Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa

Ku Genggam Asa Dan Cinta Dalam Doa
Memahami


__ADS_3

Suara ketukan pintu disertai salam terdengar samar-samar di telinga Risda. Sepulang dari perpustakaan umum,ia mengerjakan pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan. Namun ternyata rasa kantuk menguasai dirinya, hingga wanita itu tertidur di ruang tengah.


'' Assalamualaikum,'' lagi suara salam terdengar,kini lebih jelas, karena Risda telah terbangun dari tidurnya.


'' Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,'' sahut Risda seraya berdiri, mengambil kerudung instan yang ia letakkan di dekatnya. Kemudian melangkah keluar untuk membukakan pintu.


'' Bang,'' ucap Risda seraya menyodorkan tangan untuk menyalami sang suami. Nuril tersenyum dan menyambut uluran tangan istrinya. Risda mengecup punggung tangan suaminya, Nuril merapatkan tubuh pada sang istri dan mengecup kening Risda , kemudian membawa tubuh sang istri dalam pelukan.


'' Maaf ya bang, barusan aku ketiduran,'' ujar Risda setelah Nuril melepaskan pelukannya.


'' Iya gak apa-apa,'' jawab Nuril seraya menggandeng tangan Risda dan membawanya masuk ke dalam rumah.


'' Motor abang belum jadi ?,'' tanya Risda saat menyadari motor milik sang suami belum terlihat.


''Sudah, tapi malah dianter ke rumahnya Yuna, besok ambilnya sama kamu aja,'' jawab Nuril yang kini meraih pinggang Risda dan merapatkan tubuh mereka seraya melangkah masuk rumah.


'' Kenapa harus sama aku ?,'' tanya Risda sambil menengadah menatap wajah sang suami dari arah samping.


'' Yuna itu janda,aku gak mau nanti jadi fitnah,'' sahut Nuril membuat Risda sedikit tersentak dan menghentikan langkahnya.


'' Jadi wanita yang nganterin abang janda ?,'' Risda menanyakan sesuatu yang sudah jelas di katakan sang suami.

__ADS_1


'' Iya sayang, memangnya kenapa ?,'' Nuril bertanya dengan nada lembut. Menatap wajah cemberut sang istri.


'' Tau aaah,'' jawab Risda sewot seraya menghentakkan kaki dan berlalu meninggalkan Nuril yang tersenyum melihat tingkah istrinya yang terasa lucu di mata lelaki itu.


'' Gemesin,'' lirih Nuril, namun lelaki itu tak mengikuti langkah istrinya yang masuk ke dalam kamar. Ia masuk ke dalam ruang makan,menuang air putih dalam gelas, kemudian meminumnya sambil duduk di kursi meja makan.


Segelas air putih telah tandas dari dalam gelas. Tapi Nuril masih duduk di sana, tampak lelaki itu termenung. Beberapa kali menghela nafas berat. Diambilnya ponsel di saku celananya,ia kembali melihat foto yang di kirimkan Yuna.


Ia ingin tahu siapa lelaki itu, namun ia tak mau saat bertanya akan menyinggung perasaan sang istri. Dia percaya pada istrinya, namun entah mengapa ada rasa tidak nyaman saat melihat tatapan mata lelaki dalam foto itu yang di tujukan untuk Risda.


'' Bang,''seruan Risda terdengar dari arah ruang tengah. Nuril segera memasukkan ponsel dalam sakunya .


'' Sini,'' titah Nuril sembari melambai meminta Risda untuk mendekat. Meski masih dengan wajah cemberut, namun wanita itu menuruti perintah suaminya. Saat Risda telah berada di dekat Nuril, lelaki itu menarik pergelangan tangan Risda dan membawa wanitanya duduk di pangkuan.


'' Abang iih,'' kesal Risda berusaha melepas tangan Nuril, namun Nuril justru melingkarkan kedua tangannya di perut Risda.


'' Kenapa ?, cemburu ?,'' tanya Nuril yang kini menyandarkan kepalanya di pundak Risda.


'' Menurut abang ?,''Risda kembali bertanya, Nuril tersenyum kemudian menyibakkan rambut Risda yang tak lagi tertutup kerudung. Mencium tengkuk sang istri dengan lembut.


'' Cemburu itu wajar,gak apa-apa itu tandanya adek udah beneran sayang sama abang. Tapi jangan sampai cemburu menutupi akal sehat . Emangnya adek gak percaya sama abang ?,'' lembut tutur itu keluar dari mulut Nuril. Risda menundukkan wajahnya, namun tubuhnya di sandarkan pada dada bidang sang suami.

__ADS_1


'' Risda percaya sama abang,tapi...'' wanita itu menghentikan ucapannya, menggantungkan pernyataan yang hendak keluar dari mulut wanita itu.


'' Tapi apa ?,'' tanya Nuril yang tampak berkali-kali menciumi rambut istrinya. Wangi vanilla dari shampoo yang digunakan Risda menjadi candu di penciumannya.


'' Aku gak percaya sama wanita itu, kalau abang terus di goda , apa abang gak bakal tergoda ?. Wanita itu kan cantik,seksi lagi,'' ucap Risda dengan nada kesal. Nuril tertawa kecil,ia mendekatkan wajahnya di telinga istrinya. Kemudian berbisik lirih di telinga Risda.


'' Istri abang gak kalah cantik dan seksi. '' Nuril menggigit kecil daun telinga Risda, membuat wanita itu meremang, reflek tangannya memukul lengan Nuril yang masih melingkar di perutnya.


Nuril menangkap tangan istrinya yang memukul pelan lengannya. Membawa telapak tangan itu untuk di kecupnya.


'' Adek cukup beri abang kepercayaan,dan abang tidak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaan itu. '' ujar Nuril. Risda menoleh untuk menatap wajah sang suami. Sorot wajah yang tampak serius tergambar nyata di wajah Nuril. Sesaat keduanya terdiam,saling tatap dalam diam.


'' Risda percaya sama abang,maafin Risda yang terlalu pencemburu. Tapi Risda beneran gak rela kalau abang di perhatikan orang lain,'' ungkap Risda membuat Nuril tersenyum kemudian mengusap rambut hitam panjang itu.


'' Sama halnya abang, Abang juga cemburu dan gak rela kalau ada orang lain yang memperhatikan istri abang,'' lanjut Nuril, tatapan keduanya masih saling bertautan. Risda tampak menelan ludah dengan kasar.


'' Bang,'' panggil lirih Risda , gemuruh rasa dalam dadanya membuncah. Rada bersalah itu meluap dengan debaran dada yang terasa menyesakan.


'' Kenapa ?,'' tanya Nuril yang melihat keraguan di wajah Risda. Tatapan lelaki itu seakan menuntut sebuah penjelasan.


''Aku tadi pergi dengan teman laki-laki Risda tanpa ijin abang,'' ucap Risda dengan tercekat. Ada gemuruh yang menghampiri dada Nuril, namun ia berusaha untuk menekan perasaannya. Wanita di pangkuannya tak berani menatap wajah sang suami. Menggambarkan rasa bersalah yang semenjak tadi di sembunyikan okeh wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2