
Dahulu, sebelum bertemu Oswald Ayline pernah punya impian untuk hidup layaknya bunga. Hidup bebas namun tetap memiliki pertahanan diri. Walau terkadang hidup liar, namun tetap cantik dan dikagumi orang lain.
Sayangnya yang terjadi padanya, yaitu Ayline telah menyia-nyiakan masa mudanya demi menjadi apa yang kedua orang tuanya inginkan. Menjadi Ayline versi kedua orang tuanya.
Hingga saat Ayline ingin memulai hidup baru versi dirinya sendiri, Oswald hadir menawarkan kehidupan dengan gambaran indah penuh cinta. Ya … benar, hanya gambaran. Sebab, kehidupan indah penuh cinta itu kini mulai pudar. Tampak usang karena masalah demi masalah yang datang silih berganti.
Salah satunya, masalah Kevin. Merasa menjadi korban harapan palsu pria bernama Kevin, Ayline dibuat gusar karenanya. Ada rasa sesal dalam hatinya, sebab dia sendiri yang membawa masalah itu ke dalam hidupnya.
Setelah lima hari tak bertemu suaminya yang harus pergi ke Kota Lando untuk menghadiri pertemuan di kantor cabang, akhirnya sore ini suaminya itu kembali ke rumah. Ayline yang sedang menikmati potongan buah segar di perpustakaan, ditemui oleh Pak Albert untuk mengabarkan kepulangan Oswald.
“Permisi, Nyonya,” ucap Pak Albert ramah.
“Ada apa, Pak?”
“Tuan Oswald sudah kembali. Beliau ingin menemui Anda di ruang kerjanya.”
Ada perasaan was-was dalam benak Ayline. Apakah Mas Oswald sudah tahu soal Kevin ingin membicarakannya? tanya Ayline dalam hatinya.
Ayline tak akan terkejut lagi jika suaminya tahu apa yang dilakukannya saat bertemu Kevin. Ia yakin, suaminya pasti memerintahkan seseorang untuk mengawasinya seperti terakhir kali saat ia ke pesta ulang tahun.
Tapi, yang Ayline takutkan bagaimana jika Oswald jika Kevin adalah adik Pak Galih. Apa mungkin menghilangnya Kevin juga ada campur tangan Mas Oswald? Ayline ingat dengan jelas, Oswald sudah memperingatkan untuk berhati-hati memilih pria.
“Nyonya,” panggil Pak Albert membuyarkan lamunan Ayline.
“Eh, iya … ada apa, Pak?”
“Maaf, Nyonya. Sebaiknya Nyonya bergegas menemui Tuan Oswald. Saya yakin beliau tak suka dibuat menunggu,” ucap Pak Albert.
Ayline mengangguk dan memberi pada Pak Albert piring yang masih tersisa beberapa potongan buah segar di atasnya. Setelahnya ia pun pergi menuju ruang kerja suaminya.
Di ruangan kerja suaminya, kehadiran Dokter Siska yang duduk di sofa cukup mengejutkan Ayline. Apa mereka pulang bersama? Batin Ayline.
“Mas, kamu sudah lama pulangnya?” Walau enggan, Ayline berkewajiban memerankan sandiwara sebagai pasangan suami istri bahagia. Sesuai perintah Oswald tentu saja.
“Belum, kami baru saja tiba,” jawab Oswald.
Huh … Kami! gerutu Ayline dalam hati. Jadi, benar mereka pulang bersama!
Ayline hanya melirik sekilas pada Dokter Siska, senyum pun tak tampak di wajahnya. Berani sekali suaminya, pikirnya. Pergi seminggu, begitu pulang bersama seorang wanita. Walau sebenarnya Ayline tahu, jika keberadaan Dokter Siska tentunya untuk berurusan dengan kesehatan sang suami. Tapi, tetap saja … sikap Oswald pada Dokter Siska berlebihan menurut Ayline.
Walau tak suka, Ayline terpaksa bergabung. Ia duduk di sofa tepat di hadapan Dokter Siska. “Kupikir kamu akan terapi di klinik Dokter Siska di Kota,” ucap Ayline.
__ADS_1
“Harusnya begitu. Namun, tapi ada pekerjaan mendesak di pabrik, mengharuskan aku harus langsung kembali.”
“Dari pada melewatkan sesi terapi lagi, kupikir lebih baik jika membawa Dokter Siskanya saja langsung,” lanjut Oswald disusul tawanya.
Ayline ikut memaksakan tawanya. “Aku benar-benar salut pada Anda, Dokter Siska. Anda sangat-sangat profesional,” ucap Ayline menekankan kata profesional.
“Ma-maksud Anda, Nyonya?” Terdengar jelas ketidak sukaan dari intonasi suara Dokter Siska.
“Maksud saya, Anda adalah dokter yang hebat. Anda bersedia mengikuti semua keinginan pasien Anda. Bahkan untuk ikut pulang ke rumah pasien, Anda pun bersedia. Sungguh profesional, bukan?”
Ayline tersenyum sinis pada Dokter Siska di akhir ucapannya. Hal yang sama ia lakukan pula pada suaminya.
“Sepertinya Anda salah paham, Nyonya!” Dokter Siska sangat kesal dengan ucapan Ayline.
“Saya bukannya bersedia mengikuti semua keinginan pasien, yang terjadi tadi memang hanyalah sebuah kebetulan.”
“Aku dan Tuan Oswald sudah janjian untuk makan siang di kedai mie yang sangat terkenal di Kota Lando. Seharusnya setelah makan, kami akan mulai sesi terapi di klinikku. Tapi, tiba-tiba Tuan Oswald harus kembali ke pabrik. Aku ikut kemari karena beliau yang meminta,” jelas Dokter Siska.
Penjelasan Dokter Siska bukannya menenangkan ketegangan yang ada, malah makin memperkeruh keadaan. Tentu saja hal itu memang sengaja dilakukan Dokter Siska.
Wajah Ayline terasa panas menahan amarah yang mulai bergejolak dalam hatinya. “Wah, sungguh profesional sekali ya Dokter. Anda sampai menemani pasien Anda makan siang!”
“Cukup!!!” pekik Oswald menghentikan Ayline yang hendak membalas lagi ucapan Dokter Siska.
“Dokter Siska, tunggulah di ruang terapi. Aku akan ke sana segera,” suruh Oswald.
Tanpa menjawab, Dokter Siska mengangguk kemudian beranjak pergi dari ruang kerja Oswald. Tingkah Dokter itu sangat keterlaluan, dengan sengaja ia bahkan tak pamit pada Ayline.
Ketika hanya tersisa Ayline dan Oswald di ruangan itu, terjadi keheningan beberapa saat. “Kamu ini kenapa, Ay?!” tegur Oswald memecah keheningan.
“Aku?! Harusnya aku yang bertanya, Mas. Ada apa antara kamu dan Dokter itu?!” tanya Ayline.
Oswald berdecak. “Ck! Hubunganku dengan Dokter Siska jelas. Aku pasiennya dan dia dokterku.”
“Tapi yang kulihat tidak begitu, Mas!”
“Ayline, berhentilah memikirkan hal yang tidak penting untukmu. Sudah kuminta kamu percaya padaku seperti aku percaya padamu,” ucap Oswald.
“Aku percaya kamu mampu dan harus menyelesaikan tugas yang kuberikan padamu. Demi keutuhan rumah tangga kita, demi dirimu dan keluargamu. Jangan habiskan energimu untuk curiga dengan hal-hal tak berguna, termasuk hubunganku dengan Dokter Siska.”
“Aku sama sekali tak tertarik pada Dokter itu!” tegas Oswald.
__ADS_1
Ayline bungkam. Perdebatannya mengenai dokter genit itu malah membawa mereka pada pembahasan mengenai tugas yang harus dia selesaikan.
“Mas, dari pada aku yang mencoba. Mengapa tak kamu saja yang mencoba dengan Dokter Siska. Kupikir dia pasti dengan senang hati akan melakukannya!”
Prang! Oswald melempar gelas yang sedang ia pegang ke lantai hingga pecah.
Demi apa?! Setelah mengucapkan itu Ayline baru sadar jika ucapannya barusan, pastinya memancing kemarahan suaminya.
“Bicara apa kamu Ayline?! Kamu sepertinya belum paham ya, atau kamu sengaja mengejekku?!” Oswald membentak Ayline.
“Seandainya aku mampu, tentu aku tak akan memintamu hamil dengan pria lain!”
Ayline menelan salivanya. Ia sangat takut, salah satu tangannya sakit sebab Oswald menggenggamnya sangat erat.
“Jangan bertingkah dan jangan memikirkan hal yang tak penting Ayline. Ketahuilah, yang harus kamu lakukan sekarang adalah memikirkan bagaimana kamu bisa hamil secepatnya!”
Ayline mengangguk. Suaminya tak tahu saja jika pria yang menjadi target Ayline sudah menghilang tanpa kabar. Ayline diam mematung, dia takut membayangkan bagaimana marahnya suaminya jika tahu jika hingga saat ini belum ada kemajuan sama sekali.
Hingga saat Oswald pergi meninggalkan Ayline sendiri di ruangan kerjanya, wanita itu masih bergeming memikirkan nasib malangnya.
...…...
Seperti malam-malam sebelumnya, Ayline akan menenangkan dirinya di taman bunga. Ia merasa nyaman saat duduk di sana. Memandangi warna-warni bunga yang sangat indah di bawah sinar rembulan dan lampu taman.
Belum lama ia duduk di sana, samar-samar ia mendengar suara wanita yang sepertinya sedang berbincang dengan seseorang. Bukannya terkejut, Ayline malah tersenyum. Ia sudah bisa menebak wanita itu pastinya Syila.
Ayline tetap diam saja di tempat duduknya. Pikirnya, lebih baik ia biarkan saja Syila yang sudah pasti sedang kini sedang mengobrol melalui panggilan video dengan Bagus.
Tiba-tiba ia teringat Kevin. Ayline berpendapat jika Kevin pasti sudah tahu siapa dirinya hingga pria itu akhirnya menghindarinya. Tugasnya akan semakin sulit, sebab Oswald cukup terkenal di Kota Lando. Mana ada pria yang berani mendekatinya saat tahu jika dia adalah istri Oswald.
“Di mana aku bisa temukan pria yang tak tahu aku siapa ya?” gumam Ayline.
Beberapa lama ia berpikir hingga mendengar tawa Syila memberinya sebuah ide. Segera ia hampiri Syila yang benar sedang melakukan panggilan video.
“Syila!” panggilnya mengejutkan Syila.
“Astaga, Nyonya!” Syila sampai memekik saking kagetnya.
“Syila, bantu aku!” pinta Ayline seraya mendekat pada Syila. “Kumohon bantu aku. Hanya kamu yang bisa membantuku!”
...————————————...
__ADS_1