
Kedua sekuriti itu segera membawa tubuh Ashraf yang terluka kerumah sakit.
"tolong Dira...tolong ia...dia dalam bahaya " kata Ashraf sebelum ia tak sadarkan diri
Seorang wanita duduk sambil memegangi tangan Ashraf yang masih terbaring koma, ia tak henti-hentinya menangis.
"bangunlah sayang, bangun!, mama disini sayang" kata wanita itu
Seorang lelaki paruh baya memasuki bangsal perawatan Ashraf.
"apakah dia belum sadar" tanya laki-laki itu
"belum abi" kata wanita itu sambil mengusap air matanya
"siapa yang sudah mencelakainya akan mendapatkan balasan dariku, tunggulah sampai aku menemukanmu aku akan mencincang tubuhmu " kata Rasyid Amrullah
"sudahlah abi, mungkin ini peringatan juga agar abi segera menjauhi bisnis haram abi, karena bisa jadi saingan bisnis abi yang melakukan ini pada Ashraf putra kita" kata Zainab Amrullah
"aku akan segera menemukan siapa pelakunya" kata Rasyid sambil meninggalkan kamar rumah sakit itu
********
Haidar segera memarkirkan mobilnya kedalam vila miliknya, ia segera masuk kedalam rumah untuk mencari keberadaan Dira.
"Dira!!!, Dira!" teriak Haidar dengan suara lantangnya memanggil Dira yang tak kunjung menemuinya
"kemana anak itu!!" umpat Haidar kesal
Tiba-tiba Haidar mendengar suara motor yang berhenti dihalaman rumahnya, ia melihat Dira turun dengan membawa sayuran.
"darimana saja kamu!" tanya Haidar dengan nada tinggi
"aku dari pasar" jawab Dira
Haidar segera mengambil belanjaan Dira dan melemparkannya ke lantai.
"ikut aku sekarang!!" teriak Haidar sambil menarik lengan Dira
"aww, sakit tuan!!" teriak Dira karena Haidar mencengkeram tangannya dengan sangat kuat
"baru segitu saja sudah sakit!" kata Haidar
Haidar kemudian mendorong tubuh Dira hingga tubuhnya membentur tembok, ia kemudian melayangkan sebuah tamparan kewajahnya.
*plaak!!
"dasar pel*cur!!, berani-beraninya kau berselingkuh dengan Ashraf" kata Haidar sambil kembali menampar pipi Dira
__ADS_1
Karena tamparan yang begitu keras membuat bibir Dira mengeluarkan darah, Dira hanya meringis sambil memegangi pipinya yang terasa sangat sakit, mulutnya masih terkunci ia tak berani membela diri karena ia memang merasa bersalah.
"bukankah sudah aku bilang jangan menemuinya ataupun menjawab pesan darinya tapi kamu tak pernah mendengar kan ucapanku, asal kau tahu Ashraf bukan lah lelaki yang baik seperti yang kamu bayangkan, ia adalah seorang baj*ngan yang sudah ribuan kali meniduri wanita-wanita lugu sepertimu" maki Haidar sambil melemparkan sebuah majalah kearah Dira
Dira hanya tertunduk sambil terisak, menyesali perbuatannya.
"maafkan aku tuan, aku menemuinya karena perintah dari ka Hafsah untuk mengambil hasil kemo, hiks... hiks" kata Dira sambil terisak
"lalu kemana lagi setelah kamu mengambil hasil kemo itu!" tanya Haidar
"dokter Ashraf mengajakku makan siang, setelah itu ia mengantarkan aku pulang" jawab Dira sambil terus menunduk ia tak berani menatap wajah Haidar yang begitu menakutkan ketika sedang marah
Haidar cukup puas dengan jawaban dari Dira, ia tahu bahwa gadis itu tak mungkin membohonginya. Ia kemudian meninggalkan Dira yang masih menangis sambil menahan sakit karena tamparannya.
Haidar segera mengambil sayuran yang berserakan dilantai, ia kemudian membawanya masuk kedalam.
"sekarang kamu masaklah masakan yang lezat untuku!" perintah Haidar sambil melemparkan plastik berisi sayuran kepada Dira
Dira segera bangkit dan pergi ke dapur untuk memasak.
Satu jam berlalu Dira sudah menata meja makan dengan masakan yang baru ia masak, ia kemudian masuk kedalam kamar untuk menemui Haidar.
"makanannya sudah siap tuan!" kata Dira
"aku ingin kau membawakannya kesini untukku, aku sedang malas pergi ke bawah" kata Haidar
Dira kemudian pergi kemeja makan untuk mengambil makanan untuk Haidar, ia segera memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya kepada Haidar.
"cih, kenapa kamu selalu menganggapku seolah-olah sebagai pembantu" batin Dira
Ia terus menyuapinya, sampai nasinya habis tak bersisa.
"minum!" teriak Haidar
Dira segera memberikan segelas air putih kepada Haidar
"sekarang siapkan air panas!, aku mandi" perintah Haidar
"hufft!!, sampai kapan aku harus begini ya Allah" batin Dira
Ia langsung pergi kekamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Haidar.
"airnya sudah siap tuan" kata Dira
Haidar kemudian berendam dikamar mandi, sedangkan Dira membersihkan darah yang masih keluar dari ujung bibirnya, ia kemudian mengompres pipinya yang masih memar karena tamparan dari Haidar.
Malam mulai menjelang, Dira masih duduk diluar sambil mengompres pipinya sembari menikmati indahnya cahaya rembulan.
__ADS_1
"Dira!!!" panggil Haidar
Dira segera menemui Haidar yang sudah memanggilnya.
"mau apalagi baj*ngan ini" batin Dira
"aku mau tidur!" kata Haidar sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang
"tuan tidur saja duluan aku masih belum mengantuk" kata Dira
"aku mau kau menemani aku tidur!" kata Haidar dengan nada tinggi
"pasti dia akan memperkosaku berkali-kali" batin Dira
Dira segera membaringkan tubuhnya disamping Haidar.
Haidar memiringkan tubuhnya ia menatap Dira yang masih memegangi kompresan dipipinya.
"apa masih sakit?" tanya Haidar
Dira hanya mengangguk.
"maafkan aku Dira" batin Haidar
Dira kemudian berdiri meninggalkan Haidar.
"mau kemana kamu?" tanya Haidar
"aku mau menaruh kompres ini kedapur" kata Dira
Dira kemudian masuk lagi kedalam kamar, ia kemudian berbaring disamping Haidar.
Haidar segera memeluk tubuhnya, ia juga kemudian mencium bibir Dira.
"awww!, sakit tuan!!" kata Dira mendorong Haidar yang mencium bibirnya yang masih terluka
Haidar segera menghentikan ciumannya, ia melihat ujung bibir Dira yang mengeluarkan darah.
"sial, ini gara-gara ulahku" kata Haidar dalam hati
Haidar kemudian mencium kening istrinya itu dan meminta maaf, dan berusaha mencumbunya tetapi Dira segera menolaknya dan berlari menjauh darinya.
Haidar sadar jika Dira benar-benar marah padanya kali ini, ia kemudian segera memeluknya.
"Maafkan aku sayang," bisiknya pelan
Sementara itu Hafsah masuk kedalam rumah yang tak terkunci itu, ia sengaja datang hanya untuk memastikan apakah Haidar benar-benar menghukum Dira atau tidak.
__ADS_1
Ia kemudian berhenti ketika melihat Dira dan Haidar yang sedang berpelukan, hatinya begitu perih melihat perlakuan mesra haidar kepada Dira.
"dasar pembohong, bahkan kau juga sudah mulai membohongiku hanya untuk bercinta dengan pel*cur itu" kata Hafsah kecewa