
Hari berlalu begitu cepat, Dira bosan karena hanya menghabiskan waktunya dengan menonton televisi seharian. Ia sebenarnya ingin mengunjungi ibunya atau jalan-jalan ke mall untuk menghilangkan kejenuhan yang ia rasakan, tapi ia tidak berani karena belum mendapatkan izin dari suaminya, ia sangat sulit menghubungi Haidar hanya untuk sekedar meminta izin.
Sudah seminggu Haidar belum pulang kerumah dan tak ada kabar, sudah berkali-kali Dira mengirim pesan cuma sekedar menanyakan kabarnya tapi tidak pernah ada jawaban darinya.
Malam mulai menjelang Dira membaringkan tubuhnya di atas kasur, ia mulai memejamkan matanya walaupun belum mengantuk.
***krieeet!!!
Haidar membuka pintuya dan menatap Dira yang sudah tertidur diranjangnya.
Ia segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah mandi perutnya terasa lapar, ia kemudian berjalan keruang makan.
Ia hanya mendapati nasi dan sayur dingin uang tersedia dimeja makan. Ia kembali kekamarnya dan membangunkan Dira.
"Dira bangun!!" panggil Haidar sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dira
Dira segera membuka matanya.
"Iya, ada apa?" tanya Dira yang masih ngantuk
"Cepat masak, aku lapar" perintah Haidar
Dira masih terdiam sebentar diatas kasur untuk mengumpulkan raganya yang belum seratus persen menyatu dengan Sukmanya.
"Ayo cepat, jangan bengong! " kata Haidar lagi
Dira kemudian turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ke dapur.
Ia kemudian mencuci mukanya diwastafel dan segera memasak dengan cepat, setelah selesai ia langsung menemui Haidar dan mengajaknya makan.
Selesai makan Haidar menyalakan televisi dikamarnya, sementara Dira kembali naik keatas kasur untuk tidur, baru saja Dira merebahkan tubuhnya Tangan Haidar segera menariknya.
"Jangan tidur dulu, temani aku nonton" ucap Haidar
Dira kemudian duduk disebelahnya menemani Haidar menonton film yang sedang diputar dihadapannya.
"Kenapa harus nonton blue film sih!" batin Dira yang tidak suka menonton film dewasa
Sesekali ia menundukkan wajahnya ketika sedang berlangsung adegan 21+.
__ADS_1
Haidar sangat menikmati film itu matanya tak berkedip menatap layar televisi dihadapannya.
Ia melirik kearah Dira yang menunduk, ia kemudian mendongakkan wajahnya dan mencium bibirnya cukup lama membuat Dira kesulitan bernafas.
Dira segera mendorong tubuh suaminya dengan nafas yang terengah-engah.
"Kenapa kamu menolakku?" tanya Haidar kesal
"Kamu bisa membunuhku, karena aku kesulitan bernafas," jawab Dira menunduk
"Kita sudah menikah selama lebih dari satu bulan dan kita juga sudah sering berciuman tapi kenapa kamu masih saja amatiran!" gerutu Haidar
"Maafkan aku tuan, lagian sekarang aku juga sedang datang bulan, jadi tidak bisa melayanimu," sahut Dira masih menundukkan wajahnya, gadis itu terlihat ketakutan ketika melihat Haidar marah, wajahnya yang tampan tiba-tiba menjadi menyeramkan seperti seorang mafia
"Cih!!, percuma saja hari aku pulang kerumah ini, lebih baik aku cepat pulang untuk menemui istriku, daripada harus menemani jal*ng sepertimu!" cibir Haidar
Perkataan Haidar kali ini membuat Dira seakan mendapatkan tamparan dan penghinaan yang keras dari pria itu, yang cuma menganggapnya sebagai budak **** saja tanpa mencintainya.
Dira segera bangkit dan merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya, ia segera membalikan badannya membelakangi Haidar karena air matanya sudah mulai membasahi pipinya. Ia sengaja membalikan badannya agar Haidar tidak mengetahui kesedihannya.
********"
Pagi-pagi sekali Haidar sudah rapi dan bersiap untuk berangkat kerja. Ia melihat kearah Dira yang masih tertidur dibalik selimut. Ia sebenarnya tidak ingin berlaku kasar terhadap gadis itu, tapi ia juga tidak mau terjebak dalam romansa yang akan membuatnya sulit untuk meninggalkan Dira nantinya. Karena ia berpikir setelah Dira melahirkan anak untuknya maka kontrak pernikahannya pun harus berakhir, dan ia harus segera menceraikan gadis itu. Memang tidak dapat dipungkiri ia hanya menjadikan Dira sebagai pemuas nafsunya saja. Karena Semenjak Hafsah divonis menderita kanker serviks stadium akhir, membuatnya tak bisa lagi melayani kebutuhan biologisnya.
Suara getar ponsel membuat Haidar segera menghentikan aktivitas mesumnya, ia terus memegangi bagian sensitifnya yang mulai mengeras dan meninggalkan kamarnya. Ia segera mengangkat telepon dari sekertaris nya.
"lya, tunggu sebentar lagi aku sampe" jawab Haidar sambil melangkah menuju mobilnya
************
Haidar sudah tiba dikantornya, ia kemudian berjalan menuju ruangan meeting, beberapa karyawannya sudah menunggunya disana.
Pukul 12.30 meetingnya selesai, Haidar segera pergi menuju keruangannya.
Ia terperanjat dengan kehadiran sahabatnya yang sedang duduk disofa.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Haidar
"Tidak, baru tiga puluh menit yang lalu" jawab Ashraf
__ADS_1
"Tumben kamu kemari, memangnya kamu tidak sibuk" kata Haidar
"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang saja, apa kamu bisa? jawab Ashraf
"Tentu, ayo kita pergi sekarang" ajak Haidar
Kemudian keduanya duduk disebuah kafe yang tak jauh dari kantor Haidar.
"Apa yang kau ingin bicarakan," ucap Haidar
"Apa alasanmu menikahi Dira?" tanya Ashraf
Haidar kaget mendengar pertanyaan dari Ashraf.
"Kenapa, apa kau tertarik dengannya?" jawab Haidar
"Tidak, aku hanya kasian saja dengannya, seperti nya kau tak begitu peduli dengannya?" kata Ashraf
Haidar kemudian menceritakan alasannya menikahi Dira.
"Hmmm, kalau begitu ceritanya, kenapa kamu tak mengadopsi anak saja?" kata Ashraf
"Istriku tidak mau, dia hanya mau mengurus darah dagingnya sendiri" jawab Haidar
"Tapi setidaknya walaupun kau tak mencintainya kau juga harusnya tidak memperlakukan Dira seperti itu?" ucap Ashraf
"Apa maksudmu?" tanya Haidar
"Jangan terlalu memforsirnya, itu hanya akan menyakitinya, lakukan dengan lembut dan jangan terlalu sering, kasihan dia masih terlalu muda untuk mengimbangimu" kata Ashraf
"Ciih, bilang saja kau suka dengannya, tak usah menceramahi ku" batin Haidar yang mulai tidak suka Ashraf mencampuri urusan rumah tangganya
"Berilah ia sedikit perhatian, ia hampir mati kemarin kalau tidak cepat aku tolong, asal kau tahu sepertinya ia kekelahan karena melayanimu" ucap Ashraf lagi
"Sudah cukup Ashraf, kau tidak perlu lagi menceramahiku, aku sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan tidak, jadi tolong jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga kami" kata Haidar yang sudah tidak tahan mendengar Ashraf yang seakan menghakiminya
"Terserah kau saja, bukannya aku ikut campur tapi aku bisa memberikan solusi terbaik agar kamu bisa cepat memiliki anak " jawab Ashraf
"Aku tahu kau suka padanya makanya kamu mengatakan seperti itu" kata Haidar yang kemudian meninggalkan Ashraf
__ADS_1
Ashraf hanya menggelengkan kepalanya melihat kemarahan Haidar.
"Suatu saat kamu akan menyesali tindakamu sobat" kata Ashraf lirih