Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 31 - Lupa Waktu


__ADS_3

“A-Aku?!”


Syila memperjelas kembali apa yang baru saja didengarnya. Nyonya-nya baru saja hendak minta tolong padanya, bukan? Pikir Syila.


“Memangnya apa yang bisa kulakukan untuk membantu Anda, Nyonya?”


Ayline mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia ingin memastikan tak ada orang lain lagi di sekitar taman yang bisa saja mendengar pembicaraan mereka. “Ayo, kemari! Kita bicara sambil duduk saja, ya.”


Karena rasa penasarannya, Syila mengikuti langkah Ayline. Sementara ponselnya tetap berada dalam genggamannya. Lagi-lagi gadis itu lupa jika ada Bagus yang masih terhubung dengannya di panggilan video.


“Syila, jika kamu masih ingin mengobrol dengan Bagus, aku akan menunggu.” Ayline tak enak hati, ia merasa telah mengganggu pembicaraan Syila dan Bagus.


Syila menepuk dahinya. “Oh iya, Bagus!” serunya. “Saking terkejutnya tadi aku sampai lupa.”


Ayline menahan tawanya melihat tingkah Syila. Ia diam saat Syila meminta pengertian pada Bagus untuk mengakhiri panggilan video mereka.


“Jadi Nyonya, apa yang bisa saya bantu?” tanya Syila setelah ponselnya ia masukkan ke dalam sakunya.


Semakin Ayline terlihat ragu, semakin Syila dibuat penasaran. “Katakan saja, Nyonya,” pinta Syila. “Kita kan te-teman,” lanjutnya.


“Kamu benar, kita kan teman.” Ayline mengulang ucapan Syila. “Dengarkan aku, tapi kumohon kamu jangan langsung berpikiran buruk padaku.”


“Hem, begini … sepertinya aku tertarik menggunakan aplikasi pertemanan seperti milikmu itu. Boleh kan?”


Syila benar-benar bingung dengan keiinginan majikannya itu. Jika ingin menggunakan aplikasi pertemanan, mengapa ia harus meminta izin padanya. Seharusnya Nyonya minta izin pada Tuan Oswald, bukan padaku! Ck, batin Syila.


“Oh, aplikasi Teju?! Tentu saja boleh dong, Nyonya. Aplikasi pertemanan itu bukan milikku. Semua orang boleh saja menggunakannya. Termasuk, Nyonya.”


“Tapi … apa tak sebaiknya, Nyonya minta izin dulu pada Tuan Oswald?” tanya Syila. Dia ingat, dulu Ayline pernah bilang jika suaminya akan marah seandainya tahu dirinya menggunakan aplikasi pertemanan seperti itu.


Ayline menggeleng, ia memalingkan wajahnya menatap ke arah yang lain. “Hem … aku akan memberitahunya, nanti. Urusan Oswald, biarlah akan menjadi urusanku sendiri.”


“Sekarang bantu aku. Ajari juga bagaimana cara menggunakannya!” pinta Ayline seraya memberikan ponselnya pada Syila.


Keraguan bersemayam di benak Syila. Gadis itu sadar, besar kemungkinan jika apa yang ia lakukan malam ini suatu saat akan membawa bencana baginya. Tapi, menolak permintaan Ayline, sepertinya Syila tak akan bisa.

__ADS_1


“Baiklah, Nyonya. Pertama-tama kita unduh dulu aplikasinya,” ucap Syila.


Ayline biarkan saja Syila mengutak-atik ponselnya. Sesekali Syila menjelaskan pada Ayline apa saja yang sedang ia lakukan.


Sama seperti dirinya, Syila berniat mendaftarkan akun Ayline pada aplikasi tersebut dengan nama samaran. “Bagusnya apa ya, Nyonya?” tanya Syila meminta pendapat Ayline.


“Memangnya Bagus kenapa?”


Syila menertawakan Ayline karena telah salah mengerti maksud pertanyaannya. “Maksud saya, nama Nyonya di aplikasi ini bagusnya apa? Mungkin Nyonya ada ide?”


“Nama saya Ayline,” jawab Ayline dengan wajah polosnya.


Syila kembali menertawakan Nyonya-nya itu. Syila masih bingung, dari mana dan mengapa hingga Ayline tiba-tiba ingin menggunakan aplikasi pertemanan. Padahal sepertinya dia sama sekali tak paham bagaimana cara biasanya seseorang bermain aplikasi tersebut.


“Memangnya Nyonya ingin menggunakan nama asli? Biasanya orang lain menggunakan nama samaran agar identitas asli mereka tidak terungkap dengan mudah,” jelas Syila.


Kening Ayline mengernyit. Ia belum bisa memahami maksud Syila. Aneh, pikirnya. Tujuan mereka menggunakan aplikasi pertemanan itu kan untuk mencari teman atau bahkan lebih dari teman. Itu artinya mereka harus berkenalan, bukan. Dan untuk berkenalan, tentunya mereka harus mengungkap identitas mereka.


Melihat raut wajah serius Ayline, Syila tahu jika Nyonya-nya itu pasti bingung. “Nyonya … saran saya, untuk awal sebaiknya menggunakan nama samaran saja dulu. Saya yakin orang yang nantinya akan berkenalan dengan Nyonya juga memakai nama samaran.”


Ayline mengangguk-angguk setuju dengan saran Syila. Kejadian dengan Kevin harusnya sudah bisa memberi Ayline pelajaran dan pengalaman. Lebih baik, temannya nanti tak tahu dulu siapa dirinya sampai dia benar-benar bisa dipercaya, pikir Ayline.


“Baiklah, aku ikut saran kamu saja. Kamu kan jauh lebih senior di aplikasi ini,” kelakar Ayline.


Sembari tertawa, Syila mengembalikan ponsel Ayline. “Ini Nyonya. Aplikasinya sudah siap untuk Nyonya gunakan. Untuk nama dan fotonya, Nyonya bisa ganti sendiri, ya.”


Setelah bertanya beberapa hal mengenai penggunaan aplikasi tersebut dan akhirnya paham, Ayline pun pamit untuk lebih dulu kembali ke kamar.


...…...


Setibanya di dalam kamar, Ayline tak menemukan keberadaan suaminya di sana. Saat bertanya pada Pak Albert yang kebetulan melintas di depan kamarnya, akhirnya Ayline tahu jika suaminya sedang menunggu beberapa orang tamu di ruang kerjanya.


Merasa situasi aman dan terkendali, Ayline kembali memainkan ponselnya. Ia buka aplikasi baru di ponselnya itu sembari berpikir keras nama samaran yang pas untuknya.


“Hem, apa ya?” gumamnya. Setelah lama berpikir, Ayline tiba-tiba saja memekik. “Nah, aku tahu!”

__ADS_1


“Bagaimana jika gunakan nama Alin saja? Ya, kalau nanti aku jujur mengenai nama asliku kan, jadinya enggak beda-beda banget lah ya,” monolognya seraya mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Untuk foto profil di akunnya, Ayline memutuskan menggunakan siluet fotonya saat dulu ia berbulan madu bersama Oswald. Ah, melihat foto itu Ayline kembali merasa sedih. Bayangan kemesraan dan kebahagiaan dirinya dan Oswald saat bulan madu kembali terbayang. Hatinya sangat sakit, jika mengingat bagaimana suaminya kini memperlakukannya. Sangat berbeda dari saat awal pertemuan juga awal pernikahan mereka.


Ting. Bunyi notifikasi dari ponsel, mengejutkan si pemilik ponsel. Kedua netra Ayline membelalak, ketika mengetahui jika notifikasi tersebut berasal dari aplikasi yang baru saja ia unduh malam ini.


Ada sekitar tujuh pesan baru masuk. Semua pesan tersebut berasal dari pria. Semua pesan itu juga memiliki tujuan yang sama, yaitu mengajak Ayline berkenalan.


Satu per satu pesan Ayline balas dengan jawaban yang isinya hampir sama saja. Ia berusaha untuk tak salah mengingat jika namanya kini adalah Alin. Saat ditanya apa pekerjaannya, Ayline menjawab jika ia berprofesi sebagai seorang penulis.


Ayline akhirnya membenarkan ucapan Syila, jika bermain di aplikasi itu bisa membuat seseorang lupa waktu saking asyiknya. Buktinya, Ayline tak sadar jika sudah tiga jam berlalu dan malam pun semakin larut. Ayline akhirnya tersadar saat suaminya masuk ke dalam kamar.


“Ayline, kamu belum tidur?!” ucap Oswald.


“Eh, Mas.” Ayline cukup terkejut dengan kehadiran Oswald. “Hem … i-itu, aku menunggu Mas Oswald,” jawab Ayline beralasan. Namun, kegugupannya bisa dilihat jelas oleh Oswald dan Denis.


“Baiklah Denis, kamu boleh pergi. Istriku yang akan membantuku. Ingatlah untuk pastikan rapat besok dimulai tepat waktu,” perintah Oswal pada Denis.


“Baik Tuan, Nyonya. Saya permisi,” ucap Denis kemudian keluar dari kamar utama.


Setelah Denis pergi, Ayline pun melakukan kewajibannya seperti biasa. Membantu Oswald membersihkan tubuhnya, mengenakan pakaian, hingga membantu suaminya berbaring di tempat tidur.


Sebenarnya sudah sejak tadi Oswald merasa tak nyaman dengan ponsel Ayline yang terus berbunyi. Bahkan, saat mereka sudah berbaring di ranjang, Ayline tidur memunggunginya dan terus sibuk dengan ponselnya.


Pikirnya, pasti pria yang ditemui Ayline beberapa hari lalu yang malam ini sangat sibuk terus-terusan menghubungi istrinya. Oswald sudah optimis, sebentar lagi masalahnya mengenai keturunan akan selesai.


“Ayline, ini sudah larut malam. Tidurlah!” suruhnya. “Besok, kamu masih bisa melanjutkan bermain ponselnya,” lanjut Oswald.


“I-iya, Mas. Aku tidur sekarang.”


Ayline baru saja hendak meletakkan ponselnya di laci nakas saat satu notifikasi kembali berbunyi. Ia menerima satu pesan baru lagi. Karena penasaran, Ayline membuka pesan tersebut. Rencananya ia hanya akan membaca isi pesan itu saja dan akan membalasnya besok.


Hai, aku Alan. Salam kenal, ya. Begitu isi pesan yang sempat dibaca Ayline.


Hah, Alan?! Lucu … namanya kok bisa mirip denganku sih, batin Ayline sebelum ia meletakkan ponselnya dan menutup laci nakas.

__ADS_1


...———————...


__ADS_2