
"bagaimana keadaan Dira dok?" tanya Ashraf
"anda tidak usah cemas, ini biasa terjadi kepada wanita yang sedang hamil muda" kata dokter itu sambil tersenyum
"apa hamil??" tanya Ashraf
"iya, istri anda sedang hamil, usia kehamilannya sudah dua minggu" kata dokter
Ashraf terkejut mendengar berita itu.
"Dira hamil??, dan itu anak Haidar" kata Ashraf dalam hati
"kenapa tuan, apa anda tidak senang?" tanya dokter itu
" ohh tii..dak, tentu saja aku senang" kata Ashraf sedikit menutupi perasaannya yang kacau
"baiklah, istri anda boleh pulang, dan dia tidak boleh terlalu capek agar kandungannya tidak bermasalah" kata dokter itu sambil memberikan sebuah resep obat pada Ashraf
"terima kasih dok" kata Ashraf
Ia kemudian berjalan menemui Dira yang masih terbaring diatas ranjangnya.
"apa yang dokter katakan padamu mas?" tanya Dira
Ashraf hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Dira.
"hey...kenapa kau diam?" tanya Dira lagi
"kamu baik-baik saja, cuma perlu istirahat saja" jawab Ashraf
" oh, berarti aku sudah boleh pulang kan?" tanya Dira
Ashraf hanya mengangguk dan menuntun Dira keluar dari rumah sakit.
Ashraf melajukan mobilnya menuju ke rumah Dira.
Ia kemudian menghentikan mobilnya didepan rumah Dira.
"kamu harus banyak istirahat, jangan terlalu cape" kata Ashraf sambil mengantar Dira sampai ke depan pintu rumahnya.
" terima kasih, sudah mengantarku pulang" kata Dira
"iya, jangan lupa minum obat ya" kata Ashraf sambil meninggalkan Dira
Ashraf segera melajukan mobilnya, meninggalkan rumah Dira.
Setibanya dirumah, ia segera masuk kekamarnya. Ia duduk termenung di tepi kasur.
Dia masih memikirkan tentang kehamilan Dira yang membuatnya menjadi bingung, ia sangat senang ketika mendapatkan jawaban dari Dira yang menerima cintanya tapi disisi lain ia harus kecewa karena menerima kenyataan bahwa Dira sedang mengandung anak dari Haidar.
"apa yang harus aku lakukan?, aku sebenarnya sangat mencintai Dira, tapi aku tak mau menerima kehadiran buah cinta Dira dan Haidar, apa aku harus melupakan Dira?" kata Ashraf bimbang
***********
__ADS_1
Sudah tiga hari Dira tidak mendapatkan kabar dari Ashraf, mereka memang tak berkomunikasi lagi setelah pertemuan terakhir mereka.
"mungkin ia sibuk" batin Dira yang mulai mengkhawatirkan Ashraf
"Dira!!" panggil bu Hindun
"iya ibu" jawab Dira sambil bergegas menemui ibunya
"ada apa ibu" kata Dira
"nih ibu beliin nasi Padang kesukaanmu" kata Hindun sambil memberikan sebungkus nasi Padang pada Dira
Aneh bila biasanya Dira sangat menyukai makanan itu, tiba-tiba ia sangat enggan untuk memakannya, bahkan mencium baunya saja sudah membuatnya mual dan muntah-muntah.
"kamu kenapa Dira?" tanya ibunya sambil memijat tengkuknya
"gak tau bu, mencium aroma nasi Padang tadi membuatku mual dan ingin muntah" jawab Dira
" kamu masuk angin kali nak" kata bu Hindun
" mungkin" jawab Dira
"sekarang istirahat saja, biar nanti ibu kerokin ya" kata bu Hindun
"tidak usah bu, nanti dibawa rebahan juga enakan lagi" ucap Dira
"yaudah kamu istirahat saja" kata bu Hindun
Adzan magrib mulai berkumandang, Dira segera bangun untuk menjalankan ibadah sholat Maghrib. Namum tubuhnya terasa sangat lemas sehingga ia terjatuh saat sedang mengambil wudhu.
**bruuughh!!!
Bu Hindun segera berlari menuju kekamar mandi, dan ia segera memapah Dira menuju kekamarnya.
"badan kamu panas, Dir. Kita periksa ke dokter saja ya nak" ajak bu Hindun
Ia kemudian memanggil tukang ojek untuk mengantarkan mereka ke klinik yang tak jauh dari rumahnya.
"anak saya sakit apa bu dokter?" tanya Bu Hindun ketika seorang dokter selesai memeriksa putrinya
"anak ibu tidak sakit, kondisi seperti ini wajar dialami oleh ibu-ibu yang sedang hamil muda" kata dokter
"jadi anak saya hamil dok?" tanya bu Hindun tidak percaya
"iya ibu dan kehamilannya sudah masuk minggu ketiga" jawab dokter Anis
"ya Allah kasian sekali anaku, ia hamil ketika suaminya meninggal" kata bu Hindun sedih
"kenapa ibu menangis?" tanya Dira
"tidak apa-apa nak, kamu hamil " kata Bu Hindun
"jadi Dira hamil bu?" Dira memastikan ucapan ibunya
__ADS_1
"iya, makanya ibu sedih nak karena anakmu belum lahir saja sudah menjadi yatim" kata bu Hindun berlinang air mata
"sudahlah bu, lagian ini bukan anak Dira, kalau kak Hafsah tahu Dira hamil dia pasti akan meminta anak Dira" kata Dira sedih
"kamu yang sabar ya nak" kata bu Hindun sambil mengusap lembut rambutnya
Setibanya dirumah Dira segera masuk kedalam kamarnya.
"apa aku harus mengabari kak Hafsah atau tidak ya" kata Dira bingung
"sudahlah nanti saja aku mengabarinya kalau kandungan ku sudah besar" batin Dira
Ia kemudian teringat dengan perubahan sikap perubahan sikap Ashraf setelah mengantarnya ke dokter beberapa hari lalu.
"sekarang aku tahu kenapa sudah tiga hari kau tak menghubungiku, kau pasti mundurkan setelah mengetahui aku hamil" kata Dira sambil tersenyum kecut menerima kenyataan bahwa Ashraf tak mau lagi bersamanya
***************
Sudah satu bulan lebih Ashraf tidak menghubungi Dira. Dia ingin sekali melupakan bayangan Dira, namun entah mengapa semakin ia mencoba melupakan Dira, semakin ia merindukannya.
Ashraf kembali mengunjungi rumah Dira, seperti biasa ia hanya menatap Dira dari kejauhan. Ia hanya ingin melihat Dira saja, bahkan ia sudah melakukan hal konyol itu selama dua minggu.
" syukurlah kau baik-baik saja" kata Ashraf yang sedang menatap Dira dari kejauhan.
"om lagi nyari siapa?" tanya Rara yang baru saja pulang sekolah
Ashraf tersentak mendengar ucapan anak kecil didepannya.
"oh..om cuma sedang nyari bengkel saja, apa ada bengkel daerah sini?" tanya Ashraf mencoba mengalihkan kegugupannya
"kalau bengkel masih jauh om dari sini, kalau om mau biar Rara antar" kata Rara
"oh tidak usah dek, biar om kesana sendiri saja, terima kasih ya infonya" kata Haidar
Ia kemudian melajukan mobilnya kembali kerumahnya.
Sesampainya ia dirumahnya, ia terkejut mendapati ibunya yang sudah jatuh tak sadarkan diri.
"mah..mamah!!" kata Ashraf mencoba membangun kan ibunya tapi ibunnya tak juga membuka matanya
Ia kemudian memeriksa denyut nadinya, dan kemudikan ia segera membawa ibunya ke rumahh sakit.
"sepertinya ia terkena serangan jantung" kata Fero sahabat Ashraf
"terima kasih Fer, tolong berikan yang terbaik buat ibuku" kata Ashraf
Ia kemudian membuka ponsel ibunya yang sedari tadi digenggam oleh ibunya.
Dan berapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah kiriman foto abinya bersama wanita muda yang dikirim oleh nomor tak dikenal.
Ia segera menelpon nomor tak dikenal itu, namun berkali-kali ia menelponnya tak pernah ada jawaban dari pemilik nomor itu.
"siapa yang berusaha untuk menghancurkan keluargaku" kata Ashraf
__ADS_1