangkir dan meminumnya.


'' Cicipin brownies nya Ril,buatan aku sendiri lho,'' ujar Yuna. Nuril benar-benar di buat mati kutu dengan pemandangan di hadapannya. Paha mulus terpampang nyata. Ia hanya berharap semoga tak ada setan yang melintas dan mempengaruhi pikirannya.


Nuril mengambil sepotong kue,dan memasukkan ke dalam mulut. Berusaha mengalihkan pandangan dari paha putih di hadapannya.

__ADS_1


'' Enak gak ?,'' tanya Yuna yang tak lepas dari wajah Nuril yang berusaha terus tertunduk. Nuril mengangguk sembari mengunyah.


'' Enak,'' jawabnya singkat. Yuna tersenyum tipis,ia bisa melihat kecanggungan di wajah lelaki tampan itu.


'' Gimana kabar kamu Ril ?, lama ya gak pernah ketemu. Terakhir ketemu itu pas perpisahan ya ,'' ucap Yuna yang berusaha mencairkan suasana.


'' Alhamdulillah baik, kamu sendiri ?,'' Nuril balik bertanya sembari mengangkat wajah,dan alhasil tatapan matanya melewati gunung kembar yang hanya terbungkus tank top ketat. Dia lelaki normal yang bisa saja khilaf. Apalagi terpampang jelas di hadapannya pemandangan yang bisa saja mengundang hasrat kelelakiannya.


'' Bisa di bilang baik,bisa gak sih. Aku baru bercerai dari mantan suamiku,'' jelas Yuna yang semakin membuat Nuril risih.


''Oh,ini yang mau di pasang sebelah mana ya ?,'' tanya Nuril yang ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya.


'' Santai dulu lah,gak banyak kok. Tinggal beberapa titik aja,'' terang Yuna yang kini menyilang kan kaki. Semakin mengekspos pahanya. Nuril sedikit menahan geram, rasanya ingin sekali ia segera keluar dari rumah itu .


''Sorry Yun, tapi sore aku ada janji sama orang. Jadi lebih baik cepat-cepat di selesaikan ,'' tutur Nuril. Ia hanya ingin segera keluar dari rumah itu. Dan membersihkan matanya yang ternoda oleh pemandangan di hadapannya.


'' Ya udah,ayo aku tunjukkin yang harus di pasang,'' ucap Yuna seraya berdiri dan berjalan melenggak-lenggok di hadapan Nuril. Membuat lelaki itu membuang nafas kasar dan memalingkan wajah.


Sampai di dekat sebuah kamar dengan pintu setengah terbuka. Nuril di buat terperangah dengan suara aneh dari dalam sana. Yuna yang berada di depannya segera membalikkan badan sambil menutup mulut. Wanita itu tersenyum canggung.


'' Sorry,'' ucapnya sembari lari masuk ke dalam kamar.


Nuril menggelengkan kepala,ia merasa sedang di permainkan okeh setan-setan yang berseliweran di dekatnya. Benar-benar godaan setan terkutuk.

__ADS_1


__ADS_2