
Pagi harinya seperti biasa, Ashraf bersiap-siap untuk pergi bekerja. Begitu juga dengan Rasyid yang juga kembali bekerja seperti biasa.
Tinggalah Dira dan Fira saja yang ada di apartemen tanpa pembantu itu.
"selamat ya Fir, akhirnya lo udah jadi istri sahnya tuan Rasyid" kata Dira memulai pembicaraan
" iya, tapi aku gak bahagia" kata Fira
"lho kenapa?, bukannya lo harusnya seneng karena itu yang kamu mau kan?, jadi istri sahnya tuan Rasyid" kata Dira
"iya, karena aku sebenarnya tidak suka sama dia, aku menyukai orang lain " kata Fira
"kenapa lo ga ngomong aja sama tuan Rasyid, pasti dia akan ngertiin kamu" kata Dira
"lo salah, kalau aku ngomong sama dia bisa jadi aku malah dibunuhnya, asal lo tahu dia itu seorang mafia yang akan ngelakuin apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan" kata Fira
"yang bener Fir" kata Dira bergidik
"iya, makanya lo harus bantuin gue buat bunuh dia" kata Fira
Dira terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu.
"lo udah gila Fir !!" kata Dira
"gue emang sudah gila sejak gue jatuh cinta sama Ashraf, dan gue akan lakuin apapun untuk mendapatkannya, termasuk bunuh lo" kata Fira yang kemudian mendorong tubuh Dira hingga jatuh membentur tembok
"awww!!!, lo udah gila Fira, lo udah dibutakan cinta, ingat Fira gue sahabat lo" kata Dira sambil meringis menahan sakit
"gue gak peduli, lo harus aku singkirin karena lo akan menghalangi rencana gue" kata Fira
Dira mencoba bangkit dan berlari meninggalkan Fira yang mulai memburunya.
"ya Allah tolong selamatkan aku" kata Dira berlari keluar dari apartemen itu
Dengan nafas yang terengah-engah Dira terus berlari menuruni tangga.
Namun Fira dengan cepat berhasil mengejar Dira, ia segera mendorong Dira yang sedang menuruni tangga hingga akhirnya jatuh dari tangga.
Tubuhnya berguling-guling menuruni tangga, Fira hanya menyeringai puas memandangi sahabatnya yang sudah jatuh berlumuran darah.
"satu orang sudah berhasil aku singkirkan, tinggal kau tua bangka!!" batin Fira
************
Hafsah mendatangi Ashraf untuk melakukan kemoterapi bersama Haidar.
"halo Yash, bagaimana keadaan Dira?" tanya Hafsah
__ADS_1
"Dira baik-baik saja, dan Alhamdulillah bayinya juga sehat" jawab Ashraf
"dimana dia sekarang?" tanya Hafsah
"dia ada di apartemenku sekarang" jawab Ashraf
"apa kau akan menikahinya?" tanyanya lagi
"Insya Allah setelah ia melahirkan aku akan melamarnya" jawab Ashraf
Deg, seperti tersengat listrik saat Haidar mendengar ucapan Ashraf yang ingin melamar Dira, hatinya terasa sakit seakan tak rela jika Ashraf akan menikahi Dira.
"kenapa hatiku tak rela mendengar Yash akan menikahi Dira, apa aku mulai menyukainya?" batin Haidar
"syukurlah aku senang mendengarnya" jawab Hafsah
"tapi bolehkan aku menjenguknya?" tanya Hafsah
"tentu saja, asal kau tak menyakitinya" jawab Ashraf
Setelah selesai melakukan kemoterapi Hafsah mengajak Haidar untuk menemui Dira di apartemen Ashraf.
Sesampainya disana ia terkejut karena mendapati semua penghuni apartemen yang mengerubuti sesuatu dihadapannya.
Hafsah yang penasaran segera masuk dalam kerumunan itu, ia langsung membulatkan matanya ketika melihat Dira yang berlumuran darah tergeletak disana.
"Masya Allah kenapa kalian cuma diam dan menontonnya saja, cepat tolong dia!!, bawa dia kerumah sakit!" teriak Hafsah yang kesal melihat orang-orang yang seharusnya menolongnya malah melihatnya saja.
Sesampainya dirumah sakit, ia segera membawanya keruang UGD.
"ya Allah tolong selamatkan dia ya Allah" batin Haidar yang sangat cemas dengan keadaan Dira
Hafsah merasa cemburu melihat suaminya yang begitu menghawatirkan Dira.
"aku tahu kau mulai menyukai sayang" batin Hafsah
Ashraf segera mendekati dokter yang, baru saja keluar dari ruang UGD.
"bagaimana keadaan Dira Dev?" tanya Ashraf
"lo harus sabar bro, sepertinya dia masih kritis dan harus dipindah ke ruang ICU" jawab Devin
"bagaimana dengan bayinya?" tanya Hafsah
"Alhamdulillah bayinya selamat cuma ibunya saja yang kritis" kata Devin.
"syukurlah " kata Hafsah
__ADS_1
"sayang!" kata Haidar berusaha menutup mulut Hafsah
"kenapa sih " tanya Hafsah kesal
"kamu gak boleh ngomong kaya gitu, kita harus menjaga perasaan Yash" ucap Haidar
Hafsah yang kesal segera berlari keluar meninggalkan Haidar.
"aku tahu kau pasti sedih karena jal*ang itu terluka, aku doakan semoga dia mati setelah melahirkan " gumam Hafsah
"sebenarnya apa yang terjadi dengan Dira?" tanya Ashraf pada Haidar
"aku tidak tahu, yang jelas ketika aku datang ke apartemen kamu dia sudah tergeletak bersimbah darah dibawah tangga" jawab Haidar
"terima kasih kau sudah datang tepat waktu dan menolongnya" jawab Ashraf
"sama-sama, tapi maaf aku tak bisa lama-lama disini, aku harus menyusul Hafsah" kata Haidar
Ia segera berlari menyusul Hafsah yang sudah lebih dahulu meninggalkannya.
Hafsah masih berdiri disamping mobilnya menunggu Haidar.
"kamu kenapa sih?" tanya Haidar bingung melihat tingkah istrinya
"aku mau pulang!!" kata Hafsah
"iya, tapi aku mohon jangan marah lagi, aku sudah menuruti semua keinginanmu tapi kau malah marah denganku" kata Haidar bingung
"sudahlah tidak udah dibahas aku ingin istirahat" kata Hafsah yang mulai menyadarkan kepalanya dikursinya
Haidar segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sesampainya dirumah Hafsah langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya.
"aku balik kerja dulu ya sayang" kata Haidar
Hafsah hanya mengangguk tanpa menoleh kearah Haidar. Ia kemudian duduk ditepi ranjang setelah Haidar meninggalkannya.
Ia berjalan menuju kemeja riasnya, ia duduk dan membuka hijabnya.
Ia mulai berkaca sambil menyisir rambut panjangnya.
"apa aku sudah tidak cantik lagi" kata Hafsah lirih
Ia kemudian melihat rambutnya yang mulai botak karena banyak yang rontok.
"bahkan rambutku pun sebentar lagi akan habis, karena kanker yang terus menggerogoti tubuhku" kata Hafsah sambil menitikkan air mata
__ADS_1
"wajar jika kau menyukainya, aku sudah tidak bisa melayani mu lagi seperti dulu, aku juga sudah mulai menua dan jelek, apa aku salah jika aku berharap kau tetap menyayangi ku seperti dulu" kata Hafsah sambil terisak
"walaupun aku tahu usiaku tidak akan lama lagi, tapi aku tidak ingin meninggalkan dirimu sendirian, setidaknya ada seorang anak yang akan menemanimu sepeninggal ku nanti" kata Hafsah lagi