
Sebulan berlalu, rumah tangga sepasang suami istri itu semakin tampak romantis dengan di bumbui keributan kecil yang membuat keduanya lebih saling memahami.
'' Sayang, hari ini Abang pulang agak sore ya. Setelah mengecat rumah pak Feri abang mau ketemu temen abang dulu,'' ucap Nuril saat berpamitan pada sang istri. Sepasang suami istri itu sedang berada di teras rumah. Tampak Risda sedang merapikan jaket yang di kenakan sang suami.
'' Iya Bang,oh iya bang. Risda mau ijin,hati ini mau ketemu temen di luar,boleh ?,'' tanya Risda seraya menatap penuh harap pada sang suami. Nuril tersenyum tipis, kemudian mengusap lembut pipi istrinya.
'' Boleh sayang,'' jawab Nuril. Lelaki itu meraih kepala sang istri dan menyematkan sebuah kecupan di kening wanitanya.
'' Abang berangkat dulu,'' ucap Nuril, Risda meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangan tersebut.
'' Hati-hati bang,'' ujar Risda melepas kepergian sang suami.
'' Iya, adek juga hati-hati. Nanti perginya gimana ?, temennya jemput atau pakai angkot ,'' tanya Nuril yang sudah duduk di atas motor.
'' Di jemput sama Lisna bang,'' jawab Risda.
''Ya sudah abang berangkat dulu,'' pamit Nuril yang kemudian memakai helm dan menstarter motor miliknya.
Risda menatap kepergian sang suami hingga hilang dari penglihatannya. Baru wanita itu melenggang masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Selalu ada syukur yang tersemat di hati seorang Risda. Kehadiran Nuril dalam hidupnya adalah sebuah pelangi yang terasa begitu indah dengan berbagai warna yang berbeda. Ada banyak hal baru yang di rasa menjadi sebuah warna baru di hidupnya.
Tok tok tok
'' Assalamualaikum ,'' seru seseorang mengucapkan salam dari arah pintu utama.
'' Wa'alaikumussalam, sebentar,'' sahut Risda yang sedang berkutat di depan kaca. Ia sedang memakai peniti di jilbab yang ia kenakan. Dengan secepat kilat wanita itu meraih tas yang tergantung di balik pintu.
Berjalan dengan dengan sedikit berlari. Ia segera membuka pintu untuk sang sahabat yang sudah menunggunya.
" Hay,sorry jadi nunggu," ucap Risda saat membuka pintu dan mendapati wajah Lisna. Lisna tersenyum dan melongok untuk melihat ke dalam rumah baru yang di tempati sahabatnya bersama sang suami.
" Mau mampir ?," tawar Risda yang melihat sahabatnya yang sedang melihat-lihat keadaan ruang tamunya.
" Gak,lain kali aja," jawab Lisna seraya mundur dan kini menatap sang sahabat yang berdiri di sampingnya.
" Kamu yakin betah tinggal di sini ?," tanya Lisna yang di sambut senyum dan anggukan dari Risda.
" Insyaallah betah. Gak ada alasan buat aku gak betah tinggal di sini Lis," sahut Risda. Lisna tampak mangut-mangut , namun dengan mata yang masih mengamati bagian teras rumah Risda.
__ADS_1
'' Lis, Kenapa ?," tanya Risda yang melihat Lisna tak kunjung beranjak.
'' Ini rumah suami kamu atau masih ngontrak?,'' tanya Lisna yang menganggap rumah sang sahabat terlalu kecil dan kelewat sederhana.
'' Alhamdulillah ini milik suami aku,dan di beli cash dengan hasil keringat beliau," sahut Risda dengan nada bangga dan seulas senyum yang manis.
'' Sorry ya Ris, kalau aku nyinggung kamu. Tapi kamu gak salah pilih ?, jelas-jelas Harsa lebih kaya lho di banding suami kamu. Kok kamu malah nolak dia dan lebih milih suami kamu yang yah...,'' ungkap Lisna yang jelas sekali mimik wajahnya merendahkan Nuril. Risda masih berusaha tersenyum,ia sudah cukup paham dengan mulut pedas sang sahabat.
Risda merangkul pundak sang sahabat dan di bawanya melangkah meninggalkan teras rumah.
'' Kamu tau kenapa aku lebih milih Bang Nuril ?," tanya Risda seraya melangkah menuju mobil yang terparkir di sisi jalan di depan rumahnya. Lisna tampak menaikkan alisnya .
'' Karena dia tidak mengandalkan orang tuanya,Bang Nuril berusaha dengan kemampuan dia sendiri. Dan itu adalah bentuk tanggung jawab seorang lelaki yang tidak perlu kita ragukan. Sedang Harsa,dia memiliki yah, katakan lah segalanya tapi itu milik orang tuanya. Bahkan kita tidak tahu bagaimana ia bisa memiliki pekerjaan yang mentereng itu saat ia baru saja lulus kuliah,'' ucap Risda , keduanya telah berada di samping mobil berwarna kuning yang terparkir manis di sana.
'' Tapi apapun itu, jelas hidup kamu lebih terjamin jika kamu bersama Harsa,'' ujar Lisna sambil menarik pintu mobil untuk membukanya. Risda pun melakukan hal sama di sisi pintu yang lain.
'' Mungkin,tapi aku juga gak bisa menjamin apa aku akan sebahagia sekarang, jika aku bersama dia ?. Doakan saja temanmu ini selalu bahagia. Kamu tahu aku bahagia banget karena Allah menggariskan ku berjodoh dengan Bang Nuril. Dia itu pelangi di hidupku,penuh warna dan indah,'' ucap Risda dengan tatapan menerawang mengingat moment yang selalu membuat dirinya tersenyum bersama sang suami.
Lisna tampak menghela nafas panjang. Akan percuma dengan apa yang ia utarakan. Karena tampak jelas bunga-bunga cinta itu telah bermekaran di hati sang sahabat. Ia tak berkomentar lagi, memilih melajukan mobil meninggalkan rumah baru sepasang pengantin baru itu.
__ADS_1