
Risda duduk termenung di atas tempat tidurnya. Menunggu sang suami yang sedang membersihkan diri di kamar mandi. Hati wanita itu dilanda resah. Bagaimana tidak ?. Siang tadi mereka berkumpul di kediaman orang tuanya. Seperti layaknya lebaran tahun-tahun sebelumnya. Mereka berkumpul untuk halal bihalal bersama keluarga besar.
Namun yang beda tahun ini adalah dirinya yang tak lagi sendiri. Pandangan merendahkan dan ucapan nyinyir dari beberapa orang yang tidak menyetujui pernikahan mereka membuat panas telinga.
Nuril masuk ke dalam kamar sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya. Lelaki itu tersenyum melihat sang istri yang duduk melamun dengan wajah cemberut. Seakan tak menyadari kedatangan dirinya di dalam kamar.
Nuril berjalan mendekati ranjang dan mengusap kepala Risda , membuat wanita itu menengadah dan bertemu tatap dengan sang suami.
" Kenapa ?," lembut Nuril sembari duduk di samping Risda. Wanita itu merangsek ,duduk menempel pada sang suami dan memeluk perut rata Nuril.
" Maaf ya Bang ," ucap Risda yang membuat Nuril mengernyitkan dahi. Lelaki itu mengecup sekilas kening sang istri sebelum menanggapi ucapan istrinya .
'' Ada apa sayangnya abang ?,''
'' Maaf tadi di acara kumpul keluarga banyak keluarga Risda yang nyindir-nyindir abang. Rasanya Risda tuh jadi malas kalau harus kumpul keluarga. Kenapa mereka masih berpikir bahwa tolak ukur sebuah kebahagiaan itu harta ?," kesal Risda. Nuril tersenyum tipis. Menundukkan kepalanya dan mengecup sekilas bibir sang istri yang masih tampak cemberut.
Kemudian lelaki itu membawa wajah sang istri untuk menengadah , menangkup pipi Risda dengan dua telapak tangannya.
__ADS_1
" Istri cantiknya abang, dengerin abang. Jangan kotori hati adek dengan prasangka-prasangka penilaian orang terhadap kita. Biarkan mereka menilai kita seperti apa. Kita tidak punya kewajiban untuk menjelaskan siapa kita. Cukup tetap berbuat baik, jangan putuskan tali silaturahmi,'' ucap Nuril diakhiri dengan sebuah belaian lembut di pipi wanitanya.
Risda tersenyum menatap wajah yang selalu bisa menentramkan hatinya.
'' Terima kasih ,'' ucap Risda dengan tatapan yang begitu dalam pada sang suami.
'' Untuk ?,'' tanya Nuril dengan sebelah alis tebalnya terangkat.
'' Untuk selalu jadi orang yang bisa menenangkan aku,'' sahut Risda. Nuril tersenyum tipis kemudian merengkuh tubuh sang istri dan di bawanya masuk dalam dekapan.
Nuril duduk bersandar di kepala ranjang, dengan sang istri menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu.
'' Hmm ?,'' Risda bersuara tanpa merubah posisi nyamannya berada dalam dekapan sang suami.
'' Kalau uang tabungan Abang gunain dulu buat modal, boleh Yang ?,'' tanya Nuril lembut dengan tangan tak berhenti mengusap kepala istrinya. Risda menegakkan tubuh,duduk bersandar di samping suaminya.
'' Itu kan uang abang ,ya tinggal pakai aja bang,'' ucap Risda sembari menatap Nuril. Lelaki di sampingnya menggeleng dengan dua pasang bola mata itu saking bertaut.
__ADS_1
'' Bukan uang abang, tapi uang kita. Jadi Abang juga butuh pendapat kamu saat mau menggunakannya,'' Risda mengambil telapak tangan sang suami dan mengecupnya. Rasa syukur membuncah di dadanya saat ia merasa begitu di hargai oleh kekasih halalnya itu .
'' Pakai saja bang, Risda setuju,'' ujar Risda disertai senyum lembut. Nuril menangkup telapak tangan sang istri yang sedang menggenggam tangannya.
'' Tapi maaf, mungkin untuk beberapa waktu ke depan Abang gak bisa kasih pegangan uang lebih untuk adek. Usaha baru pasti butuh perjuangan lebih. Abang hanya bisa memberikan nafkah seadanya, kalau ada yang pakai tenaga abang,'' tutur Nuril lembut,Risda tersenyum menenangkan. Kemudian mengecup pipi sang suami.
'' Gak apa-apa bang, insyaallah Risda ikhlas seberapa pun nafkah dari Abang,'' cukup lama dua sejoli itu saling menatap dalam diam. Menyelami rasa lewat tatapan mata. Sampai akhirnya Nuril mendaratkan ciuman lembut di bibir sang istri. Cukup lama keduanya saling mengecap , menikmati sentuhan cinta yang mendebarkan dada.
Sampai Nuril melepaskan pangutannya. Menatap wajah sang istri yang mulai tampak sayu. Nuril menyisipkan helaian rambut Risda ke belakang daun telinga. Mengecup pipi sang istri dan kembali memulai sentuhan yang membuat Risda seakan melayang.
Dalam keheningan malam, sepasang suami istri itu mereguk manisnya cinta dalam buaian rasa yang menggetarkan jiwa. Membawa mereka terbang ke nirwana dan berakhir dengan sebuah rasa yang melegakan raga. Menghempaskan rasa menyisakan kenikmatan dunia.
Setelah percintaan sepasang suami istri itu usai, keduanya membersihkan diri. Kemudian mereka kembali ke kamar. Merebahkan diri di atas ranjang, Risda berada dalam dekapan sang suami. Menikmati usapan lembut di punggungnya hingga mimpi menyambut dalam tidur lelapnya.
Nuril masih terjaga, menatap wajah damai yang terlelap dalam tidur.
'' Maafkan abang,dek. Abang belum bisa adek banggakan di hadapan keluarga adek,'' ucap lirih Nuril dengan tatapan tak lepas dari wajah tenang sang istri.
__ADS_1
''Temani Abang berjuang, tetap di samping Abang seperti apapun keadaan Abang,'' tambah Nuril dengan mata berkaca-kaca. Ia mengecup kening sang istri dengan lembut sebelum akhirnya ikut terlelap di samping istrinya.