
Belum sampai tempat les,Harsa menghentikan laju mobilnya di sebuah coffe shop. Risda menatap penuh tanda tanya pada lelaki yang duduk tenang di sampingnya.
'' Kok kesini ?,'' tanya Risda dengan tatapan tajam. Harsa menoleh sejenak kemudian mendorong pintu mobil.
'' Temenin aku ngopi dulu bentar,'' ucap Harsa sembari keluar dari dalam mobil. Risda menelan ludah kasar. Ia merasa seperti sedang berkhianat pada sang suami. Risda masih berdiam di dalam mobil sampai Harsa membukakan pintu untuk dirinya.
'' Tapi Sa,'' ucap Risda terputus saat Harsa menunduk dengan wajah yang cukup dekat dengan dirinya. Risda reflek memundurkan badannya.
'' Please sebentar,ada yang pengen aku omongin ke kamu,'' ucap Harsa dengan tatapan memohon. Risda menghirup nafas dalam kemudian menganggukkan kepala.
Harsa menegakkan kembali tubuhnya, menunggu Risda keluar dari dalam mobil. Risda menghirup nafas dalam, menenangkan hatinya yang terasa risau.
'' Bismillahirrahmanirrahim,'' lirih Risda berharap semua akan baik-baik saja. Ia tak ingin ada fitnah yang terjadi dengan dirinya dan Harsa. Wanita itu turun dari mobil, mengikuti langkah Harsa memasuki sebuah coffe shop yang terbilang masih cukup sepi.
Harsa memilih duduk di dekat pintu masuk. Risda ikut duduk di hadapan lelaki yang tampak gusar itu. Belum ada yang terucap dari bibir keduanya, sampai seorang pelayan datang. Harsa memesan kopi dam secangkir coklat hangat untuk Risda. Di tambah brownies dan cheese cake sebagai teman minum.
__ADS_1
Harsa mengambil cangkir berisi kopi, kemudian meminumnya. Risda masih termangu, ia tak biasa pergi berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya,dan kini ia bersama lelaki yang tak ada hubungan apapun dengan dirinya sedangkan ia tak meminta ijin pada sang suami. Rasa bersalah menggelayut di hati wanita itu.
Harsa tersenyum melihat wajah tegang Risda.
'' Kita berada di tempat umum Ris, aku juga bakal ngapa-ngapain kamu,'' ucap Harsa dengan senyum miring di sudut bibirnya.
'' Tapi gak seharusnya kita pergi berdua gini Sa,'' sahut Risda yang merasa tak tenang. Harsa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dengan tatapan tertuju pada Risda yang tampak gelisah.
'' Kamu takut ketahuan suami kamu ?,'' tanya Harsa yang kini mencondongkan tubuhnya dengan tatapan masih tertuju pada Risda.
'' Kamu cinta sama suami kamu ?,'' lanjut Harsa yang di sambut tawa kecil Risda.
'' Pertanyaan apa itu ?,aku sudah menikah dengan Bang Nuril, kalau kamu bertanya cinta. Yah , aku mencintai dia, tapi terlepas dari cinta itu sendiri, pernikahan ini adalah komitmen seumur hidup yang sudah aku sepakati dengannya. Aku gak tau,arah pembicaraan apa yang hendak kamu mulai,tapi aku tegaskan aku adalah istri dari seorang lelaki yang aku cintai dan mencintai ku,'' tegas Risda membuat Harsa tersenyum getir.
'' Ternyata kamu cukup peka dengan maksud ku,'' kalimat Harsa terjeda, lelaki itu menghela nafas.
__ADS_1
'' Alu tahu,ini bakal kedengaran lancang dan kurang ajar banget. Tapi aku cuma mau sekedar mengucapkan apa yang ada di hati aku. Aku gak ada niatan apapun,aku cuma gak mau nyesel karena gak pernah ungkapin ke kamu,'' tampak Harsa kembali menghela nafas, memberikan pasokan udara ke dalam paru-parunya yang terasa sesak.
Risda masih diam menyimak, meski ia tak bisa menekan gemuruh dalam dada.
'' Aku suka sama kamu,'' akhirnya kata itu terucap dengan nada tercekat. Risda berusaha tenang, tetap dalam diamnya. Harsa yabg sedari tadi tak berani menatap wajah wanita di hadapannya,kini memberanikan diri menatap wajah itu,saat ia tak mendapat respon apapun dari Risda.
''Kamu marah ?,'' tanya Harsa saat mendapati wajah datar di hadapannya. Risda hanya menggelengkan kepala. Wanita itu mengangkat cangkir berisi minuman miliknya. Perlahan wanita itu menyesap minuman yang kini hanya terasa hangat di lidahnya.
'' Seperti yang kamu katakan dari awal, kamu hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di hati kamu, dan kamu sudah pasti tau kan itu tidak akan merubah apapun ?,'' ucap Risda tenang setelah mengembalikan cangkir di atas meja. Harsa tersenyum kemudian mengangguk.
''Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik,'' ucap Risda yang kemudian kembali meraih cangkir dan meminum isinya.
'' Kita masih bisa berteman kan ?,'' tanya Harsa. Risda menarik nafas dalam menghembuskan perlahan. Kemudian wanita itu menganggukkan kepala.
'' Selama kita bisa saling membatasi pertemanan antara laki-laki dan perempuan,'' ucap Risda,ia tahu tak bisa di benarkan kedekatan laki-laki dan perempuan meski dalam hubungan pertemanan. Namun tak mungkin juga ia mengatakan untuk Harsa menjauhi dirinya. Ia tak setega itu untuk mengatakannya. Cukup ia bisa membawa diri dan membatasi diri untuk berteman.
__ADS_1
'' Terima kasih ,'' ujar Harsa,ada kelegaan di hati lelaki itu, setelah ia meyakinkan diri untuk sekedar mengungkapkan perasaan yang telah lama ia pendam pada Risda. Awalnya ia ingin mengikhlaskan rasa itu tanpa harus mengatakan perasaannya. Namun ada sebagian hatinya yang seakan menyuruhnya untuk mengungkapkan rasa itu, meski tak akan merubah apapun, namun ada ganjalan hati yang terasa lega.