
Malam sudah larut, namun sepasang suami istri itu belum juga memejamkan mata. Keduanya sudah berada di atas tempat tidur namun dengan mata yang sama-sama masih terbuka lebar. Risda tidur di atas lengan sang suami. Sedang Nuril tak berhenti mengusap lembut kepala wanitanya.
'' Bener, wanita itu cuma temen sekolah abang ?,'' tanya Risda yang masih menyisakan percikan cemburu di dadanya.
'' Bener sayang,abang gak mungkin macem-macem,'' jawab Nuril lembut. Nuril membelai pipi Risda dan membawa wajah itu menatap ke arah dirinya.
'' Buat abang,adek sudah lebih dari cukup. Abang gak ada niatan untuk menduakan adek. Abang cinta sama adek ,'' ucap Nuril dengan tatapan penuh cinta. Risda tersenyum mengusap rahang tegas milik sang suami.
'' Maafin Risda ya bang,udah marah-marah aja. Tanpa mendengarkan penjelasan abang dulu,'' ujar Risda,mata keduanya masih saling menatap dalam. Nuril menarik pinggang sang istri hingga merapat pada dirinya.
'' Gak apa-apa wajar, abang juga yang salah lupa memberi kabar. Alhamdulillah tempat usaha abang dan temen abang langsung di kasih rejeki sama Allah. Ada beberapa orderan yang sudah masuk. Tapi maaf ya dek , untuk sementara abang hanya bisa ngasih uang pas-pasan buat hidup kita sehari-hari. Masih butuh banyak modal buat usaha baru ini,'' tutur lembut Nuril. Risda tersenyum dan mengangguk kecil.
'' Gak apa-apa,udah cukup yang abang kasih. Alhamdulillah kita bisa makan kenyang , berpakaian tertutup dan terlindungi dari hujan dan panas,'' ucap Risda , keduanya tersenyum. Nuril mengeratkan pelukannya pada sang istri.
'' Terima kasih,'' lirih Nuril sembari menyematkan sebuah kecupan di kepala Risda. Ia mendekap sang istri sembari mengusap lembut punggungnya. Beberapa saat helaan nafas halus dan teratur terdengar . Nuril melonggarkan sedikit pelukannya, menatap wajah terlelap yang tampak tenang dalam tidurnya.
Seulas senyum terlukis di bibir Nuril, wajah tenang yang selalu bisa menentramkan jiwanya. Membuatnya selalu bersyukur,atas takdir dari Allah yang mempertemukan dirinya dengan sang istri. Nuril mengusap pelan mata terpejam istrinya.
__ADS_1
'' Maafkan abang sayang,'' ucap lirih Nuril,rasa bersalah menggelayut dalam hatinya. Saat melihat wajah sembab sang istri. Karena dia wanitanya menangis. Ia merasa telah melukai wanita itu. Lama, Nuril menatap wajah terlelap sang istri, hingga akhirnya rasa kantuk datang dan membawanya mengarungi mimpi dalam lelap tidurnya
Seperti sebuah alarm yang terpasang otomatis dalam diri Nuril. Ia yang telah terbiasa bangun sebelum subuh semenjak remaja,saat inipun kebiasaan itu tak berubah. Pukul tiga dini hari, Nuril mengerjapkan mata. Merasakan kesemutan di lengannya,saat menyadari sang istri yang masih terlelap dengan menjadikan lengannya bantal, Nuril tersenyum tipis.
Tampak wanitanya masih tenang dalam lelap tidurnya. Perlahan Nuril memindahkan kepala sang istri,ia mengibaskan tangannya yang terasa lemas karena kurangnya pasokan darah sebab tertindih kepala sang istri. Nuril mengecup kening Risda sebelum turun dari ranjang.
Dengan perlahan, Nuril keluar dari dalam kamar. Mengambil air wudhu dan melaksanakan tahajjud di lanjutkan sholat witir. Sepertiga malam dalam kesunyian,saat rasa sedang damai-damai nya dalam lelap tidur. Lelaki itu terbiasa bermunajat pada Allah, mendekatkan diri pada sang pemilik kehidupan. Berkeluh-kesah atas apa yang terkadang tak mampu ia ucapkan dalam lantang suaranya.
Hanya pada Allah ia menyerahkan segala urusannya, menggantungkan segala harapannya. Menceritakan segala kepahitan serta kenikmatan dalam hidupnya. Karena hanya pada Allah ia percaya, bahwa selalu ada penyelesaian dalam setiap permasalahan. Allah selalu punya rencana indah dalam hidupnya.
Sampai kumandang adzan subuh terdengar, Nuril masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Lelaki itu berdiri dari duduknya melaksanakan sholat dua rakaat sendiri. Ia membiarkan sang istri untuk meneruskan tidurnya. Karena ia tahu sang istri sedang kedatangan tamu bulanan.
Selesai dengan sholat subuh nya. Nuril kembali ke kamar, melihat sang istri yang ternyata masih meringkuk di balik selimut. Ia tak berniat membangunkan istrinya, semalam mereka tidur cukup larut. Dan rasa khawatir istrinya saat ia tak memberi kabar kemarin jelas mengganggu perasaan sang istri. Membuat wanita itu kini tertidur begitu lelap.
Nuril yang telah mengenakan pakaian santai di rumah. Berupa kaos oblong pendek berwarna abu serta celana pendek selutut berwarna hitam. Lelaki itu menuju dapur, melihat bahan mentah di sana. Daun singkong sepertinya telah sang istri siapkan untuk membuat menu pagi ini.
Nuril mengambil panci rice cooker dan mengisinya dengan beras. Ia cukup paham dengan tata cara menanak nasi. Meski ia sebelum menikah tinggal bersama kedua orang tuanya. Namun sang ibu melatih untuk semua anak-anaknya harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi meskipun ia lelaki ia tak cukup cekatan untuk melakukan pekerjaan dapur.
__ADS_1
Usai menanak nasi dalam rice cooker, Nuril merebus daun singkong, sembari menyiapkan bahan untuk di jadikan sambal. Ia berencana membuat lalap saja. Pergerakan lelaki itu cukup terampil, membuat seseorang yang ternyata sedang berdiri di gawang pintu dapur tersenyum memperhatikan.
Risda, wanita itu beberapa saat lalu terbangun dari tidurnya dan sedikit terkejut saat melihat jam dinding menunjukkan hampir pukul enam pagi. Suaminya tak lagi ada di sampingnya ia bergegas turun dari ranjang. Dan suara benda beradu pelan terdengar di dalam dapur. Ia berjalan perlahan untuk melihat apa yang sedang suaminya lakukan pagi itu. Dan sungguh membuatnya terharu. Lelaki itu selalu punya cara untuk mengistimewakan dirinya.
Perlahan-lahan, Risda melangkah mendekati Nuril yang sedang meracik sambal. Dari balik tubuh kekar dengan punggung lebar itu,Risda memeluk sang suami.
'' Assalamualaikum suami,pagi cintanya aku,'' sapa manja Risda yang membuat Nuril melengkungkan bibirnya. Lelaki tersebut, membalikkan badan. Menatap wajah cantik sang istri.
'' Wa'alaikumussalam istri, sayangnya abang. Udah bangun ?,''tanya Nuril dengan nada yang begitu lembut. Risda mengangguk dengan tatapan tak lepas dari wajah suaminya.
'' Kok gak bangunin Risda si Bang ?,'' tanya Risda sembari menengadah menatap sang suami namun tangannya melingkar di pinggang Nuril. Hingga tubuh mereka tak berjarak. Nuril meraih pinggang sang istri dan membalas tatapan wanita itu dengan menundukkan sedikit wajahnya.
''Kelihatannya kamu capek banget, lagian kamu lagi halangan gak sholat jadi abang biarin kamu tidur. Dan pagi ini biar abang yang masak,'' ucap Nuril. Lelaki itu mensejajarkan wajah mereka,dan menggesekkan ujung hidung keduanya.
'' Tuan putri, cukup duduk dan lihat koki handal ini akan membuat masakan spesial untuk tuan putri,'' ucap Nuril tepat di hadapan wajah sang istri. Keduanya tertawa kecil dan saling melepaskan pelukannya. Nuril membawa sang istri untuk duduk di kursi dan ia kembali bergelut dengan alat memasak.
Awalnya Risda , diam patuh menuruti sang suami namun lama-kelamaan jenuh juga hanya duduk diam. Akhirnya sepasang suami istri itu bekerja sama memasak pagi itu. Risda menyiapkan sambal sedang Nuril mengambil beberapa ekor lele yang ia pelihara di kolam kecil di belakang rumah. Jadilah pagi itu mereka tampak bahagia menyiapkan menu makanan yang akhirnya mereka masak dalam jumlah cukup banyak. Mereka berencana akan membaginya dengan beberapa tetangga yang tinggal dekat dengan rumah mereka.
__ADS_1