Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Ujian Hidup


__ADS_3

Nuril melangkah dengan cepat seraya menyambar jaket yang tergantung di dekat pintu masuk kamar.


'' Sayang !," panggil Nuril sembari mengenakan jaket dan berjalan keluar kamar. Risda tak terlihat ada di dalam rumah. Satu panggilan tak membuat istrinya menyahut.


'' Sayang !," panggil Nuril kembali.


'' Iya bang , sebentar ,'' sahutan sang istri terdengar dari arah samping rumah. Dengan tergopoh-gopoh wanita berparas ayu itu mendekati sang suami.


'' Ada apa bang ?,''tanya Risda yang kini menatap suaminya yang sedang sibuk memasukkan barang ke dalam tas yang biasa di bawa bekerja. Nuril menatap ke arah sang istri yang berdiri tak jauh dari dirinya.


Lelaki itu berdiri tegak dan menatap dengan seulas senyum tipis yang tercetak di wajah yang tergambar sebuah kecemasan. Risda menyadari ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.


" Ada apa bang ?," tanya Risda lembut seraya tangannya merapikan jaket yang di kenakan sang suami. Nuril tersenyum simpul mengecup kening sang istri dan membawanya dalam pelukan.


" Ada sedikit masalah kerjaan dek, doain abang semua bisa selesai dengan baik-,'' sahut Nuril masih dengan memeluk sang istri. Mencari kenyamanan dalam pelukan wanitanya.


" Pasti bang, Risda pasti mendoakan yang terbaik bang ,'' jawab Risda,Nuril mendekap lebih erat tubuh istrinya dan mengecup berkali-kali kepala sang istri.

__ADS_1


" Terima kasih sayang ," ucap Nuril yang hanya di sahut dengan anggukan oleh Risda.


Nuril melepaskan pelukannya, membelai sejenak pipi Risda, menatap sang wanita dengan tatapan penuh cinta.


" Terima kasih, sudah sabar mendampingi Abang ," tutur Nuril. Risda tersenyum manis mengangguk kecil dan berjinjit untuk mendaratkan sebuah kecupan di pipi sang suami.


" Semua bakal baik-baik saja bang, kembalikan semua pada sang pemilik hidup," tutur lembut sang istri yang tersenyum lembut. Membawa kedamaian yang menelusup dalam bilik hatinya. Nuril mengangguk,dan sekali lagi memeluk wanitanya sebelum akhirnya berpamitan.


" Assalamualaikum , Abang berangkat ," kata yang terucap dari bibir lelaki yang kini sudah berada di atas motor miliknya. Risda tersenyum seraya menyahut.


Nuril mengangguk, dengan sisa senyum di bibirnya Nuril meninggalkan sang istri yang masih mengiringi kepergian sang suami dengan tatapan mata.


" Semoga masalahnya bisa terselesaikan dengan baik. Ya Alloh mudahkan persoalan suami hamba,Ya Rabb", ucap Risda, berharap pertolongan dari sang maha penolong.


Wanita itu melangkah meninggalkan halaman rumah saat tak lagi terlihat sang suami yang telah menjauh. Dengan sebuah doa keselamatan yang di panjatkan sang istri dalam hatinya.


Nuril dengan gelisah yang tak bisa di hindari hatinya,menyusuri jalanan yang tampak lengang. Ia melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Ada banyak kecamuk rasa yang menghampiri benaknya. Ia baru saja memulai usaha dengan temannya dan kini saat ia telah mempertaruhkan semua tabungan yang di milikinya,ia di hadapkan pada kenyataan yang cukup membuat khawatir.

__ADS_1


Sesampainya Nuril di tempat kerja, lelaki itu telah di sambut wajah cemas sang sahabat. Dengan tergopoh-gopoh,Fadil menghampiri Nuril yang sedang memarkirkan motornya. Nuril yamg melihat mimik wajah tegang sang sahabat segera melepas helm dan turun dari motor.


" Ril !," ucap pertama yang keluar dari mulut Fadil saat Nuril telah berada di hadapannya.


" Assalamualaikum Dil," balas Nuril tenang ia bisa melihat kecemasan tergambar jelas di raut wajah lelaki di hadapannya.


" Wa'alaikumussalam Ril," sahut Fadil seraya mengusap kasar wajahnya. Nuril berusaha tetap tenang dengan senyum terukir di bibirnya.


Lelaki itu meraih pundak sang sahabat dan membawanya duduk di sebuah kursi yang terletak di sana.


" Tenang dulu Dil,duduk dulu ," titah Nuril , Fadil mengikuti perintah sang sahabat. Nuril meninggalkan Fadil dan berjalan menuju ruang yang biasa mereka gunakan untuk istirahat.


Di sana terdapat dispenser, Nuril mengambil dua sachet kopi susu yang biasa tersedia di sana. Menyeduhnya dalam dua cangkir. Aroma kopi sachet murahan menguar dari asap yang mengepul. Seraya mengaduk kopi dalam cangkir, tampak lelaki itu menghirup nafas dalam. Tatapan matanya tampak menerawang. Namun sesaat kemudian terlihat ia mampu menguasai keadaan.


" Bismillahirrahmanirrahim ," lirihnya sembari mengangkat nampan dengan dua cangkir diatasnya.


" Hamba percaya atas segala takdir Mu ya Alloh," batinnya seraya melangkah. Mencoba menenangkan hati yang gelisah. Mengembalikan segala sesuatunya kepada sang pemilik kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2