Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Gara-gara Sayba


__ADS_3

Kedatangan Nusayba pagi itu menghentikan acara romantisme pagi sepasang suami istri itu. Gadis berparas cantik namun berpenampilan tomboi meski mengenakan jilbab,kini telah masuk ke dalam rumah. Mengekor sang kakak yang setia menggandeng tangan istrinya.


'' Ckckck kayak nyebrang jalan aja gandeng terus ,'' ucap Sayba sembari melewati kakaknya,Risda melepaskan tangan Nuril dan merangkul pundak sang adik ipar dengan senyum yang masih terkembang.


'' Bawa apa dek ?,'' tanya Risda yang melihat tentengan di tangan Sayba.


'' Ah iya sampai lupa mbak,ini titipan dari ibu ,'' ujar Sayba sembari memberikan bungkusan di tangannya pada sang ipar.


'' Masya Alloh,di bikinin semur sama ibu, bilangin terima kasih ya dek. Maaf ya,abang sama Mbak belum sempat berkunjung,'' ucap lembut Risda sembari mengusap lembut bahu sang adik. Nuril yang berada di belakang keduanya tampak tersenyum melihat dua wanita kesayangannya.


'' Iya Mbak,ibu juga ngerti kok. Mbak sama mas Nuril sedang sibuk. Sebenarnya Minggu kemarin rencana ibu mau kesini tapi harus nemenin ayah datang ke acara temannya,''sahut Sayba , mereka masih terus melangkah pelan melewati ruang tamu.


'' Insyaallah, Minggu ini kita bisa berkunjung,'' ucap Risda , mereka telah sampai di ruang makan. Risda meletakkan bawaannya di atas meja.


'' Sayba duduk dulu,kita sarapan bareng,'' lanjut Risda mempersilahkan adik iparnya untuk duduk di kursi ruang makan.


'' Sayba udah sarapan mbak,'' jawab Sayba sembari duduk di salah satu kursi diikuti sang kakak di sampingnya.


'' Gak apa-apa, sarapan lagi. Gak akan bikin kamu gemuk mendadak,'' ujar Risda dengan senyum yang tak luntur. Kemudian beranjak meninggalkan kakak beradik yang masih duduk di ruang makan. Untuk mengambil piring di rak yang terletak di dapur.


'' Gak kuliah kamu dek ?,'' tanya Nuril sembari menuangkan segelas air putih dari teko di hadapannya.

__ADS_1


'' Kuliah siang mas, nanti sekalian dari sini langsung berangkat,'' jawab Sayba yang kini sibuk dengan ponsel di tangannya. Nuril tampak manggut-manggut menanggapi jawaban sang adik.


''Oh iya Bang, Zahra yang dulu mau dijodohin sama Abang sekarang udah hamil empat bulan. Abang kalah saing nih, belum ada tanda-tanda dari mbak Risda ,''ucap Sayba dengan senyum meledek sang kakak. Mendengar ucapan adiknya Nuril langsung melihat arah pintu, takut sang istri mendengar ucapan sang adik yang asal bicara saja.


Nuril menarik daun telinga Sayba dari balik kerudung yang di kenakan gadis itu.


'' Kamu lho dek, kalau ngomong suka gak di filter,'' geram Nuril, Sayba yang merasa tarikan tangan sang kakak pada telinganya, memukul lengan Nuril.


'' Abang ih sakit tau ,'' cemberut Sayba sembari mengusap telinga yang di jewer oleh kakaknya.


'' Makanya kalau ngomong tuh di pikir. Kalau mbak kamu denger, nanti dia berkecil hati. Yang namanya anak itu titipan dari Allah. Kalau Allah belum ngasih itu berarti Allah belum percaya buat menitipkan pada kita. Mungkin Allah melihat mas belum cukup layak untuk menjadi seorang ayah. Sebagai manusia mas cuma busa berdoa dan berusaha,'' tutur panjang Nuril yang diangguki dengan acuh okeh gadis berusia 19 tahun itu .


'' Usaha abang kali yang belum totalitas. Ibu tuh udah pingin gendong cucu tau,'' sambung Sayba tanpa menoleh sang kakak yang menghela nafas. Gadis itu sudah kembali pada ponsel di tangan.


Hatinya terasa sakit, harga dirinya sebagai wanita terluka. Salah dirinya kah jika ia belum mengandung sampai saat ini ?. Pernikahan mereka baru beberapa bulan,tapi ternyata ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa anak adalah hal penting yang harus segera hadir dalam sebuah hubungan pernikahan.


Risda menghirup nafas dalam, mencoba mengendalikan diri agar tak terbawa emosi. Sehingga air mata itu bisa tertahan. Setelah mengusap air mata yang tumpah dengan langkah perlahan,ia masuk ke ruang tamu dengan piring di tangan.


'' Ayo dek sarapan dulu ,'' ajak Risda setelah menuang lauk kiriman sang ibu mertua ke dalam piring. Dan mengambil lauk yang ia masak sendiri.


'' Makasih mbak,wah bisa gemuk dadakan beneran ini mah ,'' ujar Sayba sembari menatap makanan di atas meja,yang cukup menggugah selera selera makan.

__ADS_1


'' Bilangnya tadi sudah sarapan,'' ucap Nuril seraya mengambil piring dari tangan istrinya yang telah diisi dengan nasi yang masih mengepulkan asap.


'' Terima kasih sayang ,'' ujar lelaki itu pada sang istri.


'' Sama-sama abang ,'' sahut Risda, Sayba menimpali sembari mengambil nasi dari penanak.


'' Haduh bisa naik gula darah kalau di dekat kalian terus.'' Bagi Sayba kakak dan iparnya terlihat manis dan romantis. Risda hanya tersenyum tipis.


Nuril yang memperlihatkan wajah sang istri melihat ada perubahan di sana. Wajahnya terlihat sedikit murung dan mata yang sedikit memerah. Dan sepanjang sarapan pagi itu sang istri diam dengan wajah muram.


'' Oh iya bang, hampir lupa. Sayba mampir sekalian mau nganterin undangan ,'' ujar gadis itu seraya mengambil selembar undangan dari dalam tas. Setelah mereka selesai makan dan gadis itu hendak berpamitan pulang.


Nuril menerima undangan dari tangansang adik dan membaca siapa yang hendak menikah.


'' Fida ,'' lirih Nuril yang di sambut anggukan Sayba.


'' Yupzzz, cewek yang ngejar-ngejar mas akhirnya move on ,'' ucap Sayba yang kemudian tertawa. Gadis itu melangkah keluar tidak memperdulikan tatapan horor sang kakak.


'' Sayba pamit ya Mas , mbak . Assalamualaikum ,'' gadis itu mendekati motor miliknya yang terparkir di depan rumah.


'' Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ,'' sahut sepasang suami istri yang menatap kepergian adiknya di teras depan.

__ADS_1


Setelah kepergian Sayba tampak wajah Risda kian murung dan bergegas masuk meninggalkan sang suami yang hanya bisa menghela nafas. Adiknya datang pagi-pagi benar-benar hanya membawa masalah saja.


__ADS_2