Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Mempercayainya


__ADS_3

Tampak berkali-kali , Nuril menghela nafas. Entah kenapa tiba-tiba perasaan lelaki terasa kacau. Nuril yang sedang mengelas besi , menghentikan pekerjaannya. Lelaki itu duduk dengan wajah tertunduk. Ia mengusap kasar wajahnya. Ada perasaan tak nyaman yang merasuki hatinya.


Dering telepon miliknya berbunyi, sebuah pesan masuk. Saat di lihatnya lelaki itu tampak mengernyitkan dahi. Nama Yuna tertera di layar ponselnya. Namun yang membuat dadanya bergemuruh adalah foto yang di kirimkan wanita itu.


Ia menelan ludah kasar,tak ingin hatinya di penuhi prasangka yang akan menimbulkan kesalahpahaman. Tapi sekilas melihat sang istri bersama lelaki lain menimbulkan sebuah rasa yang membuat dadanya terasa sesak.


Sebuah tepukan di bahunya, membuat Nuril menengadah menatap siapa yang datang. Fadil tersenyum melihat wajah kusut sang sahabat. Lelaki itu ikut duduk di samping Nuril.


'' Ada apa ?,'' tanya Fadil yang melihat kerisauan di wajah Nuril.


'' Gak apa-apa kok,'' sahut Nuril,ia tak maksud berbohong hanya ia tak mau menceritakan tentang istrinya sendiri. Apalagi ia pun belum tahu tentang kebenaran dari foto yang di kirim Yuna.


'' Hanya sedikit capek saja,'' lanjut Nuril dengan senyum yang sedikit di paksakan. Fadil menepuk kembali pundak sang sahabat.


'' Istirahat dulu, jangan terlalu diforsir tenaga kamu,'' ucap Fadil, Nuril mengangguk. Kemudian Fadil meninggalkan Nuril yamg kini memijit kepalanya yamg tiba-tiba terasa pening.


'' Astaghfirullah, aku tidak boleh percaya begitu saja hanya karena sebuah foto. Risda tidak mungkin seperti itu,'' gumam Nuril meyakinkan diri sendiri bahwa tak mungkin sang istri mencurangi dirinya.


Nuril mengambil ponselnya, mencari kontak istrinya dan menelepon istrinya dengan video call.

__ADS_1


'' Assalamualaikum , sayang,'' sapa Nuril saat panggilan videonya telah di angkat oleh sang istri .


'' Wa'alaikumussalam bang,ada apa ?,'' tanya Risda yang merasa sedikit khawatir, karena tidak biasanya sang suami menelpon dirinya di waktu-waktu seperti itu.


'' Gak apa-apa, kangen,'' ucap Nuril seraya tersenyum dengan tatapan tak lepas dari wajah istrinya di layar ponselnya. Wajah bersemu merah di seberang sana, serta senyum tersipu menjadi pemandangan yang cukup menghibur lelaki itu.


'' Gombal,'' lirih Risda seraya memalingkan wajah dari layar ponsel. Ia sudah bisa membayangkan betapa merah pipinya karena malu.


''Beneran Yang,lagi dimana ?,'' tanya Nuril dengan lembut dan bibir yang tak berhenti tersenyum tipis dengan tatapan lembutnya yang membuat dada Risda berdebar kencang.


'' Di tempat les,'' sahut Risda yang kemudian mengarahkan kamera pada sekeliling ruangan. Sesaat Nuril tertegun pada sosok yang ternyata duduk di hadapan sang istri. Lelaki yang tadi berada dalam foto yang Yuna kirimkan,dan lelaki itu juga yang sempat ia lihat di depan rumahnya.


'' Lagi istirahat,'' jawab Nuril, Risda di seberang sana melihat jam tangannya.


'' Kok udah istirahat ?,abang gak kenapa-kenapa kan ?,'' suara cemas Risda disertai mimik wajah yang tidak bisa di sembunyikan.


'' Gak apa-apa sayang, cuma agak capek aja,'' sambung Nuril berusaha tersenyum lebar , meyakinkan sang istri bahwa dirinya baik-baik saja.


'' Nanti jangan lembur lagi, Risda gak mau abang sakit,'' ucap sang wanita yang terdengar manja di telinga Nuril.

__ADS_1


'' Iya sayang,abang usahakan. Ya udah,kamu baik-baik di sana. Abang mau kerja lagi, assalamualaikum,'' tutur Nuril, mendengar ucapan sang suami jantung Risda terasa berdenyut,ia merasa bersalah karena tadi pergi berdua dengan Nuril tanpa ijin dari suaminya. Rasa berdosa menggelayut di dalam hati.


'' Iya Bang,Bang Risda...'' ucapan Risda terputus saat menyadari Harsa di depannya, meski lelaki itu tampak sibuk dengan ponselnya ,ia yakin lelaki itu pun menyimak percakapan dirinya dengan sang suami. Nuril tampak mengernyit, menunggu kelanjutan yang di ucapkan sang istri.


'' Ada apa dek ?,'' tanya Nuril yang tak mendapat kelanjutan ucapan istrinya. Istrinya tampak tertunduk, kemudian menggeleng kecil.


'' Gak apa-apa,nanti Risda omongin di rumah. Abang selamat bekerja kembali, wa'alaikumussalam,'' ucap Risda yang kemudian menutup sambungan telepon. Nuril tampak menarik nafas dalam. Ia tak boleh berprasangka buruk pada istrinya itu.


Nuril hendak kembali bekerja saat suara ponselnya berbunyi. Lagi,nama Yuna tertera di layar ponselnya.


' Ril, motor kamu udah jadi. Kamu ambil di rumah ku'. Tulisan pesan yang di kirim Yuna.


' Kenapa di rumah kamu, kenapa gak kamu kasiin aja nomerku ke orang bengkel ?'. Balas Nuril yang merasa tidak nyaman dengan sikap Yuna.


' Sorry aku lupa, udahlah kamu ambil aja nanti di rumah. Hari ini aku free kok di rumah seharian jadi terserah mau di ambil kapan '. Yuna kembali membalas, Nuril menghembuskan nafas kasar.


' Oke '. Hanya itu balasan yang ia kirim pada teman masa sekolahnya itu.


Nuril meninggalkan ponselnya di ruang istirahat,ia kembali ke depan. Dimana para rekan kerjanya sedang bergelut dengan alat las . Ia mencoba menenangkan hatinya yang sesungguhnya masih dihinggapi rasa cemburu pada sang istri. Sebisa mungkin ia menekan rasa itu hingga tak menimbulkan kecamuk rasa yang mengacaukan segalanya. Ia harus berpikir positif, bahwa sang istri tidaklah mungkin berkhianat di belakang dirinya.

__ADS_1


__ADS_2