Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Prioritas


__ADS_3

Lembayung senja terlihat mulai memudar, berganti warna hitam yang tampak gelap menutup birunya langit. Risda duduk di ruang tamu dengan sesekali membuka gorden jendela. Suaminya lima belas menit yang lalu sudah mengabarkan hendak pulang.


Sebenarnya baru lima belas menit ia menunggu tapi terasa lama, karena yang di harapkan tak kunjung datang. Risda kembali menekuni pekerjaan yang belum ia selesaikan. Menghadap pada layar laptop yang masih menyala.


Suara Adzan Maghrib sudah tak terdengar, waktu hampir menunjukkan waktu isya saat deru motor berhenti di depan rumah. Risda membuka gorden jendela dan mendapati sang suami yang turun dari motor. Wanita itu tersenyum lebar,dan segera beranjak dari tempatnya duduk.


Wanita itu membukakan pintu sebelum Nuril mengetuknya. Nuril tersenyum mendapati Risda yang menjulurkan kepalanya di ambang pintu saat ia hendak mengucap salam.


'' Assalamualaikum istriku ,'' ucap Nuril sembari mengusap kepala sang istri yang masih tertutup jilbab instan.


'' Wa'alaikumussalam suami,'' sambut Risda, kemudian meraih tangan suaminya dan menyalami seperti biasa. Nuril menarik pinggang sang istri dengan sebelah tangannya. Membuat tubuh mereka saling berdempetan. Nuril mengecup pelipis sang istri, sebelum membawa wanita itu masuk ke dalam rumah.


'' Maaf ya sayang,abang pulangnya telat. Tadi di jalan udah keburu Maghrib jadi mampir masjid dulu. Eh pas di masjid ketemu temen, minta abang buat benerin laptop dia. Ya udah abang jadi mampir ke rumah temen dulu,'' terang Nuril sembari tetap memeluk pinggang sang istri dan berjalan menuju ruang tengah.


'' Aku pikir kenapa,masa biasanya gak sampai setengah jam udah nyampe ini satu jam lebih baru nyampe rumah,'' ucap Risda seraya menjauhkan badan dari sang suami. Memberi jarak bagi keduanya hingga wanita itu berdiri menghadap Nuril. Nuril meletakkan tas punggung yang selalu di bawanya di tikar yang di gelar di ruang tengah. Lelaki itu mengusap lembut pipi Risda kemudian membawa wanita itu dalam pelukan.


'' Maaf ya, sudah bikin adek khawatir,'' Nuril melepaskan pelukannya, menundukkan wajahnya sedikit untuk menatap raut wajah sang istri.


'' Abang beliin makanan kesukaan adek,'' lanjut Nuril yang membuat wajah Risda yang tadinya cemberut menjadi berbinar.


'' Apa ?,'' tanya Risda yang merasa senang.

__ADS_1


'' Seblak Bu Rahmi ,'' sahut Nuril yang beberapa kali di ajak sang istri untuk menikmati seblak Bu Rahmi yang kata istrinya rasanya mantap itu.


Wajah wanita itu seketika berubah ceria,ia menggelayuti lengan sang suami dengan manja.


'' Makasih ya bang,'' ucap wanita itu seraya berjinjit dan mengecup pipi Nuril, membuat lelaki itu tak bisa menyembunyikan raut wajah senangnya. Nuril dengan sigap menarik sang istri dan merengkuh pinggang wanitanya.


Tubuh keduanya saling menempel tak berjarak, namun wajah keduanya saling bertemu tatap. Nuril menundukkan kepalanya sedang Risda menengadah.


'' Sudah pinter godain abang ya dek ,'' ucap Nuril dengan senyumnya yang terkembang. Risda membalas dengan senyum dan wajah yang tampak menggemaskan di mata Nuril.


'' Kan di ajarin abang ,'' sahut Risda dengan wajah polos yang justru semakin membuat Nuril gemas melihat sang istri. Lelaki itu menyamakan tinggi badannya dan mengecup hidung mancung istrinya.


'' Abang bersih-bersih dulu,'' lirih Nuril yang di sahut dengan anggukan antusias dari Risda. Keduanya saling melepaskan pelukan. Nuril beranjak pergi ke arah kamar mandi. Sedang Risda mengambil kresek yang tadi di tenteng sang suami yang tergeletak di sebelah tas milik Nuril.


Wanita itu membawanya masuk ke dalam ruang makan. Ia mengambil dua piring serta sendok untuk menyiapkan seblak yang di beli sang suami. Risda kembali ke dapur untuk merebus air, yang akan ia gunakan untuk menyeduh teh.


Saat suaminya kembali menghampiri dirinya dengan wajah lebih segar serta rambut setengah basah membuat lelaki itu tampak lebih tampan di mata sang istri. Nuril duduk di samping sang istri yang sedang menuangkan seblak di piring kedua.


Nuril mengambil secangkir teh dan meminumnya.


'' Alhamdulillah, terima kasih istriku,'' ucap Nuril dengan senyum tulus sembari menoleh ke arah Risda yang juga menyambutnya dengan senyum lembut.

__ADS_1


'' Sama-sama suami,'' jawab Risda . Wanita itu meletakkan sepiring seblak yang telah di tuangkan di piring di hadapan Nuril.


'' Jadi tadi ketemu Harsa ?,'' tanya Nuril dengan nada biasa. Risda menghela nafas dalam, sesaat wanita uty menghentikan kegiatannya. Menatap ke arah sang suami yang juga masih menatap dirinya. Risda mengangguk , kemudian menyahut.


'' Jadi, ternyata modus dia aja bang, soal kerjaan,'' adu Risda pada sang suami, Nuril tampak mengernyitkan dahi. Namun tak mengajukan pertanyaan, hanya menatap istrinya dengan tatapan penuh tanda tanya.


'' Ternyata dia nyiapin makan siang bareng. Aku gak mau berpikir buruk sebenarnya,tapi aku ngerasa setiap aku terlibat dengan Harsa ada sangkut pautnya dengan Lisna,'' tutur Risda yang menampakkan wajah sendunya.


Wanita itu menatap sang suami yang masih terdiam. Menggenggam tangan lelaki yang menjadi imamnya.


'' Bang , kalau Risda mundur dari pekerjaan ini gimana ya ?,'' tanya Risda galau. Nuril menatap dalam wajah istrinya.


'' Apapun yang menjadi keputusan terbaik untuk kamu,abang dukung. Abang tidak mau karena ego abang kamu jadi terkekang. Abang yakin kamu tau mana yang terbaik untuk kamu,'' ucap Nuril lembut.


'' Tapi uang yang sudah terlanjur masuk gimana bang ?,'' tanya Risda, karena uang yang ia ikut tanamkan dalam modal pembukaan tempat les itu , adalah uang sang suami.


'' Gak apa-apa,uang bisa di cari lagi yang terpenting kenyamanan kamu,'' sahut Nuril. Risda menatap suaminya dengan tatapan haru.


'' Terima kasih bang,buat Risda saat ini yang terpenting hubungan kita, rumah tangga kita. Jangan sampai kita terus terpancing kesalahpahaman yang akan menghancurkan rumah tangga kita,'' ujar Risda, Nuril menyambutnya dengan senyum lebar, kemudian menangkup pipi sang istri dan mengecup lembut bibir merona di hadapannya.


'' Abang tau,istri abang ini bijaksana. Pasti tau mana yang terbaik. Ya sudah, lupakan dulu masalah di luar rumah. Kita makan dulu,'' ucap Nuril yang dianggguki oleh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2