
Hafsah segera membalikan tubuhnya, Ia berjalan meninggalkan vila suaminya.
"kita pulang, mang" perintah Hafsah kepada sopirnya
"baik bu" jawab sopirnya sambil melajukan mobilnya
Sesampainya dirumah Hafsah segera menjatuhkan diri keatas kasur, ia kemudian menangis, menyesali keputusan nya meminta suaminya menikah lagi. Hatinya hancur berkeping-keping, baru kali ini ia merasakan kecemburuan yang begitu mengiris hatinya.
Bagaimana tidak, ia melihat didepan matanya suaminya sedang bercinta dengan istri mudanya, walaupun sebenarnya ia yang meminta Haidar untuk sering menginap dirumah Dira, tapi hatinya tak rela ketika ia melihat mereka bercinta.
Pagi harinya Haidar sudah kembali kerumahnya, ia melihat istrinya masih tertidur. Ia kemudian berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Hafsah mulai membuka matanya ia melihat Haidar sudah akan pergi bekerja.
"kapan kamu pulang?" tanya Hafsah
" pukul setengah enam tadi" jawab Haidar
" kenapa kamu tidak membangunkan aku" kata Hafsah
"aku tak tega membangunkanmu, sepertinya kamu sangat lelah" jawab Haidar
" hmmm" jawab Hafsah sambil membetulkan dasi Haidar
"matamu sepertinya sembab, apa kamu habis menangis semalaman?" tanya Haidar saat melihat mata Hafsah yang bengkak
" tidak, mungkin karena aku tidur terlalu lama jadi mataku bengkak" jawab Hafsah
"tidak usah berbohong, pak Harun bilang semalam kamu datang ke villa" ucap Haidar
"aku cuma mau memastikan saja, apakah kamu benar-benar memberikan hukuman kepada Dira atau tidak" kata Hafsah
"jadi kau sekarang sudah mulai tidak mempercayai ku lagi, hah!" kata Haidar kesal
" bukan begitu, aku cuma..." belum selesai Hafsah berkata Haidar sudah memotong pembicaraannya
"bukannya dulu sudah ku bilang aku tidak mau menikah lagi karena aku tak mau menyakiti hatimu, sekarang benarkan apa yang aku katakan, kau cemburu melihatku bermesraan dengan Dira bukan?" tanya Haidar
"baiklah mulai hari ini aku akan menceraikan Dira, aku sudah tidak peduli lagi, aku tak mau rumah tangga yang sudah kita bangun selama sepuluh tahun rusak karena masalah sepele" kata Haidar sambil pergi meninggalkan istrinya
__ADS_1
"sayang tunggu sayang!!, bukan maksud aku seperti itu... sayang!!!" teriak Hafsah sambil mengejar Haidar yang tak menghiraukan tangisannya
Hafsah masih duduk lunglai dilantai, ia masih menangis tersedu-sedu, ia merasa serba salah, di satu sisi ia yang menyuruh Haidar menikah lag, karena ia ingin memiliki seorang anak, tapi disisi lain hatinya merasa sakit ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita lain.
Haidar segera menghentikan mobilnya ketika seseorang dengan sengaja menabrakan mobilnya ke mobil Haidar.
Haidar segera turun dari mobilnya dan bergegas menggedor kaca mobil orang yang sudah menabraknya.
"keluar kau!!!" teriak Haidar
Seorang pria paruh baya keluar dari mobil itu.
"Rasyid Amrullah!!" teriak Haidar kaget melihat siapa yang berdiri dihadapannya
"kenapa kau kaget Haidar Khan !!" jawab Rasyid
Haidar segera mundur menjauh dari laki-laki paruh baya itu, ia sadar kini dirinya dalam bahaya karena sedang berhadapan dengan mafia kelas kakap bernama Rasyid Amrullah.
"jangan lari Khan!!" teriak Rasyid yang mulai mengeluarkan pistol dari balik bajunya.
***dor!!!
Sebuah tembakan melesat dari pistol yang dipegangnya dan mengenai lengan Haidar.
"kau takkan bisa lari dariku tuan Khan, setelah apa yang kau lakukan pada anaku!" kata Rasyid yang kemudian naik kedalam mobilnya dan mengejar mobil Haidar
***dor!!!, dor!!
Rasyid Amrullah terus menembaki mobil Haidar yang melaju sangat kencang.
Kini mobil mereka saling berkejar-kejaran dijalan raya yang tidak terlalu ramai itu.
Rasyid mulai menghubungi anak buahnya, untuk membantunya mengejar Haidar.
Sekarang bukan hanya satu mobil yang mengejar Haidar melainkan ada lima mobil yang terus menyeretnya hingga mobil yang dikendarainya masuk kedalam jurang.
***Duarrr!!!
Terdengar suara ledakan mobil Haidar dari bawah jurang.
__ADS_1
"segera cek kebawah, pastikan kalau Haidar Khan sudah mati!" perintah Rasyid Amrullah kepada anak buahnya
"baik tuan" jawab mereka serempak
Setelah satu jam mereka memastikan bahwa Haidar sudah mati, mereka kembali naik untuk melaporkannya kepada Rasyid Amrullah.
"lapor tuan mobilnya sudah hancur tak bersisa, bisa dipastikan tuan Khan mati terpanggang didalamnya, karena kami sudah menyusuri hutan itu selama satu jam dan kami tak menemukan tuan Khan!" kata salah seorang dari mereka
"baik, sekarang kalian kembali ke markas, pastikan polisi tak menemukan jejak kita" kata Rasyid Amrullah yang meninggalkan lokasi itu
"baik tuan" jawab mereka
***********
Sementara dirumah sakit, Ashraf mulai menggerakkan tangannya setelah dua hari koma.
Zainab yang melihat putranya menggerak-gerakkan tangannya, segera berlari untuk memanggil dokter.
Dokter segera memeriksa kondisi Ashraf yang mulai membuka matanya.
"Alhamdulillah ibu, dokter Ashraf sudah siuman, lukanya juga sudah membaik" kata dokter Baihaqky
"Alhamdulillah ya Allah, syukron katsir dokter, semoga anaku segera lekas sembuh" jawab Zainab sambil mengusap kening Ashraf
Zainab melihat Ashraf sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya masih susah berbicara.
"kamu mau apa sayang, bicaralah sama mamah nak ?" tanya Zainab
"diii....ra" kata Ashraf sambil terputus-putus menyebut nama Dira
"Dira???" tanya Zainab
Ashraf hanya mengangguk.
"kenapa Dira, siapa Dira?" tanya Zainab lagi
Ashraf menarik kertas yang berada diatas meja disamping tempat tidurnya.
"apa kamu butuh pulpen?" tanya Zainab sambil memberikan sebuah pulpen kepada Ashraf
__ADS_1
Ashraf segera mengambil pulpen itu dan menuliskan sesuatu diatas kertas itu, ia kemudian memberikan kertas itu kepada Zainab.
"tolong Dira!!!, dia dalam bahaya" Zainab membaca tulisan Ashraf