
Malam harinya Fira mengunjungi kamar Dira yang berada di kamar VIP.
"Nice, tak ada seorangpun yang menemanimu berarti aku bebas membunuhmu" ucap Fira
**krieet
Ia membuka pintu kamar itu perlahan, agar Dira tak terbangun. Fira kemudian mengangkat bayi yang ada disebelah Dira, dan membawanya keluar.
**greep!!!
"kau mau bawa kemana anaku" ucap Dira yang terbangun karena naluri keibuannya
"hmmm, aku hanya ingin bermain-main dengan putra kecilmu" ucap Fira dengan senyum liciknya
"kembalikan!!" Dira mencoba merebut bayinya dari Fira tapi karena kondisinya belum pulih pasca melahirkan ia tak bisa berbuat banyak ketika Fira mendorongnya hingga ia jatuh tak sadarkan diri.
"****** sekalian kamu!" teriak Fira
Ia kemudian memasukkan bayi kecil itu kedalam tas ranselnya, agar tidak dicurigai oleh petugas keamanan rumah sakit.
Sesampainya di mobilnya Fira segera membuka tas ranselnya dan mengeluarkan bayi mungil itu.
"cih!!, kenapa kau tidak mati!" gerutu Fira
Gadis itu kemudian meletakan bayi itu dikursi sampingnya.
Sesampainya di apartemennya, ia menggendong bayi itu dan menaruhnya diatas kasur tempat tidurnya.
Karena haus dan lapar bayi itu terus menerus menangis membuat Fira kesal.
'"Berisik!!" teriak Fira
Bayi kecil itu tak kunjung diam hingga membuat Fira bertambah kesal dam menutup wajah bayi itu dengan bantal.
Tiga puluh menit kemudian suara bayi itu sayup-sayup menghilang.
"akhirnya bayi itu diem juga" Fira kemudian membuka banyak yang menutupi wajahnya
"kok diem aja, gak ada gerak-gerak sama sekali" ucap Fira
"dia pasti sudah mati!!, syukurlah jadi tidak perlu repot-repot lagi untuk membunuhnya" ucap Fira
**braak!!!
__ADS_1
Haidar mendobrak pintu apartemen Fira.
Fira segera keluar untuk melihat siapa yang datang.
"hmmm!!, kau ingin mengambil bayimu kan??, ambil saja dia dikamar ku, aku sudah tidak membutuhkan mayat yang tak berguna lagi " ujar Fira sinis
"apa maksudmu!!" teriak Haidar sambil mencekik Fira
"anakmu sudah mati..iya dia mati karena aku menyumpal mulutnya dengan bantal" jawab Fira
Kali ini Haidar tidak bisa mengontrol emosinya lagi, ia terus mencekik Fira hingga gadis itu tak bernafas lagi.
Setelah Fira jatuh terkulai ke tanah Haidar segera mengambil bayinya yang sudah terbujur kaku di kamar Fira.
"hiks...hiks..." Haidar menangis tersedu-sedu melihat bayinya yang sudah terbujur kaku
Ia kemudian mengeluarkan pistolnya dan menembakkannya ke arah Fira.
**dor !!!, dor!!!, dor!!!.
"huaaaaa!!, dasar j*lang!!!, beraninya kau membunuh putraku!!" teriak Haidar
Setelah puas melampiaskan amarahnya, ia segera membawa bayi itu kerumah sakit.
Sedangkan Dira masih tak sadarkan diri karena pendarahan hebat karena bekas luka jahit operasinya yang kembali membuka.
"sepertinya bekas jahitannya belum keringg, itu yang membuatnya mengalami pendarahan hebat" ucap dokter yang memeriksanya
"apa kalian ada yang memilki, golongan darah B, karena pasien membutuhkan darah tersebut" ucap dokter
"saya " jawab Haidar
"baiklah anda harus segera melakukan transfusi darah agar nyawa Dira bisa tertolong."
Haidar kemudian mengangguk dan mengikuti dokter itu.
Ashraf masih menunggu dengan cemas di ruangannya.
"bagaimana keadaan Dira?" tanyanya pada dokter Jhon
"transfusinya sudah selesai, kita tinggal lihat saja reaksinya" jawab Jhon
"terima kasih Jhon" Ashraf segera kembali ke ruang perawatan Dira
__ADS_1
Ia menatap Dira yang masih belum sadarkan diri.
"sayang bangun!!, apa kau tidak merindukan aku, kau tahu aku selalu memikirkan mu hingga aku belum bisa terlelap sampai saat ini, aku sangat mengkhawatirkanmu, aku tidak akan bisa hidup tanpamu sayang" ujar Ashraf sambil mencium telapak tangan Dira
Dira mulai membuka matanya, Ashraf tersenyum senang melihat gadis pujaannya itu.
"kau sudah sadar sayang" Ashraf berusaha untuk membantu Dira duduk
"sayang kamu dimana, kenapa aku tidak bisa melihatmu" Dira menggerak-gerakkan tangannya untuk meraih Ashraf
"aku didepanmu sayang" Ashraf membelai wajah Dira
"tunggu sayang, jangan panik aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi mu" ucap Ashraf
Ashraf kemudian berlari memanggil dokter.
Haidar menatap sedih kearah Fira.
"aku sudah kehilangan Hafsah, dan juga kehilangan bayiku, dan sekarang aku tak mau kehilangan kamu juga" ucap Haidar
Haidar yang sudah tidak memiliki semangat hidup, karena kehilangan istri dan anaknya ia kemudian menghabisi nyawanya sendiri dengan menembakkan pistolnya ke kepalanya sendiri.
*dor!!, dor!!
Seketika tubuh Haidar ambruk ke tanah, dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"sepertinya ia mengalami kebutaan pasca operasi Caesar" ucap dokter Jhon
"apa!!, kau harus tanggung jawab Jhon, karena sudah melakukan mall praktik, dan mengakibatkan seseorang pasien mengalami kebutaan" ucap Ashraf
"ini kecelakaan Yash, sebagai dokter kau seharusnya tahu itu, dan kau tidak usah khawatir karena Dira pasti bisa melihat lagi" jawab Jhon
"apa maksudmu!" tanya Ashraf
"bacalah!!, seseorang memberikannya padaku" Jhon menyodorkan secarik kertas pada Ashraf
"Haidar!!!, dimana dia?" tanya Ashraf
"dia ada di kamar mayat" jawab Jhon
Ashraf segera menuju ke kamar mayat untuk melihat kondisi Haidar.
"kenapa kau begitu bodoh, sehingga harus bunuh diri dan mendonorkan matamu untuk Dira, apa kau benar-benar frustasi karena kehilangan istri dan anakmu??, maafkan aku Haidar aku tak bisa menjadi sahabat terbaik untukmu tapi aku janji padamu aku akan membahagiakan Dira dan akan menjaganya sampai ujung usiaku" ujar Ashraf
__ADS_1
Setelah mendapat donor mata dari Hiadar akhirnya Dira kembali bisa melihat lagi. Dira dan Ashraf kemudian menikah dan hidup bahagia.
**************END***************