
Saling memahami isi kepala dua manusia yang hidup dalam satu atap bukanlah hal yang mudah. Apalagi mereka yang belum saling mengenal sebelumnya. Perjalanan mereka dimulai dari saling memahami sifat dan kebiasaan satu sama lain.
'' Bang kan udah Risda kasih keranjang buat naruh baju yang kotor,'' ucap Risda yang masih mendapati kebiasaan sang suami yang meletakkan pakaian kotornya di atas tempat tidur. Nuril yang sedang memakai handuknya tertawa kecil.
'' Maaf sayang, lupa ,'' sahutnya seraya mengambil pakaiannya dan melemparkan ke dalam keranjang pakaian kotor fi pojok ruangan.
'' Lupanya tiap hari,'' ucap lirih Risda yang sedang menyapu lantai. Ucapan lirih yang masih cukup terdengar dari telinga tajam sang suami.
Cup
Sebuah kecupan Nuril darat kan di pipi sang istri.
'' Iya sayangku,besok abang inget-inget,'' tutur Nuril lembut. Risda yang kaget mendapat kecupan mendadak jadi terbengong.
'' Abang ih,'' ucapnya tersipu sambil memegang pipinya saat Nuril hendak melangkah keluar kamar.
'' Kamu tuh gemesin kalo pipinya merah gitu,'' bisik Nuril yang kembali mendekati sang istri. Risda semakin tersipu, tangan Risda hendak mendaratkan cubitan di pinggang Nuril namun lelaki itu dengan cepat menghindar. Tawa renyah Nuril menggema di seisi rumah. Sedangkan Risda semakin tersipu dengan wajah yang kian merona.
'' Sayang !," suara Nuril terdengar cukup keras dari arah kamar mandi.
__ADS_1
'' Iya Bang, ada apa ?,'' Risda meletakkan sapu dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Tampak Nuril melongkokkan kepalanya dari celah pintu yang hanya di buka sedikit.
'' Kenapa Bang ?,'' tanya Risda yang sudah berada di depan pintu kamar mandi.
'' Dek,tolong ambilin sampo dong,abang lupa belum ambil,'' ucap Nuril disertai senyum yang melengkung di bibirnya.
Yah, akan selalu ada kejadian yang terulang karena menjadi sebuah kebiasaan. Nuril yang selalu mengatakan lupa saat ia meletakkan barang tidak pada tempatnya . Risda hanya bisa menghela nafas,dan mencoba memahami.
Begitu pun Nuril yang akan tersenyum saat menyadari istri cantiknya yang ternyata memiliki sisi manja di balik sikap lembutnya.
" Bang ," panggil Risda yang sedang berada di ruang tengah yang kini telah ada sebuah tv di sana. Risda menonton televisi sambil bermain dengan ponselnya. Sedang Nuril sibuk dengan laptop di hadapannya.
" Apa sayang ?," tanya Nuril tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop. Tampak bibir wanitanya mencebik kesal. Namun Nuril masih sibuk di depan laptopnya. Risda mendekati sang suami, mengangkat lengan kekar suaminya yang mengernyit heran dengan kelakuan sang istri.
'' Berasa di di duakan,tapi madu nya bukan orang malah laptop,'' gerutu Risda yang di sambut senyum lebar Nuril yang merasa gemas dengan kelakuan istrinya yang sedang dalam mode manja.
'' Sayangnya Abang , kenapa ini ?," tanya Nuril yang mengalihkan pandangan dari layar laptop yang masih menyala. Mencubit gemas hidung mancung sang istri membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya.
'' Abang sama laptop mulu ,'' sungut Risda yang merasa di abaikan oleh suaminya. Nuril tergelak, lelaki itu membelai rambut Risda dan mengecup kening sang wanita dengan lembut.
__ADS_1
'' Maaf ya sayang,Abang itu lagi ada projek sama temen. Rencana mau mengembangkan usaha temen abang . Dia punya usaha buat tralis besi,dia mau ngajak Abang kerja sama. Kali aja rejeki kita dek. Abang lagi cari referensi di internet untuk mengembangkan usaha dan pemasaran,'' tutur lembut Nuril dengan tangan tak berhenti mengusap lembut kepala sang istri.
Risda menyimak penuturan sang suami dengan tatapan tak lepas menatap wajah yang baginya semakin hari semakin mempesona di matanya.
'' Maaf ya Bang,'' lirih Risda, Nuril tersenyum lembut dan membelai pipi halus itu. Menatap penuh kasih ke dalam bola mata jernih yang menatapnya dengan tatapan dalam.
'' Jangan minta maaf,adek gak salah. Abang yang gak tau waktu ,sekarang seharusnya waktu Abang buat istri Abang tercinta ini,'' ucap Nuril sambil menangkup dengan gemas wajah sang istri.
'' Bang ," panggil Risda dengan tatapan yang masih tak lepas dari wajah suaminya.
'' Hemm ?," Nuril mengangkat sebelah alisnya saat tak ada kata lanjutan dari bibir Risda.
'' Terima kasih,'' ucap Risda seraya meraih tangan Nuril dan mengecup tangan itu penuh cinta.
'' Untuk ?,'' Nuril memicingkan mata.
'' Semuanya, terima kasih sudah berjuang untuk ku,'' tambah Risda. Nuril menundukkan kepalanya dan mengecup sekilas bibir merona yang mengundang rasa untuk mengecupnya.
''Selama Abang masih bisa, Abang akan berjuang semampu Abang untuk kita dan anak kita kelak,'' ujar Nuril membuat Risda tersipu karena pasal anak yang di ucapkan sang suami.
__ADS_1
'' Abang akan selalu berusaha sebisa Abang untuk membuat kamu bahagia,'' imbuhnya. Risda tersenyum tipis. Hatinya di penuhi rasa bahagia. Sungguh ia merasa menjadi wanita beruntung karena di pertemukan dengan lelaki penuh tanggung jawab seperti Nuril.
Benar, Allah lebih tahu apa yang kita butuh. Bukan apa yang kita mau. Risda sempat merasa khawatir dengan pernikahan tanpa di landasi cinta terlebih dahulu. Apalagi dengan lelaki yang memiliki ekonomi pas-pasan. Tapi ia sekarang tak ragu, dengan keyakinan sepenuh hati,ia akan terus berjalan di sisi sang suami dalam setiap keadaan.