Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Harga Diri


__ADS_3

Nuril berdiri mematung dengan tatapan nanar. Melihat barang-barang yang sedang di turunkan dari pick up yang baru saja berhenti di depan rumah. Sebuah lemari es dua pintu, kompor listrik, mesin cuci dan berbagai peralatan dapur yang baginya tidak cocok berada di rumah kecilnya.


Belum ia bisa menguasai diri datang lagi pick up lain. Terlihat satu set sofa serta spring bed berada di atas pick up tersebut. Sesak rasa yang menghampiri dada lelaki itu. Merasa begitu kecil dan tak di hargai. Ada gejolak rasa yang seakan ingin meledak dalam dirinya. Namun ia masih mencoba menahan amarah yang hendak membuncah.


Lelaki itu membiarkan ibu mertuanya membuat pengaturan peletakan atas barang-barang yang di bawanya. Ia melihat sang istri yang terpaku dengan sesekali menatap dirinya. Nuril menghela nafas dalam, egonya terluka. Harga dirinya sebagai lelaki sedang di jatuhkan dalam jurang.


Lelaki itu memilih menyingkir, keluar rumah dari pintu belakang. Ia memilih duduk di pinggir kolam ikan seraya menabur pakan ikan meski pikirannya entah melayang kemana.


Sementara Risda yang menyadari suaminya pergi, berjalan mendekati sang ibu yang sedang mengatur peletakan sofa di ruang tamu.


'' Bu ,'' lirih Risda sembari meraih sebelah tangan ibunya.


'' Kenapa nak ?,'' tanya ibu sembari menatap anak perempuannya.


'' Bisa bicara sebentar ,'' lanjut Risda menatap pada ibu, sesaat mereka saling tatap sebelum akhirnya ibu mengiyakan. Kini anak dan ibu itu duduk di dalam kamar Risda. Ibu duduk di atas kasur, sedang Risda bersimpuh dengan kepala berada dalam pangkuan sang Ibu.


'' Maaf bu,ibu kenapa tiba-tiba membeli begitu banyak perabotan ?, Kenapa ibu gak tanya dulu dengan Risda ?,'' tanya Risda lembut,ia pun tak ingin menyinggung sang ibu. Tapi ia juga merasa apa yang di lakukan ibunya telah menjatuhkan harga diri sang suami.


'' Ibu gak tega lihat kamu tidur di kasur yang keras begini ,'' ucap ibu sembari sebelah tangannya memijit kasur yang memang lebih keras di banding spring bed yang baru ibu beli. Tapi sesungguhnya kasur itu masih sangat layak untuk ditempati.


'' Belum lagi kamu yang harus mencuci dengan manual, tangan kamu nanti rusak ,'' lanjut Ibu seraya meraih tangan putrinya dan mengusap lembut.

__ADS_1


'' Ibu membesarkan kamu tanpa kekurangan. Tapi setelah berumah tangga justru kehidupan kamu terlihat memprihatinkan. Suami kamu belum bisa mencukupi kebutuhan kamu dengan baik. Ibu tidak tega kamu tinggal di rumah sekecil ini tanpa ada fasilitas apa pun. Bahkan lemari es saja tidak ada,'' sambung ibu, Risda tak memungkiri jika memang perabot di rumahnya jauh dari kata mewah. Tapi baginya sudah cukup.


'' Maaf sebelumnya bu, tapi gak seharusnya ibu membeli ini semua tanpa bilang apa-apa ke Risda bu. Bisa saja suami Risda tidak setuju dengan semua ini ,'' keluh Risda. Hatinya sedari tadi di buat ketar-ketir melihat perubahan wajah dari sang suami.


'' Tidak setuju ?, memangnya dia bisa apa ?. Berbulan-bulan kalian menikah,tapi nyatanya kehidupan kalian begini-begini saja,'' ucap ibu yang cukup menyentil perasaan. Risda menatap sang ibu yang terlihat mengeras air mukanya. Wanita itu meremat lembut jari-jari sang ibu.


''Bu, Risda sudah cukup dengan apa yang suami Risda miliki. Bang Nuril sudah menafkahi Risda lebih dari cukup. Tolong bu,Risda mohon hargai suami Risda ,'' tutur halus Risda. Ibu tampak menghela nafas panjang. Kemudian mengusap lembut kepala anaknya yang tertutup kerudung.


'' Maafkan ibu nak,ibu terlalu impulsif tanpa berpikir panjang. Ibu hanya merasa tidak tega melihat kamu yang terbiasa hidup dengan kemudahan. Tapi di sini kamu harus bekerja keras untuk segala hal,'' tutur ibu.


Wanita yang sudah mulai menampakkan tanda-tanda penuaan itu menatap iba sang anak.


'' Maafkan ibu nak, ternyata ibu sudah salah menilai kamu, ternyata kamu lebih dewasa dari yang ibu pikirkan. Tapi barang yang sudah ibu beli tolong kamu terima. Anggap saja itu adalah hadiah pernikahan dari ibu. Maafkan ibu nak ,'' ucap Ibu dengan senyum tulus kemudian memeluk putrinya penuh kasih sayang.


'' Maafkan Risda juga bu, kalau ada kata-kata yang Risda yang menyinggung perasaan ibu ,'' ucap lembut Risda yang di balas gelengan kepala ibunya.


'' Tidak , kamu tidak salah,'' ujar ibu sambil mencium puncak kepala sang anak.


Sampai semua selesai tertata, Nuril belum kembali ke rumah. Lelaki itu masih termenung di pinggir kolam. Sampai sebuah tepukan di pundak lelaki itu membuatnya tersadar dari lamunannya.


'' Bang ,'' suara lembut istrinya membuat lelaki itu menengadah menatap wajah sang istri yang tersenyum manis padanya.

__ADS_1


'' Dek ,''


'' Ibu mau pamit,abang tidak mau ketemu ibu dulu ?,'' tanya Risda dengan nada yang begitu lembut. Nuril bangkit dari duduknya, merangkul pundak sang istri seraya berucap.


'' Ayo temui ibu .''


Risda tersenyum, meski ia tahu ada kecewa yang terselip di hati sang suami lelaki itu masih bersikap baik. Nuril menemui ibu mertuanya yang duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu berdiri saat melihat kedatangan sang menantu.


'' Ril,tolong kamu jangan tersinggung dengan semua barang yang ibu beri. Ini bukan apa-apa ,ini hanya sedikit hadiah dari ibu dan Ayah untuk pernikahan kalian. Ibu percaya kamu adalah lelaki bertanggung jawab dan mampu mencukupi kebutuhan anak ibu. Jadi tolong terima pemberian ibu ini, jangan jadikan beban untuk kamu. Maaf jika ibu tidak berbicara dulu dengan kalian tentang ini semua ,'' tutur ibu lembut. Nuril mencoba tersenyum meski terlihat jelas senyum yang di paksakan tampak di bibirnya.


'' Terima kasih bu,''hanya itu yabg terucap dari bibir lelaki tersebut.


'' Ya sudah,ini sudah siang ibu pamit,'' lanjut ibu sembari meraih tas dan menyampirkan tali di pundak.


'' Ibu tidak makan dulu di sini ?,'' tanya Nuril yang merasa belum menjamu sang ibu. Wanita itu memegang lembut pundak sang menantu.


'' Terima kasih nak,Ayah pulang siang ini. Kasihan nanti ayah tidak ada teman makan siang. Kalian sering-seringlah kerumah,'' ujar ibu seraya menatap Nuril yang sedikit menunduk. Sebagai bentuk menghormati orang yang lebih tua.


'' Insyaallah bu, kalau ada waktu luang kami datang,'' jawab Nuril.


Ibu berpamitan untuk pulang dengan diantar sang putri dan menantunya sampai teras rumah. Sepasang suami istri melihat kepergian ibu yang menggunakan mobil dengan sopir pribadi keluarga. Nuril masih merangkul pundak sang istri hingga mobil menghilang di persimpangan. Nuril menurunkan tangannya dan masuk dalam diam. Membuat Risda merasa bersalah pada sang suami.

__ADS_1


__ADS_2