Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Harapan Baru


__ADS_3

'' Bang, nanti Risda ada janji keluar sama temen,'' ucap Risda seraya menyodorkan jaket pada Nuril. Lelaki itu merentangkan tangannya, meminta sang istri untuk memakaikan jaketnya. Risda melangkah mendekat dan memasukkan lengan jaket pada lengan sang suami.


" Sama temen kamu yang biasanya ?,'' tanya Nuril dengan tatapan tak lepas dari wajah serius sang istri yang sedang memakaikan jaket di badannya. Risda tampak mengangguk.


'' Iya,masih nyari tempat buat buka les, belum nemu yang cocok,'' jawab Risda seraya memasang resleting jaket. Kemudian wanita itu menepuk bagian dada sang suami seraya tersenyum dan menengadah menatap wajah berseri lelakinya.


'' Udah ganteng, jangan nakal di luar ,'' ucap Risda dengan tatapan tajam. Nuril tergelak, kemudian meraih tengkuk sang istri dan di bawanya merapat pada dirinya. Di kecupnya kening Risda penuh kasih.


'' Udah punya istri paket lengkap gak mungkin nakal di luar, i love you istri,'' ujar Nuril sembari memeluk Risda.


'' I love you too,suami,'' balas Risda setelah Nuril melepaskan pelukannya.


'' Abang berangkat dulu, assalamualaikum,'' Nuril berpamitan, Risda meraih tangan sang suami dan di kecupnya punggung tangan itu.


'' Wa'alaikumussalam , hati-hati bang,'' jawab Risda. Nuril menaiki sepeda motor yang telah siap di halaman. Lelaki itu mengenakan helm di kepalanya. Risda masih berdiri dengan tatapan tak lepas dari sang suami.


Nuril menstarter motor, kemudian berbalik ke arah jalan. Belum keluar dari halaman rumah, lelaki itu menghentikan laju motornya. Menoleh kebelakang di mana sang istri berdiri dengan kening berkerut.


'' Ada yang ketinggalan Bang ? ,'' tanya Risda. Nuril membuka kaca helm, masih menatap lekat wajah sang istri. Risda semakin di buat heran dengan suaminya yang menatapnya cukup lama.

__ADS_1


'' Kenapa Bang ?,'' tambah Risda, Nuril tersenyum sambil menggeleng.


'' Gak ada apa-apa,cuma lagi nyimpen banyak-banyak memori wajah adek biar gak kangen nanti pas lagi kerja,'' tutur Nuril yang membuat wajah Risda tersipu.


'' Abang ih gombal,'' ujar wanita yang tampak menggemaskan dengan pipi merona nya. Nuril tergelak kemudian menarik gas dan melaju seraya melambaikan sebelah tangannya. Risda masih menata kepergian sang suami.


Wanita itu kembali melangkah masuk ke dalam rumah setelah Nuril tak lagi terlihat oleh tatap matanya. Sementara itu sang lelaki melajukan motornya di sepanjang perjalanan kampung yang masih tampak lengang di pagi hari itu. Hidup di pinggiran sebuah kota kecil membuatnya tak pernah mengenal yang namanya macet. Jalanan akan selalu lancar.


Sampai di jalan utama yang sedikit lebih lebar, Nuril menambah kecepatan laju motornya. Sampai ia di sebuah rumah yang terletak di deretan toko-toko yang terdapat di pinggir jalan utama.


'' Assalamualaikum !," seru Nuril yang baru saja turun dari motor.


'' Ini yang sudah di tunggu-tunggu akhirnya datang juga,'' ucap lelaki bernama Fadil teman sekolah Nuril saat mereka masih duduk di bangku SMA.


'' Ada apa ?,'' tanya Nuril.


'' Duduk dulu,'' ajak Fadil,dua laki-laki itu duduk berhadapan di kursi plastik yang tersedia di sana.


'' Jadi gini,ada temenku yang nawarin kerja sama. Dia itu desain interior rumah,dan dia sedang memegang proyek perumahan. Dia ingin untuk perabot berbahan besi kita yang megang. Tapi ya itu kita butuh suntikan modal yang enggak sedikit. Karena dia baru bisa DP setengah,'' tutur Fadil, Nuril tampak mengangguk-anggukan kepala. Kesempatan emas ini sayang untuk di sia-siakan.

__ADS_1


'' Untuk biaya, aku ada sedikit. Nanti bisa buat nambahin. Sayang kalau kita lewatkan kesempatan emas ini,'' ucap Nuril.


'' Tapi kita juga butuh tenaga tambahan buat mengerjakannya,'' sambung Fadil gusar, pasalnya ia sama sekali tidak ada modal. Ia sedang berada di masa sulit. Istrinya baru saja melahirkan anak ke dua mereka. Dan ternyata harus dengan jalan operasi Caesar. Dan bayi mereka lahir dalam keadaan prematur.


'' Nanti kita cari tenaga tambahan,'' ucap Nuril, lelaki itu menepuk pundak teman lamanya itu.


'' Jangan terlalu di khawatirkan,sebisa ku nanti aku bantu. Insyaallah aku masih ada sedikit modal,'' lanjut Nuril yang melihat kegusaran di wajah sang sahabat. Fadil tersenyum, ada harapan ia bangkit lagi dari keterpurukan ini. Hampir semua modal usahanya habis. Untuk biaya rumah sakit,dan perawatan bayinya.


'' Terima kasih ya Ril, Alhamdulillah aku di pertemukan dengan kamu,'' ucap tulus Fadil.


'' Karena Allah mempertemukan kita ,agar kita punya teman untuk sama-sama berjuang,'' ucap Nuril diakhiri senyum lebarnya. Fadil ikut tersenyum sambil mengangguk.


'' Oh ya Ril, temenku mau ngajak ketemu kliennya nanti,bisa kan ?,''tanya Fadil memastikan. Tampak Nuril melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


'' Jam berapa ?,'' tanya Nuril yang hari itu ada janji untuk memasang instalasi listrik .


'' Sore,jam 3 an ,bisa ?,'' Fadil kembali memastikan.


'' Insyaallah aku usahakan. Kalau gitu aku pamit dulu,ada janji sama orang,'' tutur Nuril seraya berdiri dari duduknya. Keduanya berjabat tangan, kemudian Nuril pergi dari sana. Tersemat harapan, semoga kerjasamanya dengan Fadil akan menjadi jembatan rejeki bagi mereka berdua. Rejeki yang telah Allah tetapkan dan semoga menjadi berkah untuk keduanya.

__ADS_1


__ADS_2