Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 45 - Pulang


__ADS_3

Perasaan Ayline campur aduk. Hari ini, ia akan kembali ke Desa Kald di Kota Lando. Tempat tinggalnya bersama sang suami.


Berat rasanya harus berpisah dengan kedua orang tuanya setelah sekian lama mereka tak bertemu. Namun jika ingin memaksa untuk menambah waktu kebersamaan mereka, juga akan sulit.


Bukan hanya sulit untuk meminta izin pada suaminya, tapi kedua orang tuanya juga tentunya sangat sibuk. Sejak dahulu kedua orang tua Ayline memang kurang memiliki waktu senggang untuk bersama keluarga.


Berat rasanya kaki Ayline melangkah masuk ke dalam pesawat. Hari ini, perpisahannya dengan pria bernama Alan hanya dapat ia lakukan melalui pesan di aplikasi Teju.


Tak hanya itu, perasaan bersalahnya pada Kevin sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Namun, dengan sadarnya ia kembali bermain api dengan pria bernama Alan.


Selama mengudara, Ayline terus terpikirkan Alan. “Kenapa kamu harus jadi pria baik, sih!” gumamnya.


“Nanti, Aku pasti akan sangat menyesal dan merasa bersalah padamu.”


Ayline mengamati gumpalan awan putih yang menghiasi langit biru. “Cerah sekali di luar sana. Tak seperti hatiku yang selalu mendung,” monolognya lagi.


Sepanjang perjalanannya menuju kembali Kota Lando, Ayline terus terpikirkan cara lain yang bisa ia lakukan untuk mewujudkan keinginan Oswald. Pasti ada cara yang tak perlu melibatkan orang lain. Apalagi sampai menyakiti hati orang lain, batin Ayline.


Setibanya di bandara Kota Lando, rupanya sang suami sudah menanti. Ayline merasa senang, karena Oswald meluangkan waktu untuk menyambut kepulangannya. Walau hanya bisa duduk di atas kursi roda, namun ketampanan Oswald memang tak usah diragukan.


Baru saja Ayline memuji suaminya, netranya seketika ternoda saat melihat wanita yang menarik koper dan berjalan mendekat ke arah Oswald. “Huh … kenapa di mana-mana ada dia sih!” gerutu Ayline.


“Hah? Ada apa, Nyonya?” tanya Denis yang samar-samar mendengar Nyonya-nya menggerutu.


Dengan sigap, asisten andalan suaminya itu mengambil alih koper dari tangan Ayline.


“Denis, kenapa dia ada di sini?” tanya Ayline.


“Dokter Siska?” tanya Denis kembali dan dijawab anggukan oleh Ayline.


“Dokter Siska akan pergi ke luar kota. Karena tahu tujuan Tuan Oswald yaitu menjemput Anda di Bandara, maka beliau meminta tumpangan pada Tuan,” jelas Denis.


Ayline berdecak. “Dasar, Dokter enggak modal!” geram Ayline semakin mempercepat langkahnya.


Oswald dan Dokter Siska sedang berbincang saat Ayline tiba-tiba memeluk sang suami. Kecupan di pipi kiri dan pipi kanan Oswald, mendarat dengan sempurna.

__ADS_1


“Aku merindukanmu,” ucap Ayline manja.


Melihat itu Dokter Siska memalingkan wajahnya. Doanya pada Tuhan agar Ayline tak kembali, sepertinya tidak dikabulkan.


“Aku juga merindukanmu,” balas Oswald setelah beberapa detik ia bergeming karena serangan tiba-tiba dari istrinya.


“Eh, aku sangat tersanjung. Dokter Siska juga datang ke sini untuk menyambut kepulanganku,” ucap Ayline.


Ayline tak melihat ekpresi wajah Denis saat mendengar ucapan Nyonya-nya. Bukankah tadi aku sudah memberitahunya alasan mengapa Dokter Siska ada di sini? batin Denis. Di pikirannya, perang tak kasat mata antar kedua wanita itu akan segera di mulai.


“Sebenarnya aku kemari bukan karena ingin menyambut Anda, Nyonya. Aku akan berangkat ke luar kota, dan Tuan Oswald sungguh murah hati mengantarku ke Bandara,” balas Dokter Siska.


Dokter Siska tak terima dengan ucapan Ayline. Memangnya dia siapa sampai kepulangannya harus kusambut?! gerutunya dalam hati.


“Wah, suamiku memang sangat murah hati.” Ayline tersenyum begitu lebar pada suaminya. Oswald tahu, maksud senyuman istrinya itu adalah sindiran untuknya.


Oswald berdeham, memecah ketegangan antara Ayline dan Dokter Siska. “Aku memang sengaja kemari untuk menjemputmu, Sayang. Hanya karena tujuan kami searah, maka aku menawarkan bantuan untuk Dokter Siska.”


“Aku lelah dan merindukanmu, Sayang. Bisa kita pergi sekarang?” Begitulah Oswald mengakhiri ketegangan siang itu.


Sebelum menempuh perjalanan ke Desa Kald, Ayline dan Oswald lebih dulu menghadiri perjamuan makan siang yang diadakan oleh salah satu kolega bisnis Oswald. Ayline pun merasa kecewa sebab ia berpikir jika alasan suaminya menjemput bukan karena benar-benar peduli pada dirinya. Melainkan karena butuh pendamping untuk menghadiri undangan tersebut.


“Ada apa denganmu?” tanya Oswald pada Ayline saat mobil mulai melaju menuju Desa Kald.


Ayline hanya menggeleng tanpa memandang wajah sang suami. Ia betah memandang jalan yang mereka lalui melalui jendela mobil.


“Apa masih kurang waktu bersama orang tuamu?” tanya Oswald. “Kamu sudah menikah, Ayline. Kamu harus terima jika harus tinggal berjauhan dari orang tua kamu,” lanjutnya.


“Jangan merajuk untuk hal remeh seperti itu. Jangan kekanakan!”


Ayline menghela napasnya. “Ya, aku kekanakan. Kamu … bagaimana dengan kamu, Mas?”


Oswald berdecih. “Kamu semakin berani, Ayline!”


“Mungkin kamu lupa. Aku ingatkan padamu, nasib keluargamu ada ditanganku!” ancam Oswald.

__ADS_1


Ayline sekuat tenaga menahan amarah yang ingin meledak-ledak dalam hatinya. Ia kembali memalingkan wajahnya, rasanya tak sanggup ia melihat wajah suaminya saat ini.


Hingga hampir tiga jam, perjalanan yang penuh keheningan akhirnya akan segera berakhir. Mobil mewah milik Oswald mulai memasuki area milik keluarga Pallas. Melewati pabrik hingga akhirnya tiba di depan rumah megah milik si empunya pabrik.


Oswald keluar dari mobil dibantu Pak Albert yang sudah siaga menantikan kehadiran Tuan dan Nyonya-nya. “Selamat datang kembali, Nyonya,” sapanya ramah pada Ayline.


“Pak Albert, bawa aku ke ruang kerja!” titah Oswald.


Oswald sepertinya tak peduli dengan perasaan Ayline yang sudah siap mendorong kursi rodanya. Alhasil, terpaksa Ayline mundur beberapa langkah dan biarkan Pak Albert melakukan tugasnya.


Ayline bergegas masuk ke kamarnya. Dalam benaknya kini sedang terjadi perang. Ada hal yang mengganjal dalam hatinya yang ingin dia bicarakan dengan suaminya. Namun suasana hati Oswald yang tak baik, sepertinya akan membuat pria itu sulit diajak berdiskusi.


Namun semakin Ayline mengulur-ngulur waktu, perasaannya semakin tak tenang. Dalam pandangannya terus terbayang wajah dan senyum Alan. Apalagi saat Ayline menerima pesan dari Alan. Pria itu menanyakan kabarnya, apakah dia telah tiba dengan selamat.


Aku harus bicarakan segera dengan Mas Oswald. Meski pria itu bukan Alan, aku tak ingin menyakiti orang lain lagi.


Berbekal tekad yang kuat, Ayline menemui suaminya di ruangan kerja. Di sana ada Denis, keduanya terlihat sedang serius membicarakan sesuatu hal. Yang pasti, kehadiran Ayline cukup mengejutkan keduanya.


“Ada apa?”


“Ada yang ingin kubicarakan dengan kamu, Mas,” jawab Ayline.


“Bicaralah!”


“Bisa kita bicara berdua?” Pinta Ayline.


Ia menatap Denis, memberi sinyal pada asisten suaminya itu agar segera meninggalkan ruang kerja suaminya.


Setelah Denis pergi, Ayline menggantikan pria itu duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Oswald.


“Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?”


“Aku sudah memikirkannya, Mas,” ucap Ayline ragu-ragu.


“Aku tak akan melakukan keinginanmu! Aku tak bisa, Mas!”

__ADS_1


...——————————...


__ADS_2