Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 14 - Pertemuan dengan Syila


__ADS_3

“Siapa yang kamu katakan penyusup? Aku?!” Antara heran juga lucu, Ayline bertanya kembali pada wanita yang baru ia temui.


“Jika bukan penyusup, lantas bagaimana kamu bisa masuk?” tanyanya lagi seolah menantang Ayline.


“Ini kediaman keluarga Pallas. Pemilik pabrik tekstil yang lokasinya tak jauh dari rumah ini,” jelasnya tanpa Ayline minta.


Sementara tatapan Ayline tertuju pada ponsel wanita itu. Ponsel yang masih menampakkan wajah seorang pria. Entah kekasih atau bisa saja suami si wanita, pikir Ayline.


“Aku tahu rumah ini milik siapa,” ucap Ayline.


“Jika tahu, kenapa kamu berani masuk ke sini? Dan bagaimana bisa? Penjagaan di rumah ini dan sekitarnya cukup ketat.” Wanita itu terus bertanya dan sepertinya lupa jika ponselnya masih terhubung ke panggilan video bersama seorang pria.


“Apakah berkeliling di rumah sendiri dikategorikan sebagai menyusup?” tanya Ayline diikuti tawa setelahnya.


“Maksudmu rumah sendiri?


Wanita itu sepertinya masih kurang paham maksud Ayline. Entah dia siapa, Ayline pun tak tahu. Namun, tanpa sengaja Ayline melihat jika wanita itu memiliki id card dengan logo perusahaan Pallas. Apa mungkin dia karyawan di kantor pusat? Tanya Ayline dalam hatinya.


Lalu saat wanita itu sedang berpikir, ia dikejutkan dengan suara seorang pria yang terdengar dari ponsel yang ia genggam.


“Astaga!” wanita itu tampak panik seraya menekan-nekan asal layar ponselnya untuk memutus sambungan video itu. Wajahnya memerah menehan malu saat melihat Ayline mengatupkan bibirnya seperti hendak menahan tawanya.


“Kekasihmu akan kesal, kamu memutuskan sambungan telepon begitu saja,” ucap Ayline semakin menggoda wanita itu.


“Terima kasih, aku terima permintaan maafmu karena telah diam-diam mendengar pembicaraanku di telepon,” sarkas wanita itu.


Bukannya marah atau kesal, Ayline malah tertawa. Ia merasa tingkah wanita di hadapannya sangat lucu. Walaupun terkesan ketus, tapi Ayline merasa sepertinya wanita ini akan sangat menyenangkan jika menjadi teman mengobrolnya.


“Baik-baik … aku minta maaf karena telah mendengar percakapan kamu bersama kekasihmu,” ucap Ayline.


“Sebaiknya kita berkenalan dulu,” ucap Ayline ramah seraya mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan. “Namaku Ayline. Aku baru pindah kemarin,” lanjutnya.


Ayline? Pindah kemarin? Tanya si wanita dalam hatinya. Apa mungkin dia Si Nyonya Rumah? Apa aku baru saja membentak Si Nyonya Rumah?


Suasana pagi itu mendadak berubah menjadi horor bagi Si Wanita. Terlebih saat tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang tak asing memanggil-manggil namanya.


“Syila!” panggil Pak Albert dari jauh saat melihat ada majikannya bersama Syila. Perasaannya gugup, ia menduga Syila telah membuat kekacauan.


“Jadi namamu Syila?” tanya Ayline dengan ramah.

__ADS_1


Sementara Syila hanya mengangguk. Saat dia menoleh, benar dugaannya jika yang memanggilnya itu adalah Ayahnya. Dan dari apa yang dilihatnya, kepanikan dari raut wajah Ayahnya menunjukkan jika dia telah membuat kesalahan.


“Nyonya Ayline,” sapa Pak Albert dengan ramah.


Mati aku! Jadi, dia benar Nyonya rumah ini. Bagaimana nasibku dan Bapak setelah ini? Aku bahkah menyebutnya penyusup tadi. Bodoh … kau memang bodoh Syila!


“Pak Albert,” balas Ayline masih dengan senyum ramahnya.


“Apa yang Nyonya sedang lakukan di sini? Maaf Nyonya, Apa anak badung ini mengganggu Anda? Maafkan putriku, Nyonya,” ucap Pak Albert.


Ayline menggeleng seraya tertawa. Dia tak menyangka jika kepala pelayan yang kaku memiliki putri seperti Syila yang sangat ekspresif. Sementara Syila berubah 180 derajat setelah Ayahnya tiba. Dia terus menunduk dan terus menghindar untuk bertatapan mata dengan Ayline.


“Tenanglah Pak Albert, dia tak menggangguku. Kami hanya mengobrol. Aku senang bisa memiliki teman mengobrol seperti Syila.”


Pengakuan Ayline membuat kedua netra Syila terbelalak menatapnya. Padahal tadi dia sudah bersikap sedikit kasar, bicara tak ada ramah-ramahnya, bahkan sampai menuding jika Ayline adalah penyusup. Syila jadi merasa malu pada dirinya sendiri. Kepalanya semakin tertunduk. Ia merasa tak punya muka lagi untuk bertemu dengan majikannya yang baik hati itu.


“Tapi, ada apa Pak Albert ke mari?” tanya Ayline.


“Oh, iya Nyonya. Maaf aku hampir lupa.”


“Tuan Oswald mencari Anda. Tuan menunggu Anda di kamar utama,” jelas Pak Albert.


Jika kekhawatirannya benar terjadi, maka Ayline berjanji pada dirinya sendiri akan membuat perhitungan dengan suaminya yang sudah berani-beraninya membawa masuk wanita lain ke kamar. Perubahan raut wajah Ayline disadari oleh pasangan ayah dan anak di hadapannya.


“Mari, Nyonya. Tuan sudah menanti Anda,” ucap Pak Albert.


“Oh, baiklah,” sahut Ayline.


“Syila, nanti kita lanjut lagi obrolan kita ya.” Kemudian Ayline mengikuti langkah Pak Albert yang kembali masuk ke rumah.


“Pak Albert,” panggil Ayline. “Hem, Dokter itu … di mana dia?” tanya Ayline ragu.


“Dokter Siska sudah pergi lima menit yang lalu, Nyonya. Terapinya sudah selesai, Tuan Oswald seorang diri menanti Anda di kamar.” Mendengar penjelasan Pak Albert membuat hati Ayline akhirnya tenang.


Setibanya di kamar, Ayline melihat suaminya itu sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam. Kening Ayline mengernyit, beginilah jadinya jika dia tak pernah dilibatkan dengan jadwal suaminya. Dia jadi tak tahu apa-apa yang akan dilakukan suaminya.


“Mas, kamu mau pergi?” tanya Ayline.


“Iya.”

__ADS_1


“Ke mana?” tanya Ayline lagi.


“Ke Pabrik. Aku ingin melihat langsung suasana pabrik,” jawab Oswald.


“Ta-tapi … apa harus hari ini? Kita baru saja sampai kemarin, apa kamu tidak ingin istirahat dulu?”


Ayline pikir tujuannya mengusulkan untuk pindah ke wilayah itu karena ia tak ingin Oswlad terlalu banyak bekerja. Ia ingin Oswald memiliki lebih banyak waktu untuk istirahat. Fokus pada kesehatannya.


“Kenapa memangnya, apa ada masalah dengan itu?” Oswald terlihat mulai kesal.


“Sebenarnya aku ingin kamu ikut denganku. Kita akan ke pabrik, aku juga ingin mengenalkanmu sebagai istriku pada seluruh karyawan pabrik. Tapi, jika kamu lelah dan tak ingin pergi, tak apa. Kamu silakan istirahat saja di rumah.”


Ayline segera menggeleng, tentu saja dia tak akan melewatkan kesempatan ini. Apa pun itu ia akan bersemangat, asalkan itu berarti ia akan menghabiskan waktu bersama suaminya.


“Tidak … tidak … aku tidak lelah. Aku akan ikut denganmu. Tunggu, aku akan bersiap dengan cepat.”


...…...


Tak berselang lama, mobil mewah yang dikemudikan Denis berhenti tepat di depan lobi pabrik tekstil milik keluarga Pallas. Ayline hanya menggeleng saat mereka malah mengendarai mobil ke pabrik yang terletak tak jauh dari rumah. Bahkan tak sampai dua menit mereka telah sampai.


Jalan kaki harusnya juga bisa, batin Ayline.


Kedatangan Oswald, Ayline, dan Denis disambut oleh para petinggi dan seluruh karyawan pabrik. Mereka terlihat sangat antusias dengan kedatangan anak dari pemilik perusahaan tempat mereka mencari nafkah selama puluhan tahun terakhir.


Sebuah pesta penyambutan disiapkan di aula. Ada tari-tarian, pertunjukan bakat, dan acara hiburan yang ditampilan dari beberapa orang karyawan. Oswald pun memberikan kata sambutan juga memperkenalkan Ayline sebagai istrinya.


Semua mata tertuju pada pasangan suami istri yang terlihat sangat serasi itu, terlepas dari kekurangan Oswald yang duduk di kursi roda. Bagi karyawan dan masyarakat di desa itu, kenyataan jika Oswald lumpuh tak menutupi kehebatan pria itu. Satu-satunya pewaris keluarga Pallas. Pemilik pabrik tekstil yang tersebar di beberapa kota di negara itu.


Seiring waktu berjalan, Ayline mulai menikmati pesta penyambutan. Para karyawan sangat ramah. Mereka juga sangat menyukai dan kagum pada Ayline. Istri Bos yang tidak sombong dan tak keberatan berbaur dengan mereka. Para buruh pabrik dengan jabatan rendahan di perusahaan itu.


Lalu, saat sedang mencicipi kue-kue tradisional yang disuguhkan padanya, seseorang datang mendekat dan disambut senyuman oleh Ayline.


“Permisi Nyonya,” ucapnya dengan kepala menunduk.


“Ya, ada apa?”


“Maaf jika aku lancang. Bisakah aku meminta waktu Nyonya sebentar untuk bicara?” pintanya.


...———————...

__ADS_1


__ADS_2