Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Kesal


__ADS_3

" Sorry Ril, maklumlah ya, namanya juga janda. Daripada jajan kan,'' ucap Yuna seraya terkikik. Nuril hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala.


'' Namanya juga kebutuhan Ril,'' tambah Yuna sambil terus melangkah ke arah ruang belakang.


Nuril tak menanggapi,ia sudah cukup merinding mendengar suara horor dari kamar Yuna. Yang ternyata adalah video panas yang tadi sedang di tonton wanita itu. Bisa di bayangkan apa yang sedang janda muda itu lakukan sembari menonton video tak senonoh .


'' Oh ya Ril, ngomong-ngomong kamu udah nikah belum ?,'' tanya Yuna saat mereka sampai di sebuah ruangan yang sepertinya adalah bangunan tambahan yang baru selesai di bangun.


'' Udah,bulan kemarin,'' sahut Nuril dengan mata berkeliling menatap sekeliling. Ia tak mau matanya terus ternoda oleh pemandangan laknat dari wanita di dekatnya.


'' Wah pengantin baru ya,lagi hot-hot nya dong,'' ujar Yuna dengan nada menggoda. Nuril hanya tersenyum tipis.


''Ini ruangan yang mau di pasang instalasi ?,'' Nuril memastikan untuk mengalihkan pembicaraan. Ia tak suka obrolan yang menjurus hal berbau keintiman.


'' Iya,ini rencananya buat dapur kotor sama,ada kamar mandi. Jadi nanti pasang sakelar di sana,'' tunjuk Yuna seraya menunjuk dinding dimana ia ingin saklar di pasangkan. Nuril mengikuti arah telunjuk Yuna terarah. Lelaki itu mengangguk paham.


'' Terus satunya lagi di dekat pintu keluar,'' tambah Yuna dengan menunjuk pintu belakang rumah.


'' Satu lagi di dekat pintu kamar mandi. Di luar aja saklar nya biar sebelum masuk lampu sudah di nyalakan,'' imbuh wanita itu, Nuril mengangguk-angguk paham.

__ADS_1


'' Sakelar sama kabelnya mana ?,'' tanya Nuril yang sedang meletakkan tas berisi peralatan miliknya.


'' Hah ?,'' wanita itu bengong, membuat Nuril menatap heran.


'' Kenapa ?,'' tanya Nuril yang melihat wajah Yuna yang tampak tak paham.


'' Jadi kabel aku yang beli ?,'' pertanyaan konyol yang meluncur dari bibir wanita berbadan sintal itu.


'' Ya iya dong,aku kan cuma masang,''jawab Nuril yang membuat Yuna menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal .


'' Maaf Ril aku gak tau,aku belum beli. Gimana kalau kita beli bareng sekarang. Biar aku gak salah juga belianya,'' ucap Yuna memberi ide yang membuat Nuril menghela nafas panjang.


'' Kamu belanja dulu deh, besok tinggal aku kamu kabarin lagi kalau sudah siap,'' sahut Nuril yang sedikit kesal. Sudah harus menahan pandangan dari pemandangan tak seharusnya. Mendengar suara laknat dari kamar janda muda. Dan sekarang ia harus pergi bersama. Rasanya tidak.


'' Oke kamu tunggu aku ganti baju dulu,'' pamit Yuna seraya berlari melesat meninggalkan Nuril yang kini memijit pangkal hidungnya yang terasa pening.


Berjalan dengan langkah panjangnya, Nuril keluar dari rumah yang terasa panas untuknya. Ia memilih duduk di teras depan. Beberapa kali tampak lelaki itu membuang nafas, ingin sekali ia segera pergi dari rumah itu.


Tak berselang lama,suara pintu terbuka, keluar Yuna dengan celana jeans ketat panjang dan tank top yang kini tertutup jaket.

__ADS_1


'' Yuk Ril,'' ajak wanita itu sambil menyampirkan tas di bahunya. Nuril beranjak dari duduknya, tanpa sepatah kata lelaki itu naik ke atas motor.


'' Sorry Yun, kamu duduknya jangan gitu dong, miring aja,'' pinta Nuril yang tak nyaman dengan Yuna yang duduk menghadap ke depan. Ia tak mau punggungnya terhimpit dada Yuna saat harus mengerem motor.


'' Oh oke,'' jawab Yuna yang kemudian mengubah posisi duduknya. Tangan wanita itu hampir saja mau melingkar di perut Nuril sampai lelaki itu kembali memperingatkan.


'' Pegangan jaket aja,'' ucap Nuril, sambil menghidupkan mesin motor. Yuna tampak kesal, wanita itu sepertinya tersinggung dengan penolakan lelaki itu.


'' Segitunya kamu,'' gumam Yuni kesal.


'' Sorry Yun, ada hati yang harus aku jaga. Seharusnya juga aku gak pergi sama kamu. Tapi aku sekedar menghargai pertemanan kita,'' ujar Nuril sembari melajukan motornya.


'' Gebetan baru Yun ?,'' pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir seorang ibu yang sedang mengasuh anaknya. Dan sialnya wanita di belakang Nuril hanya tertawa menanggapi.


Hampir di sepanjang perjalanan keluar dari area perumahan Yuna pertanyaan senada yang ia dengar,dan menyebalkan nya, meski tak mengakui Yuna tak mengklarifikasi.


Sampai di toko yang menjual alat-alat listrik, Nuril menghentikan laju motornya setelah sepanjang perjalanan tak ada percakapan di antara mereka. Nuril cukup di buat dongkol oleh teman masa SMA nya itu.


Ia bergegas masuk ke dalam toko, diikuti Yuna di belakangnya.

__ADS_1


'' Ril,kon jadi kayak kesel sih kamu,'' ucap Yuna yang merasa Nuril berubah dingin, dengan wajah acuhnya.


'' Gak kok,'' sahut Nuril seraya mendekati sebuah etalase. Ia tak ingin membahas apapun,ia hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang bertemu sang istri tercinta.


__ADS_2