
“Sudahlah Mas, jangan terlalu dipikirkan permintaan Mommy. Aku tak ingin kamu semakin terbebani.” Ayline berusaha menenangkan Oswald yang tampak tak nyaman serelah pulang dari rumah kedua orang tuanya.
“Jangan dipikirkan?” Oswald mengulang ucapan istrinya. “Apa kamu begitu? Apa kamu tak memikirkan untuk memiliki anak denganku?”
Ayline menghela napas. Suaminya itu pintar sekali memutar balikkan fakta, kini seolah dirinya yang salah. Untuk memiliki anak, mereka harus berhubungan suami-istri bukan? Lalu, pantaskah Ayline disalahkan jika selama ini Oswald selalu menolak melakukan hal itu?
“Ada apa? Kamu lelah bertahan? Pergilah, aku tak akan menahanmu?!”
Sepertinya suaminya itu tersinggung setelah mendengar helaan napasnya, begitu pikir Ayline. Tapi jika suaminya saja tersinggung hanya dengan helaan napasnya, lantas bagaimana dirinya yang mendapat tuduhan langsung dari Oswlad?
Ayline pikir semakin lama sikap suaminya semakin berubah. Pria itu selalu saja memintanya pergi. Memintanya untuk berhenti bertahan. Namun, pada kenyataannya suaminya itu bergantung padanya. Ayline sampai bingung dibuatnya.
Ya, Oswald tak mengizinkan siapa pun untuk membantunya. Hanya Ayline dan Denis yang melakukan itu. Alasannya tentu saja, ia tak ingin terlihat lemah di mata orang lain.
Setiap hari, Ayline yang akan membantu Oswald mandi. Membantunya berpakaian, makan, dan semua hal yang Oswald ingin lakukan, semua dibantu oleh Ayline. Sedangkan Denis kebagian membantu Oswald dalam urusan pekerjaan.
Sempat ada usulan dari Mommy Raya untuk memperkerjakan seorang suster yang akan membantu Ayline merawat Oswald, tapi pria itu menolak dengan tegas. Dia hanya ingin Ayline.
“Pergi? Kamu menyuruh aku pergi lagi, Mas?!” Balas Ayline. Kali ini ia tak menyembunyikan lagi kekesalannya.
Oswald bungkam. Dari pada menjawab, pria itu memalingkan wajahnya menatap hamparan taman bunga berwarna-warni di halaman belakang rumah mereka.
“Kamu yakin?” Sekali lagi Ayline bertanya.
Beberapa saat ia menanti jawaban suaminya, namun suaminya itu masih tetap bungkam. “Sudahlah, Mas. Berhenti memintaku pergi. Masalah kita tak akan selesai dengan aku pergi meninggalkanmu,” ungkap Ayline.
Belajar dari pengalaman, ia akan berusaha menghadapi Oswald dengan kelembutan. Ayline berpindah posisi. Ia bertumpu dengan kedua lututnya di depan kursi roda suaminya. Dengan kedua tangannya menggenggam tangan Oswald, Ayline manatap wajah sendu suaminya.
“Mas, kita akan mencobanya lagi, kan? Kita akan terus berusaha, kan?” tanya Ayline sungguh-sungguh.
“Apa?”
“Membuat anak tentu saja,” jawab Ayline tanpa filter. Oswald sampai melirik ke kiri dan kanan. Jangan sampai ada yang mendengar ucapan istrinya itu.
Lama Ayline menunggu Oswald menjawab, namun pria itu bertahan dalam diamnya. Entah untuk kesekian kalinya ia harus menghela napas menghadapi sikap Oswald akhir-akhir ini.
“Diammu aku anggap jika kamu juga setuju, Mas.” Ayline berdiri. Ia lalu mendorong kursi roda suaminya kembali ke kamar.
“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Oswald.
“Ke kamar kita,” jawab Ayline.
“Apa? Kamar? Ta-tapi Ayline, ini masih sore.”
“Aku tahu,” jawab Ayline singkat.
__ADS_1
“Lalu, kamu ingin me-“
Ucapan Oswald disela Ayline. “Astaga Mas, rupanya kamu sudah enggak sabar, ya?”
“Tentu saja kita enggak melakukannya sekarang, Mas. Aku hanya ingin kamu istirahat. Kamu pasti lelah setelah dari rumah Daddy dan Mommy,” jelas Ayline.
Susah payah Ayline membantu Oswald untuk berpindah ke atas ranjang. Ia tutupi dengan selimut, tubuh suaminya sebatas pinggang lalu mengecup keningnya.
“Tidurlah, Mas. Selagi aku akan membuat kue coklat kesukaanmu,” suruh Ayline.
“Tapi, aku tidak mengantuk. Lebih baik aku bekerja saja.”
Oswald sudah akan kembali bangun, namun Ayline menahannya. “Tidak! Tidak boleh!”
“Kumohon, Mas. Walau tak tidur, setidaknya berbaringlah di sini. Istirahatlah,” pinta Ayline.
Ayline berdiri, ia kecup kening suaminya sekali lagi. “Anggap saja kamu sedang bersiap, mengumpulkan tenaga untuk nanti malam,” bisik Ayline lalu berlari keluar kamar karena malu.
...…...
Keesokan paginya di meja makan, Ayline lebih banyak diam. Ayline bersikap dingin pada Oswald maupun penghuni rumah lainnya. Suasana hatinya sedang tak baik-baik saja. Siapa pun yang melihat, tentunya tahu jika senyum yang terukir di wajah cantik itu adalah senyum yang dipaksakan.
“Aku akan berangkat ke kantor hari ini,” ucap Oswald.
Ayline hanya berdeham untuk menjawab. Kening Oswald mengernyit, biasanya istrinya itu akan cerewet melarangnya pergi bekerja. Ayline bahkan tetap bungkam saat membantunya bersiap-siap.
“Ya, jika itu yang kamu mau,” jawab Ayline singkat.
Ayline beranjak mengambil botol parfum milik Oswald. Sentuhan terakhir untuk penampilan sempurna suami tampannya.
“Kamu marah padaku?” Oswald mencegah tangan Ayline yang hendak menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Ayline menggeleng.
“Kamu kecewa padaku?” tanya Oswald lagi, dan Tebakan Oswald kali ini benar hingga Ayline bungkam dan memalingkan wajahnya.
“Kan sudah kukatakan jika aku tak bisa. Sudah kuperingatkan kamu untuk tidak berharap padaku.”
Ya, ucapan Oswald benar lagi. Semalam, saat Ayline meminta nafkah batinnya sebagai seorang istri, Oswald sudah memperingatkan jika kemungkinan besar Ayline akan kecewa lagi. Namun, dengan yakin dan mantap Ayline mengatakan ingin mencobanya dulu.
Benar saja, belum juga masuk ke acara inti malam itu, Oswald sudah sampai pada puncaknya hanya karena permainan tangan dan bibir istrinya. Hal ini tentu membuat Ayline kecewa dan juga khawatir. Alhasil, Ayline pun terpaksa harus memuaskan h*sratnya sendiri di kamar mandi. Setelah itu ia melampiaskan kekecewaannya dengan menangis sepu*snya. Jika seperti ini terus, bagaimana dirinya bisa hamil, pikirnya semalam.
Ayline mengangguk. Mengingat kejadian semalam, Ayline mengusap sudut matanya sebab ada genangan air mata di sana.
Ayline bertumpu pada kedua lututnya di depan kursi roda Oswald. “Bagaimana jika kita konsultasi ke dokter, Mas?” Pinta Alyline. Lagi-lagi ia akan melunak dalam menghadapi suaminya.
__ADS_1
Mendengar permintaan istrinya, Oswald yang tadinya merasa bersalah pada Ayline seketika berubah murka. Ia tepis tangan Ayline yang menggenggam tangannya. Hingga botol parfum yang dipegang Ayline terhempas dan pecah setelah terbentur lantai.
“Kau ingin mempermalukan aku, hah?”
“Apa menurutmu aku belum cukup malu dengan keadaanku yang cacat seperti ini?! Sudah cukup orang-orang memandang kasihan padaku karena aku cacat. Aku tak ingin orang-orang semakin kasihan saat tahu aku juga tak sempurna sebagai seorang pria!”
Ayline menelan salivanya melihat kemarahan di wajah Oswald. Sepertinya aku bicara diwaktu yang kurang tepat, batin Ayline.
“Bukan begitu maksudku, Mas. Kupikir kita akan menemukan jalan keluarnya jika kita berkonsultasi ke dokter. Aku tak niat memperma-“
“Berhenti omong kosong, Ayline!” bentak Oswald seraya mencengkeram pipi Ayline dengan satu tangan.
“Awas saja jika kau berani-berani membicarakan hal ini pada orang lain. Entah itu dokter atau orang tua kita! Aku bersumpah akan menghabisimu, menghabisi keluargamu jika orang lain sampai tahu kekuranganku yang satu itu!”
“Paham, kamu?!” sentaknya.
Ayline mengangguk seraya meringis merasakan sakit di sekitar rahangnya yang baru saja dicengkeram oleh Oswald. Walau begitu, dia tetap berdiri lalu mendorong kursi roda suaminya. Dalam setiap langkahnya, Ayline berusaha menahan air mata yang ingin melesak keluar dari pelupuk matanya.
Ayline memang sudah sering menjadi pelampiasan amarah Oswald. Tapi, baru kali ini pria itu sampai mengancam ingin menghabisinya juga keluarganya. Ayline merasa, dia sudah semakin tak mengenal sosok Oswald. Suaminya sudah benar-benar berubah.
...…...
Tak lama setelah Oswald berangkat bekerja, Mommy Raya datang ke rumah Ayline. Wanita yang masih sangat cantik di usianya yang sudah paruh baya itu, sengaja berkunjung ke rumah menantunya untuk memberikan sesuatu.
“Baru saja Mas Oswald berangkat ke kantor, Mom,” ucap Ayline.
“Tak apa. Mommy ke sini ingin bertemu denganmu.”
“Aku? Ada apa, Mommy?” Raut wajah serius Mommy Raya membuat Ayline kesulitan menebak apa yang Ibu Mertuanya itu inginkan.
Tidak mungkin kan, jika Oswald mengadu pada Mommy-nya? Dia kan memintaku merahasiakan ini, Batin Ayline.
“Bersiaplah. Mommy ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat,” suruhnya.
“Ke mana, Mom?”
“Bersiap saja. Kita harus cepat. Selain karena Mommy sudah membuat janji temu, kamu juga harus ke kantor Oswald saat makan siang, bukan?”
Ayline mengangguk untuk menjawab.
“Nah, karena itu kita harus cepat. Ayolah, Ayline cepatlah bersiap,” suruh Mommy Raya.
Ayline akhirnya beranjak ingin ke kamar namun langkahnya dihentikan oleh Mommy Raya.
“Ayline!” panggilnya hingga menantunya itu menoleh.
__ADS_1
“Satu lagi … jangan beritahu Oswald tahu jika kita akan pergi bersama!” peringat Mommy Raya membuat Ayline bertanya-tanya ke mana dan apa tujuan Ibu Mertuanya ingin membawanya.
...——————...