
“Ayo balik sini, Mas. Tatap mataku dan katakan kamu menolakku lagi malam ini!”
Ayline memaksa Oswald untuk berbalik badan, namun suaminya itu tetap bergeming. Ia tak menjawab juga tak berusaha menghentikan Ayline yang terus menarik-narik tubuhnya.
“Kenapa, Mas? Sampai kapan, Mas?” tanya Ayline mulai terdengar putus asa.
Ayline kembali berbaring. Ia tatap langit-langit kamarnya yang gelap. Tak pernah ia bayangkan jika kehidupan pernikahannya akan menjadi seperti ini. Mengingat bagaimana bahagianya mereka di awal-awal pernikahan, membuat Ayline berpikir apakah mungkin saat it keduanya terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikah.
Keadaan hening beberapa saat. Antara Ayline juga Oswald sama-sama bungkam. “Kenapa kamu terburu-buru Ayline?”
“Aku?!” Pertanyaan Oswald terdengar menyudutkannya.
Mengapa terdengar seperti dirinya yang memaksa, pikir Ayline. Bukankah apa yang dia minta adalah nafkah batin yang memang harus diberikan Oswald padanya.
“Ya, kamu!” tegas Oswald sekali lagi walau tak sedikit pun ia menoleh pada istrinya.
“Bukankah kamu sudah kuminta untuk pergi?!”
Ayline tak tahan lagi dengan pembicaraan seperti ini yang selalu berujung pertengkaran. “Cukup, Mas! Bisakah kamu berhenti memintaku pergi?”
Ayline bangun dan duduk di tepi tempat tidur memunggungi Oswald. “Pergi tak akan menyelesaikan semua masalah ini, Mas.”
“Maka dari itu bersabarlah!” bentak Oswald.
Air mata Ayline seketika menggenangi pelupuk matanya. Apa Oswald masih meragukan kesabarannya? Bukankah pria itu sudah menguji kesabarannya berkali-kali? Apa usahanya untuk membuktikan kesabarannya masih kurang di mata suaminya?
Bahkan sebelum musibah menimpa Oswald, bukankah suaminya itu beberapa kali sudah mengecewakannya dan yang Ayline lakukan hanya bersabar?
Beragam pertanyaan yang muncul di benak Ayline, semakin menyakiti hatinya. “Tapi kita sudah berusaha, Mas. Tak ada salahnya jika kita mencobanya,” ucap Ayline lirih.
“Lalu bagaimana jika hasilnya sama saja? Bagaimana jika tak ada perubahan? Kamu akan tetap kecewa kan?” Oswald mencecar Ayline dengan pertanyaan yang membungkan Ayline.
“Bersabarlah Ayline! Kamu pikir cuma dirimu yang tersiksa? Aku jauh lebih tersiksa darimu. Berhenti jadi istri yang sok mulia Ayline. Mengertilah keadaanku yang tak sempurna ini, atau pergi saja tinggalkan aku!” lanjutnya.
Sakit, hati Ayline bagai tersayat-sayat oleh ucapan suaminya. Sejak kapan dirinya mau bersikap sok mulia, keinginanya cuma ingin memiliki rumah tangga yang bahagia. Harapannya masih sama seperti saat pertama kali ia memutuskan menikah bersama Oswald.
Ayline pun akhirnya beranjak dari tempat tidur. Ia berdiri dan hendak ke kamar mandi untuk mengganti pakaian tidurnya. Namun sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Ayline menghentikan langkahnya.
“Jika kamu menuntutku untuk bersabar, harusnya kamu pun bisa meminta hal yang sama pada Mommy Raya,” ucap Ayline.
__ADS_1
“Apa kamu lupa mengapa sampai kita pindah ke tempat ini?”
“Keputusanku masih sama, Mas. Aku akan tetap bertahan di sisimu. Mendampingimu dan kita akan berusaha memperbaiki semuanya,” lanjut Ayline.
“Jadi, berhenti menyuruhku pergi. Pikirkanlah jalan keluar terbaik dari masalah rumah tangga kita selain sabar.”
Di dalam kamar mandi Ayline pun akhirnya menumpahkan semua rasa sakit hatinya dengan menangis. Sengaja ia biarkan air terus mengalir dari keran agar tangisnya tak dapat terdengar oleh suaminya.
Tak bisakah Oswald menghargai semua yang telah ia lakukan. Salahkah jika ia berharap kehangatan rumah tangganya kembali seperti dulu lagi, pikir Ayline.
Cukup lama Ayline berada di dalam kamar mandi. Ketika merasa dirinya cukup tenang, barulah dia keluar dan kembali ke tempat tidur. Dilihatnya Oswald sudah tertidur, entah benar-benar tidur atau suaminya itu hanya pura-pura memejamkan mata untuk menghindarinya.
Ayline pun turut memejamkan kedua netranya. Biarkan malam ini dia beristirahat dan memikirkan apa jawaban yang akan dia berikan, jika besok-besok Ibu mertuanya kembali bertanya mengenai kehamilan.
...…...
Hari ini Oswald melewatkan sarapan pagi. Hal itu ia lakukan untuk menghindari pertemuan dengan istrinya. Rasanya tak nyaman bagi Oswald maupun Ayline untuk saling mendiamkan seperti ini, tapi kecanggungan setelah kejadian semalam masih sangat terasa.
Ayline pun bersikap dingin pada Oswald. Biasanya dia akan protes jika suaminya itu melewatkan sarapan, namun pagi ini Ayline bersikap tak acuh. Walau sendirian, Ayline tetap menghabiskan sarapannya dalam diam. Para pelayan pun menyadari perubahan sikap Nyonya mereka, tapi tak ada satu pun yang berani berkomentar.
Setibanya di ruangan kerjanya di pabrik, Oswald segera meminta Denis menghubungi sang Ibu. Ia pikir ada alasan mengapa Ayline sampai menyebut nama sang Ibu saat mereka berdebat semalam.
“Sampaikan jika aku ingin membicarakan hal yang sangat penting,” balas Oswald.
“Aku tidak bisa menunggu. Aku ingin kau sambungkan dengan Mommy-ku, sekarang!”
Denis mengangguk mengerti. Ia kembali lagi pada ponselnya, melakukan panggilan sekali lagi pada asisten Nyonya Raya. Setelah berdebat sembari membawa-bawa nama Oswald, akhirnya ia bisa tersambung dengan Nyonya Raya.
“Maaf Nyonya, tapi Tuan Oswald tak ingin menunggu. Ada hal penting yang ingin beliau bicarakan,” jelas Denis setelah ia dibentak oleh Nyonya Raya.
“Kau bodoh?! Sudah tugasmu untuk menenangkan Putraku. Bukankah asistenku sudah beritahu jika aku sedang sibuk,” balas Nyonya Raya tak ingin dibantah.
Jika sudah seperti ini, Denis hanya bisa memohon maaf meski sebenarnya ia tak bersalah di sini. Tuannya adalah Oswald, tentu saja dia akan lebih mendengarkan perintah Oswald.
Kini ponsel milik Denis telah berpindah tangan. Oswald terlihat tak senang sebab ia merasa cukup lama dibuat menunggu.
“Mommy,” sapanya.
“Hai, Sayang … bagaimana kabarmu di sana?” tanya Mommy Raya.
__ADS_1
“Aku baik saja. Semuanya berjalan lancar sejauh ini,” jawab Oswald.
Ada yang aneh menurut Oswald. Harusnya Mommy Raya turut menanyakan kabar Ayline, mereka kan juga sudah cukup lama tak bertemu, pikir Oswald. Apa mungkin jika Mommy menghubungi Ayline baru-baru ini? Batin Oswald.
“Apa Mommy baru-baru ini bicara dengan istriku?” tanya Oswald tanpa basa-basi.
“Me-memangnya kenapa? Apa yang istrimu adukan padamu?”
Dari suaranya, Oswald bisa menebak jika Ibunya kini sedang gugup. “Ayline bukan tipe istri yang suka mengadu, Mom.”
“Memangnya apa yang Mommy bicarakan dengan istriku? Bukan rahasia yang tak boleh aku tahu, kan?”
Karena putranya sudah bertanya, Mommy Raya pikir sekalian saja dia bicara jujur dengan putranya. “Mommy memberitahu Ayline untuk tak menunda memiliki anak,” ucapnya.
“Ayline tak pernah menunda, Mom,” sela Oswald membela istrinya.
“Ya, Ayline juga bilang begitu,” balas Mommy Raya. “Lantas, mengapa dia belum hamil juga?”
Oswald menghela napasnya. “Mom, siapa pun enggak ada yang bisa menentukan kapan bisa hamil,” jawab Oswald.
“Tapi ini sudah berapa lama setelah kalian menikah? Asal kamu tahu, jika ingin memperkuat posisimu sebagai pewaris di perusahaan maka kamu harus segera memiliki penerus,” ucap Mommy Raya.
“Dengarkan Mommy, Sayang … Daddy-mu tak akan memberikan warisannya padamu jika kamu tak memiliki anak sebagai penerus perusahaan Pallas,” lanjutnya.
Oswald menggenggam ponsel Denis semakin kuat untuk menahan emosinya. Denis yang melihat itu hanya bisa menelan salivanya seraya berdoa akan nasib ponselnya.
“Lagian sudah beredar gosip di jajaran Direksi mengenai rumah tanggamu. Pilihan kalian yang tiba-tiba pindah ke perusahaan cabang menimbulkan desas-desus keretakan rumah tangga kalian,” ungkap Mommy Raya.
Oswald berdecih. Sekarang mereka semua sudah mulai berani mengusik hidupnya. Mentang-mentang dirinya sekarang cacat dan mereka seenaknya saja membicarakan hal-hal buruk di belakangnya, pikir Oswald.
“Sudah, Mommy sibuk. Pokoknya Mommy enggak mau tahu. Secepatnya kamu dan Ayline harus memberi kabar baik mengenai kehamilan Ayline,” tegas Mommy Raya.
“Mungkin kamu sudah tahu, tapi Mommy sudah memeriksa kesuburan Ayline dan semuanya baik-baik saja. Jika Ayline tak kunjung hamil, maka jangan salahkan Mommy jika Mommy akan memintamu untuk memeriksa kesuburan juga.”
Oswald tak membantah ucapan Mommy-nya. Bahkan saat Mommy Raya ingin memutuskan sambungan telepon itu, Oswald tak mencegahnya.
Pikirannya sibuk menerawang mengenai apa yang harusnya ia lakukan sekarang. Untuk jujur mengenai kondisinya, Oswald merasa belum sanggup menahan malu. Ia takut jika orang-orang akan semakin memandang sebelah mata padanya.
Terbersit sebuah ide gila yang sempat ia pikirkan. Apakah pada akhirnya aku harus melakukan itu?
__ADS_1
...———————...