Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Kencan Berdua


__ADS_3

Tidak perlu naik jet pribadi atau mendatangi sebuah pulau indah untuk membuat rona wajah bahagia wanita cantiknya. Hanya sebuah danau buatan yang di jadikan tempat wisata. Di kelilingi tebing yang menjulang dengan pepohonan yang menghijau menyejukkan mata.


Sepasang suami istri kini berjalan saling bergandengan tangan. Diantara para pengunjung lain, mereka saling berbincang lirih dan berbagi tawa bersama.


'' Sayang mau naik itu ?,'' tanya Nuril yang kini sedang berjalan di pinggir danau sembari menunjuk perahu di atas air.


'' Naik itu aja yuk bang ,'' Risda menunjuk sepeda air berbentuk bebek.


'' Boleh,adek tunggu di sini. Abang beli tiketnya dulu ,'' Nuril melepaskan genggaman tangan sang istri. Risda menatap hamparan air yang terlihat sedikit keruh karena beberapa kali masih turun hujan .


Dua sejoli itu kini saling berpegangan tangan sambil mengayuh sepeda air. Mengelilingi danau dengan senyum yang enggan luntur dari bibir Risda.


'' Risda pengen sampai kita menua nanti akan selalu ada waktu untuk berdua,'' ucap Risda sembari menoleh dan menatap wajah suaminya dari samping. Nuril membalas tatapan sang istri dengan tatapan lembut kemudian membawa punggung tangan istrinya untuk ia kecup.


'' Insyaallah ,jika Alloh mengijinkan,abang akan mengingatnya dan akan meluangkan waktu untuk kita berdua,''sahut Nuril, gantian kini Risda yang mengecup telapak tang sang suami. Kemudian tersenyum manis , dengan mata tak lepas dari wajah tampan suaminya.


'' Mungkin nanti kita akan lelah, dengan hubungan yang kita jalani ini. Akan bosan dengan keberadaan satu sama lain. Tapi jangan pernah berpikir untuk saling melepaskan. Aku ingin kita menua bersama dan hanya dengan maut kita terpisah,'' ujar Risda sembari menatap hamparan air dengan tatapan menerawang jauh. Nuril menggenggam tangan sang istri lebih erat.


'' Abang tidak pernah berhenti berdoa pada Alloh , semoga adek lah jodoh dunia akhirat untuk abang, menjadi bidadari di dunia dan di surga Nya nanti,'' ujar Nuril dengan senyum terkembang.


'' Aamiin ,'' sela Risda.

__ADS_1


Keduanya terus mengayuh, mengitari bendungan yang cukup luas. Diiringi canda dan tawa sepasang kekasih halal yang sedang menikmati kencan mereka. Pernikahan dengan perkenalan singkat, membuat mereka butuh lebih banyak waktu untuk berdua. Saling mengenal satu sama lain. Mencoba memahami setiap karakter masing-masing.


Dalam sebuah hubungan pernikahan, cinta saja tidaklah cukup. Ada banyak hal yang harus di selaraskan serta diimbangi. Saling mengerti dan memahami. Tak lagi mementingkan ego diri yang bisa saja menghancurkan sebuah hubungan.


Ada tanggung jawab yang tidak hanya di peruntukan di dunia saja. Namun juga sampai akhirat kelak. Saling menjaga dan mengayomi ,saling mengingatkan satu sama lain. Rumah tangga harus seimbang bukan tentang aku dan kamu , namun kita yang berada di dalamnya.


Dan Nuril serta Risda saat ini berada di fase untuk lebih saling memahami diri masing-masing. Memupuk cinta yang tumbuh diantara keduanya. Cinta yang tumbuh saat mereka telah menjadi pasangan halal di hadapan Alloh. Cinta yang diridhoi keberadaannya. Cinta yang semoga mampu mengantarkan mereka pada jannah Nya.


Sepasang suami istri itu kini berada jauh dari tempat mereka memulai mengayuh sepeda air. Saat ini keduanya telah berada di dekat tebing. Mereka menghentikan kayuhan pada pedal sepeda air itu.


Nuril merogoh saku celananya. Sebuah benda melingkar kecil tanpa bungkus apapun di keluarkan lelaki itu. Ia menghadap kan separuh tubuhnya pada sang istri. Meraih tangan istrinya, membuat wanita itu menatap ke arahnya dengan dahi sedikit mengernyit bingung.


'' Abang gak mungkin meminta adek untuk menikah lagi dengan Abang ,karena adek sudah menjadi istri abang. Abang ingin meminta adek bersedia menemani abang hingga kita menua, melewati setiap liku hidup ini sama-sama,'' ucap Nuril sembari meraih jari manis sang istri dan memakaikan cincin emas dengan permata cantik itu. Risda tak mampu menahan haru yang menyeruak dari dalam dadanya.


Risda membolak-balik tangannya setelah Nuril melepaskan genggaman tangan pada sang istri. Ia tersenyum haru, mendapati cincin yang terlihat cantik melingkar di jari manisnya. Dimana seharusnya di sana tersemat cincin pernikahan. Namun saat akad Nuril belum menyiapkan untuk sang istri.


'' Suka ?,'' tanya Nuril saat melihat istrinya yang tersenyum senang menatap jarinya. Wanita itu mengangguk antusias. Nuril tersenyum lega, usahanya tidak sia-sia.


'' Anggap itu cincin pernikahan dari abang. Maaf baru bisa abang belikan untuk adek,'' tutur Nuril.


''Gak apa-apa bang,adek seneng, kapan abang merencanakan ini ?,'' tanya Risda yang merasa ini adalah kejutan yang sangat manis dari sang suami.

__ADS_1


'' Sebenarnya sudah dari minggu lalu Abang pengen ngajak adek keluar. Tapi kita sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan hari Minggu pun Abang masih di sibukkan dengan bekerja. Maafkan abang ya dek,'' ujar Nuril yang tak lepas menatap wajah ayu bidadarinya.


'' Iya bang, Risda ngerti apa yang abang lakukan. Semua yang abang perjuangkan tidak akan sia-sia. Terima kasih sudah selalu sabar dengan sikapku ,'' ucap Risda, Nuril mengusap lembut kepala berbalut kerudung itu.


'' Sama-sama,'' sahut Nuril. Cukup lama mereka berada di ujung bendungan tersebut. Menikmati keindahan tebing yang menjulang di hadapan mereka. Sesekali terlihat Risda bergelayut manja di lengan sang suami. Dan Nuril pun suka mencuri kesempatandengan mengecup sekilas pipi istrinya.


Nuril membawa istrinya kembali ke tepian. Kini keduanya duduk di sebuah cafe, yang terletak di tepi danau. Cafe dengan latar pemandangan alam di sekitar bendungan. Sebab cafe tersebut tidak berdinding, menyajikan pemandangan air bendungan serta panorama indah di sana.


'' Sayang,minum apa ?,'' tanya Nuril pada Risda yang sedang sibuk memindai pemandangan di seberang danau yang tampak hijau dengan tanaman Pinus di ujung atas sana.


'' Jus aja bang,'' sahut Risda tergagap karena pikirannya yang tak terlalu fokus.


'' Jus alpukat untuk istri saya,dan jus jeruk untuk saya mas, makannya apa Yang ?,'' kembali Nuril bertanya pada Risda yang kini sudah terfokus pada sang suami.


'' Aku spaghetti aja bang ,'' jawab Risda,Nuril menutup buku menu dan menatap pelayan lelaki yang sedang menanyakan pesanan kepada mereka.


'' Kalau gitu makanan saya di samakan saja dengan istri,'' tutur Nuril dengan seulas senyum.


'' Baik mas, tunggu sebentar kami siapkan pesanan anda,'' ucap pelayan yang kemudian meninggalkan sepasang suami istri yang duduk bersebelahan .


'' Terima kasih ya bang buat hari ini,'' ujar Risda dengan senyum lebarnya sembari menatap suaminya dengan tatapan berbinar. Nuril tersenyum , kemudian kepala sang istri.

__ADS_1


'' Sama-sama sayang.''


Ternyata membuat senyum bahagia di bibir pasangan membuat kebahagiaan tersendiri di hati Nuril. Di dalam hatinya , lelaki itu berjanji. Akan membuat banyak senyum lagi di bibir sang istri.


__ADS_2