
"tuan harus sabar, dan tidak usah seperti ini" kata Dira sambil menarik lengan Haidar yang berdarah
Ia kemudian mengambil tisu dari tasnya dan membersihkan darah yang menetes dari telapak tangan Haidar.
Haidar hanya tertegun melihat perhatian Dira.
Ashraf yang baru saja keluar dari ruang perawatan merasa kecewa melihat Dira yang masih memperdulikan Haidar.
Haidar segera menarik lengannya ketika melihat Ashraf sudah berdiri didepannya.
"bagaimana keadaan Hafsah?" tanya Haidar
"dia masih kritis, dan sepertinya harus di rawat inap" jawab Ashraf sambil terus menatap Dira
" apa boleh aku melihatnya?" tanya Haidar
"silahkan" jawab Ashraf
Haidar segera masuk kedalam ruang perawatan untuk menemui istrinya.
"kamu kenapa sayang?" tanya Dira
"kenapa kau masih perhatian dengan Haidar, apa kau masih menyukainya?" tanya Ashraf
"oh itu yang membuatmu marah" kata Dira sambil tertawa kecil
"kenapa kau malah tertawa, bukannya menjawab pertanyaan ku" kata Ashraf kesal
"iya sayang, aku senang karena kamu tuh perhatian banget ke aku, dan asal kamu tahu aku melakukan hal itu cuma untuk menolongnya bukan karena cinta, aku cuma mencintai dua orang laki-laki di dunia ini " kata Dira
"kok dua, jadi aku nomor berapa?" tanya Ashraf penasaran
"kamu nomor dua sayang" jawab Dira
"kok nomor dua, nomor satunya siapa?" kata Ashraf semakin kesal
"nomor satu ayahku sayang, baru kamu. Tapi ayahku kan sudah meninggal jadi sekarang kamu nomor satu bukan dua lagi," kata Dira
"ihh, sayang kamu pinter banget sih membuat hatiku dag-dig-dug" kata Ashraf sambil mencubit pipi Dira
"aww!!!" jerit Dira
"sakit ya?" tanya Ashraf
"dikit" kata Dira sambil mengerlingkan matanya
"hmmm, mulai nakal nih" kata Ashraf sambil mencubit pipi Dira lagi
"udah dong sayang sakit nih!" kata Dira
"abis kamu yang nantangin tadi" jawab Ashraf
"sekarang kita cari makan yuk aku lapar" ajak Dira
"ayok, aku juga lapar" jawab Ashraf
Haidar menatap keduanya dengan tatapan yang penuh kecemburuan.
"andai saja waktu bisa aku putar ulang, aku akan memperlakukanmu dengan baik Dira, aku mau kau jadi istri sahku" kata Haidar lirih
Baru saja Ashraf menyantap makan siangnya, tiba-tiba ponselnya berdering.
"halo"
"dok, kondisi pasien Hafsah tambah kritis, dokter ditunggu melakukan tindakan secepatnya" kata seorang perawat
__ADS_1
"baik aku akan segera kesana" jawab Ashraf
Ia kemudian mematikan ponselnya dan berpamitan pada Dira.
"sayang aku tinggal dulu ya, karena ada pasien yang kritis, inget habis makan langsung balik keruanganku jangan kemana-mana" kata Ashraf
"iya sayang hati-hati" balas Dira
Ashraf segera berlari menuju kerumah sakit.
Ia langsung menuju ruang perawatan Hafsah, dan memeriksanya.
"persiapkan ruang operasi sekarang" kata Ashraf
"semuanya segera bawa pasien ke ruang operasi" titah Ashraf
Semuanya bergegas membawa Hafsah menuju ruang operasi.
Setelah hampir dua jam jam berlangsung, akhirnya operasi pun selesai.
Ashraf keluar dan menemui Haidar yang menunggu didepan ruang operasi.
"bagaimana keadaan Hafsah?" tanya Haidar
"operasi berhasil, kami sudah berhasil mengangkat sel kankernya, tapi kita masih menunggu kondisi Hafsah yang belum stabil, dia masih kritis pasca operasi" kata Ashraf
Haidar tertunduk lemas saat mendengar kabar dari Ashraf.
"lebih baik kau berdoa, daripada kau hanya duduk disini" perintah Ashraf
"kau benar Yash, terima kasih atas perhatian mu" kata Haidar
Haidar segera mengambil air wudhu dan sholat di mushola rumah sakit.
Ashraf segera menghubungi Dira.
"sayang kamu dimana?" tanya Ashraf
"aku diruangan kamu " jawab Dira
"baiklah aku kesana" kata Ashraf
Ia segera masuk keruangannya untuk menemui Dira.
Ashraf langsung memeluk Dira dari belakang.
"aku gak bisa jauh dari kamu sayang, baru dua jam aku meninggalkan kamu rasanya aku seperti tak bertemu kamu selama berbulan-bulan" kata Ashraf sambil mencium tengkuk Dira.
"sayang bayinya nendang-nendang nih, kayanya dia gak mau kalau ibunya digombalin deh" goda Dira
"masa sih, mana coba aku mau denger" kata Ashraf sambil menempelkan telinganya diperut buncit Dira
"hmmm, kamu boong sayang, kata dede bayi katanya aku boleh kok cium mamanya" kata Ashraf
"diih itu sih maunya kamu" kata Dira
"kalau iya emang kenapa, apa kamu menolak" ucap Ashraf yang mulai mendekatkan wajahnya ke Dira
Dira berjalan mundur mencoba menghindari tatapan Ashraf dan deru nafasnya yang mulai tak beraturan.
Ashraf kemudian mendongakkan dagu Dira dan mencium lembut bibirnya.
Haidar yang baru saja membuka ruang kerja Ashraf segera membalikkan badannya.
"maaf!" kata Haidar sambil menutup kembali pintu ruangan itu.
__ADS_1
Ashraf segera melepaskan ciumannya dan menyusul Haidar.
"ada apa ?" tanya Ashraf mendekati Haidar
"tadi aku lihat Hafsah sempat menggerakkan tangannya" kata Haidar
"baiklah, ayo kita cek keadaannya sekarang?" ajak Ashraf
Haidar segera mengikuti Ashraf menuju ruang perawatan Hafsah.
"sepertinya masa kritisnya sudah selesai, kita tunggu saja sampai dia siuman" kata Ashraf
"syukurlah, aku sangat senang mendengar nya" kata Haidar
"sekarang kau harus memikirkan keadaan dirimu juga, kau belum makan kan dari tadi, sekarang pergilah makan, aku akan menjaganya" perintah Ashraf
"aku tidak lapar Yash" jawab Haidar
"tapi kau harus makan, agar kau tetap bisa menjaganya, bagaimana bisa kau menjaganya kalau kau sendiri sakit, apa aku salah?" tanya Ashraf
"kau benar Yash, baiklah aku akan pergi mencari makan, titip istriku" kata Haidar berpamitan
*********
Mbak Sum sangat penasaran dengan kado yang dibawa oleh Hafsah.
"kira-kira isinya apa ya?" kata mbak Sum sambil mengocoknya
"kalau cuma kubuka pasti non Dira gak bakal marah, kan aku tidak mengambilnya, cuma membantu membukannya saja" kata mbak Sum
"kenapa aku begitu penasaran dengan kado ini yah" kata mbak Sum sambil membuka bungkusnya
"seperti bungkusnya, ternyata isinya sangat menarik"
Mbak sum segera mengeluarkan botol parfum dari dalam kado itu.
"hmmm, ternyata isinya cuma minyak wangi"
"kalau aku minta sedikit tidak masalah kan, soalnya wanginya enak banget" kata mbak Sum
Ia kemudian menyemprotkan minyak wangi itu keseluruh tubuhnya.
"hmmm, wanginya enak" kata mbak Sum
Ia kemudian meletakan parfum itu dikamar Dira.
"kok badanku jadi gatel-gatel gini ya" kata mbak Sum sambil menggaruk-garuk badannya
"uhh, semakin lama semakin gatal" kata mbak Sum
"kalau kaya gini aku harus kerumah sakit untuk berobat" kata mbak sum yang mulai melihat bintik-bintik merah di kulitnya
Ia kemudian meminta bang Udin untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit mbak Sum segera menemui dokter Ashraf.
"mbak Sum kenapa, kok badannya sampai bentol-bentol gitu?" tanya Ashraf
"tadi mbak nyobain minyak wangi yang diberikan boleh nyonya Hafsah untuk non Dira, eh malah gatel-gatel gini" kata mbak Sum
"buang minyak wangi itu, mbak. itu bukan minyak wangi tapi cairan yang akan membuat tubuh kita gatal-gatal" kata Ashraf kesal
"untung Dira belum memakainya, bisa bahaya untuk janinnya" batin Ashraf
Ia kemudian membawa mbak Sum untuk berobat di bagian kulit.
__ADS_1