Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 8 - Permintaan Yang Sulit


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Ayline bolak-balik di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi. Wanita itu mengamati penampilannya berulang-ulang. “Sempurna,” gumamnya memuji dirinya sendiri.


Baru satu langkah, namun keraguan kembali melanda. Ayline berhenti sejenak. Ia kembali menoleh pada cermin, “Ada apa denganku?”


Bagi Ayline, sudah cukup lama sejak terakhir kali dirinya dan Oswald melakukan hubungan suami-istri. Tak bisa berbohong, sebagai seorang wanita dewasa, Ayline merindukan semua kehangatan yang dulu suaminya berikan saat mereka menjalani masa bulan madu.


“Bukankah kamu sangat menginginkannya Ayline?” tanyanya pada pantulan dirinya di cermin.


Lucunya, wanita itu menjawab sendiri dengan anggukan lalu sedetik kemudian disusul dengan gelengan kepalanya. “Astaga, Ayline … kamu kenapa?!” gerutunya. Ia bahkan menepuk-nepuk dahinya beberapa kali.


Ayline kembali teringat pembicaraannya bersama Oswald tadi pagi. Bagaimana ia begitu percaya dirinya menantang suaminya malam ini. “Kau memang benar-benar cari masalah, Ayline,” gumamnya.


Ayline menarik napas panjang dan dalam. “Tapi, kalau bukan kamu yang memulai siapa lagi?” Gumamnya kini memberi dukungan pada dirinya sendiri.


Ayline manatap tampilannya sekali lagi. Ia pun mengulang memuji dirinya sendiri. Ia tampil sangat menggoda dalam balutan baju tidur s*ksi berwarna hitam yang biasanya menjadi kesukaan suaminya.


Ayline pun akhirnya keluar dari kamar mandi. Perlahan wanita itu melangkah menuju ranjang tempat suaminya bersandar pada headboard. Walau Oswald tampak seperti sedang fokus menatap sesuatu di ponselnya, Ayline tahu jika suaminya itu diam-diam memperhatikan langkahnya.


Ayline bergabung naik ke ranjang. Ia peluk suaminya dari samping lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Oswald. “Mas, kamu sedang apa?” tanyanya basa-basi.


“Bekerja,” jawab Oswald singkat.


“Kamu baru saja keluar dari rumah sakit, Mas. Jangan terlalu memikirkan pekerjaan dulu,” nasihat Ayline.


“Lagian ini sudah malam dan kamu juga bukan lagi di ruangan kerjamu. Jadi, berhentilah bekerja,” lanjutnya membujuk Oswald agar berhenti dengan gawainya.


Sukses, ucapan Ayline berhasil membuat Oswald menyimpan ponselnya ke dalam laci nakas. Ayline pikir setelah ini Oswald akan membalas pelukannya, yang terjadi Oswald menarik napas panjang lalu melerai pelukan Ayline.


“Apa kamu lupa kalau sekarang aku cacat?” tanyanya.

__ADS_1


“Kamu benar, harusnya bekerja di ruangan kerja. Tapi, pria cacat ini tak mampu berjalan ke sana. Bahkan untuk menggapai kursi roda pun aku tak mampu,” ucapnya dengan intonasi menyedihkan seraya menatap pada kursi roda yang ada di sudut ruangan.


Ayline ikut merasa sedih mendengar ucapan Oswald. Seminggu ini di rumah sakit, pria itu terus mengeluh dan menyesali kondisi dirinya yang sekarang lumpuh. Sepertinya, Oswald merasa sebagian besar dunianya runtuh bersamaan dengan kondisi tubuhnya yang kini tak sempurna lagi.


Malam ini Ayline tak berencana mendebat Oswald. Ia harus fokus pada misinya, mengembalikan kehangatan rumah tangganya seperti saat mereka masih berbulan madu.


“Maafkan aku, Mas. Salahku yang terlalu lama meninggalkanmu dan menghabiskan waktu di kamar mandi,” ucap Ayline.


“Kamu tak ingin tahu aku ngapain saja di kamar mandi?” Ayline mendongakkan wajahnya, hingga pandangan mereka bertemu.


Karena Oswald tak menjawab dan tetap membisu maka Ayline memutuskan untuk memberi tahu saja jawaban dari pertanyaannya.


Cup. Ayline mengecup bibir suaminya. “Aku ingin membuktikan apa yang kita bicarakan tadi pagi,” ucap Ayline.


Tanpa basa-basi lagi, Ayline kembali mengecup bibir Oswald. Kali ini ciuman itu bukan lagi berupa kecupan. Namun ciuman yang lama kelamaan menjadi ciuman yang menuntut.


Malam ini Ayline sudah bertekad mengambil alih tugas yang biasa dilakukan Oswald saat mereka bulan madu dulu. Ayline sudah belajar banyak. Ia lakukan apa yang biasa suaminya lakukan sebelum mereka melebur menjadi satu.


“Sssttt …” Ayline meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Oswald untuk membungkan suaminya itu.


“Tenanglah, Mas. Biarkan aku yang melayanimu malam ini,” ucapnya menggoda. “Cukup terima aku,” imbuhnya.


Oswald pun mau tak mau mengangguk setuju. Gair*hnya sudah sangat membara. Biasanya dia yang akan memimpin permainan. Namun, jika mengikuti egonya, maka Oswald akan merasa kecil hati karena kini bahkan untuk kepuasannya ia bergantung sepenuhnya pada istrinya.


Ayline yang mendapat lampu hijau segera melancarkan serangannya. Ia lakukan semua yang biasa ia dapatkan dan pelajari dari suaminya. Ayline memimpin permainan. Oswald harus mengakui jika istrinya itu belajar dengan cepat. Buktinya, tak butuh waktu lama ia telah mencapai puncaknya.


Ayline tersenyum bangga saat ia berhasil melakulan tugasnya. Namun, ia tak bisa berbohong jika dirinya juga ingin mencapai puncak untuk dirinya sendiri. Saat Ayline ingin memulai lagi, Oswald terpaksa menolak karena kondisi tubuhnya yang sudah lelah.


Malam itu, Ayline terpaksa menelan kekecewaan untuk dirinya sendiri. Namun, ia menghibur dirinya dengan kenyataan jika dia sudah melakukan hal terbaik sebagai istri untuk suaminya.

__ADS_1


...…....


Dua minggu sudah Ayline merawat Oswald di rumah, dan selama itu pula Ayline merasa tak berlebihan jika dia menganggap suaminya kini dalam masa-masa krisis kepercayaan diri. Ayline tak bisa menyalahkan Oswald sepenuhnya. Ayline mencoba mengerti dan memahami jika akan sangat sulit bagi Oswald untuk menerima kondisinya saat ini yang memiliki keterbatasan.


Terlebih jika mengingat dulu bagaimana sosok Oswald dikenal. Pria muda berbakat yang diakui di kalangan para pengusaha sukses. Sosok pria yang bersinar dengan talenta dan kepiawaiannya mengembangkan perusahaan yang ia pimpin.


Pria berkharisma yang bisa memimpin dengan baik. Pria yang tak mudah digoyahkan saat ia berdiri di puncak kejayaannya. Namun, setelah kecelakaan yang membuat Oswald tak dapat berjalan lagi, semua itu seakan tertutupi dengan satu kekurangannya. Tanpa ia sadari, Oswald mengizinkan keterbatasannya saat ini perlahan mengikis kepercayaan diri pria itu.


Hal itu berdampak dalam pekerjaannya, Oswald merasa dirinya mulai kesulitan melakukan banyak hal saat bekerja. Rapat dengan karyawan dan para klien yang lebih banyak ia wakilkan pada Denis. Lalu, dirinya yang lebih banyak bekerja dari rumah membuat emosinya kurang stabil.


Oswald jadi lebih sering marah dan melampiaskan semua kekesalannya pada Ayline dan para pelayan di rumah seandainya ada pekerjaan yang tidak berjalan sesuai dengan kehendaknya. Dalam hati ia akan menyalahkan dirinya yang tak bisa mengawasi dengan baik pekerjaan yang dilakukan bawahannya hingga hasilnya tak memuaskan.


Tak hanya dalam pekerjaannya, lumpuhnya kaki Oswald juga mempengaruhi hubungannya dengan Ayline. Istrinya itu dengan sabar dan telaten mengurus suaminya, membuat Oswald merasa dirinya tak berguna dan hanya menyusahkan Ayline saja.


Perdebatan keduanya pun tak terelakkan lagi. Berkali-kali Oswald meminta Ayline meninggalkannya, namun Ayline tetap pada pendiriannya untuk bertahan. Bahkan, walau Oswald sudah dua minggu ini menolak untuk melakukan hubungan suami-istri, Ayline tetap memantapkan hatinya untuk bertahan. Ia yakin, akan tiba waktunya di mana Oswald akan menyadari ketulusannya dan akan kembali seperti dulu lagi.


Hingga, pada suatu hari Daddy Jay dan Mommy Raya meminta Ayline dan Oswald makan malam bersama di kediaman mereka. Saat makan malam, terjadilah perbincangan yang semakin mengikis kepercayaan diri Oswald.


“Bagaimana kabar kalian?” tanya Daddy Jay.


“Kami?” Ayline yang menjawab. “Seperti yang Daddy lihat, kami baik-baik saja. Iya kan, Mas?” ucap Ayline berbohong. Ia sengaja tertawa di akhir ucapannya untuk menutupi kegugupannya setelah berbohong.


Sementara Oswald yang dimintai pendapatnya hanya mengangguk.


“Baguslah, Mommy senang rumah tangga kalian berdua baik-baik saja,” celetuk Mommy Raya.


“Kalian tahu, teman sosialita Mommy semuanya sudah memiliki cucu.” Ucapan Mommy Raya yang seketika membuat Oswald berhenti mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


“Jadi, kapan kalian akan memberi kami cucu?” pinta Mommy Raya membuat Oswald dan Ayline menegang seketika.

__ADS_1


...——————...


__ADS_2