
"Sayang!," seru Nuril yang melihat istrinya tak baik-baik saja. Ia melepaskan sepatu seraya berjalan masuk dan melemparkan dengan asal ke arah rak sepatu yang berada di dekat pintu masuk.
" Sayang, tunggu. Abang jelasin,'' ucap Nuril mengejar sang istri yang sudah masuk ke dalam kamar dengan tangan yang mengusap kasar wajahnya. Sudah di pastikan wanita itu sedang menangis.
Langkah terburu Nuril sampai di depan pintu kamar namun belum langkah kakinya masuk ke dalam kamar daun pintu sudah menyambutnya. Nuril hanya bisa menghela nafas panjang.
'' Sayang, dengerin abang dulu,'' tutur Nuril seraya mengetuk daun pintu kamar. Tak ada sahutan namun suara isak tangis terdengar di balik pintu. Nuril berusaha membuka pintu namun ternyata terkunci.
'' Sayang,buka dulu pintunya,abang jelasin,'' suara itu masih terdengar lembut namun tak ada pergerakan dari dalam sana.
Nuril memutar otak agar sang istri mau membukakan pintu,ia tak mau semalaman suntuk sang istri salah paham. Ia pun tak tega mendengar isak tangis dari wanita yang dicintainya. Apalagi sebab air mata itu jatuh adalah dirinya.
'' Sayang abang belum makan, Abang mau di masakin mie. Ini perintah lho sayang,'' mau tidak mau ia menggunakan wewenang sebagai suami. Ia tidak mungkin bisa tidur jika sang istri masih marah padanya.
Terdengar langkah dari dalam kamar,suara kunci di putar dan pintu terbuka lebar. Wanita yang mengikat rambutnya asal-asalan itu tampak sembab dengan wajah cemberut. Bahkan tak ada niat menoleh pada suaminya yang sudah menampilkan senyum lebar. Tanpa menyapa Risda melewati sang suami dan bergegas ke dapur. Mengambil mie instan di dalam lemari kecil yang terdapat di sudut dapur .
Nuril masih mengikuti sang istri yang sama sekali tak menghiraukan keberadaan dirinya. Risda mengambil sebuah panci kecil dan menuangkan beberapa gelas air, kemudian memanaskan di atas kompor. Saat sang istri sibuk membuka bungkus mie instan, Nuril mendekati Risda dan memeluknya dari belakang.
'' Abang minta maaf,abang salah. Jangan nangis lagi,'' ucap Nuril yang justru membuat Risda semakin tergugu. Nuril membalikkan badan sang istri hingga menghadapnya. Lelaki itu menghapus air mata Risda dengan telapak tangannya. Risda belum menyahut, wanita itu tampak tersengal-sengal karena tangisnya. Nuril semakin tidak tahan melihat air mata sang istri,di bawanya wanita itu dalam pelukannya.
__ADS_1
'' Abang minta maaf sayang,'' ucap Nuril seraya mengecup puncak kepala sang istri dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
'' Abang jahat,'' ucap Risda seraya sesenggukan.
'' Iya abang jahat abang minta maaf,'' Nuril hanya bisa mengiyakan sembari terus mengusap lembut punggung sang istri ,tak perduli dengan air di atas kompor yang kini sudah mendidih.
'' Gak ngabarin, pulang diantar perempuan,'' lanjut Risda yang masih berada dalam pelukan sang suami.
'' Maaf abang lupa kasih kabar,tadi ada barang datang,abang sibuk menyusun barang sampai lupa memberi kabar. Soal wanita tadi,dia temen abang,gak sengaja ketemu di jalan. Motor abang mogok, ponsel abang habis baterai. Abang minta maaf sayang,'' sambung Nuril yang masih memeluk istrinya dengan sayang.
Risda melepaskan pelukan suaminya, menatap wajah itu.
'' Abang juga gak tahu sayang, dia temen sekolah abang dulu, kebetulan tadi ketemu pas motor abang mogok,'' terang Nuril, Risda tampak menajamkan penglihatannya. Menatap ke dalam bola mata suaminya. Mencari kejujuran di sana.
'' Bener cuma temen abang ?,'' tanya Risda memastikan. Nuril mengangguk cepat.
'' Bener sayang,abang udah punya istri paket komplit, cantik, pinter solihah. Mau cari apa lagi abang dek ?,'' dua pasang bola mata itu saling menatap dalam. Keduanya seakan menyelami tentang perasaan masing-masing lewat sorot mata itu.
'' Maafin abang ya ,lain kali abang gak akan lalai lagi,''lanjut Nuril.
__ADS_1
''Janji ?,''
'' Insyaallah,'' Nuril kembali membawa tubuh sang istri masuk ke dalam pelukan.
'' Aku udah kepikiran buruk aja tadi,abang sih gak kasih kabar. Udah gitu, udah malem malah mati ponselnya,'' ucap Risda dalam pelukan sang suami.
'' Maaf ya abang udah bikin adek khawatir,'' sahut Nuril yang belum melepas pelukannya hingga beberapa saat.
'' Bang !," suara Risda seperti kaget, reflek wanita itu mendorong tubuh sang suami.
'' Airnya bang,'' seru Risda yang langsung membalikkan badan dan mendapati sir dalam panci tinggal sedikit. Wanita itu langsung mematikan kompor.
'' Udah gak apa-apa sayang, tadi kamu masak apa ?,'' ucap Nuril dengan tenang agar sang istri tidak terlalu panik.
'' Tumis kangkung,sama tahu goreng . Tadi katanya abang pengen di bikinin mie,'' ucap Risda yang masih menatap air hampir mengering di dalam panci. Nuril merangkul pundak istrinya.
'' Udah gak apa-apa,abang makan masakan adek saja. Yuk,adek juga pasti belum makan,'' ajak Nuril sembari menuntun Risda berjalan ke arah ruang makan.
'' Adek duduk saja,'' ucap Nuril seraya mendudukkan sang istri di kursi plastik di ruang makan. Nuril menggantikan istrinya menyiapkan piring , mengambilkan nasi dan juga air putih. Risda tersenyum melihat suaminya yang masih menggunakan jaket itu mondar-mandir di ruang makan demi untuk melayani dirinya.
__ADS_1