Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 12 - Dokter Siska


__ADS_3

“Maaf Nyonya, ini salahku.” Pada akhirnya Denis menunduk memohon maaf.


Sementara Ayline hanya merespon dengan helaan napasnya. Bisa apa dia, pikirnya. Dari dulu selalu begini, Denis akan selalu mengambil bagian jadi yang disalahkan. Ayline bahkan pernah bertanya pada Oswald, apakah suaminya itu memang memperkerjakan Denis untuk bertanggung jawab pada semua hal yang berjalan tak sesuai harapan.


“Nyonya Raya yang memerintahkan dan menunjuk Dokter Siska sebagai Dokter pribadi Tuan Oswald selama di sini. Salahku sebab lupa memberitahu Anda,” lanjut Denis menjelaskan.


Penjelasan Denis membungkam Ayline. Ingin protes dan tak setuju, dia tak memiliki alasan yang kuat. Apalagi jika sudah menyangkut Mommy Raya, akan sulit membantah Ibu Mertuanya itu.


Tak mungkin jika Ayline mengatakan alasannya tak setuju dengan kehadiran Dokter Siska sebab wanita itu terlihat mencurigakan. Ayline merasakan ada yang aneh dari sorot mata dokter itu. Dia diam, tak banyak bicara namun sorot matanya seperti menyampaikan banyak hal. Salah satunya, menurut Ayline dokter itu tak menyukai kehadiran dirinya. Begitu yang Ayline tangkap ketika dokter itu menatapnya.


“Sudah! Berhenti berdebat,” tegur Oswald.


“Tunjukkan kamarku,” suruh Oswald Pak Albert. “Aku ingin istirahat sebelum makan malam.”


“Dan Anda Dokter Siska, tinggallah sebentar. Silakan ikut makan malam bersama kami,” ajak Oswald membuat kedua bola mata Ayline membulat.


Apa-apaan Mas Oswald! Gerutunya dalam hati. Bukankah aku sudah jelas-jelas menunjukkan jika aku tak suka dengan kehadiran dokter itu?!


Dokter Siska melirik Ayline yang terlihat tak suka dengan apa yang dilakukan Oswald. Hal ini dimanfaatkan dokter itu untuk semakin memanasi istri dari pemilik pabrik terbesar di Kota Lando.


“Wah, aku sangat tersanjung dengan ajakan Anda, Tuan. Terima kasih, dan jika boleh aku akan ingin menunggu sambil berkeliling di taman,” ucap Dokter Siska sok manja.


“Silakan, Dokter. Buat dirimu nyaman di rumahku,” ucap Oswald namun tatapannya menuju pada Ayline.


Setelah itu Oswald memberi kode pada Ayline untuk ikut dengannya ke kamar. Karena kesal, Ayline bahkan berlalu tak berpamitan pada yang lainnya.


Belum juga kekesalannya hilang, di dalam kamar Ayline mendapatkan teguran dari Oswald. “Ada apa denganmu?! Baru saja Kamu sudah membuatku malu,” ucap Oswald.


“Malu? Memangnya apa yang telah kulakukan?”


“Kamu tak tahu apa kesalahanmu?!” Oswald menepis tangan Ayline yang hendak membantunya pindah dari kursi roda ke atas tempat tidur.

__ADS_1


“Kamu tak sadar jika sudah bersikap kekanakan di depan Dokter Siska? Bersikaplah sebagai seorang Nyonya Pallas, Ayline. Jangan permalukan aku!”


Ayline bungkam sesaat. “Jika begitu inginmu, maka aku minta perlakukan aku juga layaknya seorang Nyonya Pallas.”


“Aku ini istrimu, Mas. Tapi semua tentang kamu, semua tentang rumah tangga kita, diputuskan sendiri olehmu atau orang tuamu,” ucap Ayline.


“Lalu bagaimana caraku untuk mengambil peranku sebagai Nyonya Pallas, hah?” Oswald bungkam tak menjawab pertanyaan Ayline.


“Jawab aku, Mas!” desak wanita itu.


“Bukankah pindah ke sini adalah keinginanmu?” balas Oswald. “Cukup Ayline, aku sedang tidak mood untuk berdebat denganmu.”


“Yang kamu harus ingat, ini adalah kota kecil. Di sini semuanya terbatas. Termasuk keberadaan Dokter. Tak ada pilihan lain, Dokter Siska adalah satu-satunya,” jelas Oswald.


“Lalu apa salahnya dengan Mommy yang ingin hal terbaik untuk aku. Jika aku sembuh, bukankah kamu juga akan bahagia? Kamu tak lagi memiliki suami cacat seperti sekarang!”


Ayline memalingkan wajahnya. Ucapan suaminya semuanya benar, tapi mengapa dia merasa jika Dokter Siska bukanlah pilihan yang tepat.


Perdebatan sore itu berakhir setelah Oswald merebahkan tubuhnya di tempat tidur sedangkan Ayline memutuskan untuk berendam lama di bathtub guna menyegarkan tubuh dan pikirannya.


...…...


Waktu makan malam pun tiba. Oswald dan Ayline keluar kamar menuju ruang makan. Ayline menghela napas pelan saat melihat Dokter Siska sudah duduk lebih dulu di sana.


“Selamat malam, Tuan Oswald,” sapanya ramah dengan senyum yang merekah. Sementara pada Ayline, dokter itu hanya tersenyum tipis tanpa menyapa sama sekali.


“Selamat malam, Dokter,” balas Oswald.


Oswald dan Ayline duduk bersisian sedangkan Dokter Siska duduk di hadapan Oswald. Dokter itu bercerita banyak hal mengenai prestasinya di bidang kedokteran. Ia juga memberikan dukungan pada Oswald dengan bercerita mengenai kisah para pasiennya yang akhirnya sembuh setelah dirawat olehnya. Bahkan tanpa ditanya pun, Dokter Siska menjelaskan mengenai statusnya sebagai seorang janda. Menghindari mantan suami yang masih gagal move on, menjadi alasan dokter itu menetap di Kota Lando.


Namun yang membuat Ayline geram adalah sikap Dokter Siska yang terkesan berani. Dokter itu tak canggung saat beberapa kali melakukan kontak fisik dengan Oswald. Dengan santai dia menyentuh tangan Oswald, ketika memberikan dukungan moril pada pria yang merupakan pasiennya itu. Bahkan hal itu berani dia lakukan di depan Ayline yang notabanenya adalah istri dari Oswald.

__ADS_1


Setelah melewati waktu makan malam yang menyesakkan dada Ayline, akhirnya Dokter Siska pun pamit untuk pulang. Sedangkan Oswald dan Ayline memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat.


Di kamar, sebelum tidur Ayline kembali membahas mengenai rasa tidak sukanya pada Dokter Siska. “Mas, apa tak ada dokter lain lagi? Apa kita tak bisa mendatangkan dokter dari kota lain saja?”


Oswlad menghela napasnya berat. “Ada apa sebenarnya, Ayline? Aku heran kenapa kamu tak menyukai Dokter Siska. Menurutku dia baik dan cukup ramah.”


“Bukan cukup lagi, Mas. Tapi, ramahnya itu berlebihan. Lihat saja tadi, dia berani menyentuh tanganmu di hadapanku,” jawab Ayline ketus mengundang tawa Oswald.


“Apa kamu cemburu?”


“Cemburu? Tentu saja tidak,” elak Ayline. “Hanya saja aku merasa sikap Dokter itu terlalu berlebihan.”


“Baguslah jika kamu tidak cemburu. Kendalikan dirimu, karena mulai besok hingga aku sembuh dia tak hanya akan menyentuh tanganku saja. Dia akan menyentuh bagian yang lain juga,” ucap Oswald diikuti tawanya membuat Ayline semakin kesal.


...…...


Malam telah berlalu, Ayline bangun terlambat di pagi pertama sejak ia pindah ke rumah barunya. Saat terjaga, ia tak mendapati Oswald di sisinya. Suaminya itu bangun lebih dulu dan tak membangunkan dirinya.


Pagi ini Ayline tampak cantik dengan dress selutut berwarna mustard. Ia berjalan menuju ruang makan untuk menyusul suaminya. Sayangnya ketika tiba di ruang makan, tak ada seorang pun di sana.


“Tuan Oswald sudah sarapan, Nyonya,” ucap salah satu pelayan.


Ayline melirik jam di pergelangan tangannya. “Sepertinya aku hanya telat beberapa menit saja,” gumamnya.


Ayline pun memutuskan untuk sarapan sendiri. Ia mulai mengolesi roti dengan selai rasa strawberry. “Apa suamiku sarapan ditemani dengan asistennya?”


Si Pelayan yang sedang menuang susu pada gelas di samping Ayline menggeleng. “Tuan Denis juga belum sarapan, Nyonya.”


“Lalu, apa suamiku sarapan sendirian?”


“Tuan Oswald sarapan di taman belakang bersama Dokter Siska,” ucap si Pelayan sontak menghentikan gerakan tangan Ayline yang sedang mengolesi roti.

__ADS_1


“Mereka sarapan berdua?!” ulang Ayline tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


...———————...


__ADS_2