
“Ekhem ….”
Pria tampan yang berdiri di hadapan Ayline berdeham. Ia menanti dengan harap-harap cemas jawaban dari wanita cantik di hadapannya ini.
Sebelum datang ke acara ulang tahun Kakak Iparnya ini, sejujurnya pria itu merasa tak bersemangat. Apalagi saat sudah berada di sana
, terpaksa dan risih itulah yang dia rasakan. Berkumpul, hura-hura, tertawa, bersaing untuk menunjukkan siapa yang paling bahagia dalam hidupnya, tentu saja bukan gaya pria itu. Kehadirannya di tempat itu hanya untuk memenuhi permintaan sang Kakak.
Seandainya dia tahu jika kedatangannya ke kota itu bertepatan dengan hari ulang tahun Kakak Iparnya, maka dia tak mau datang atau bisa saja dia akan mengubah waktu kedatangannya.
“I-iya, ada apa ya?” Ayline malah bertanya kembali dengan gugup.
Pria di hadapannya itu berusaha menahan tawanya. Entah mengapa dia terbayang sikap gadis-gadis SMA yang selalu salah tingkah saat berhadapan dengannya.
“Aku bertanya apakah kursi ini masih kosong?” Pria itu bahkan menarik ke belakang kursi yang ingin ia duduki. Ayline dengan ragu menganggukkan kepalanya hingga pria itu tersenyum lebar saking senangnya.
“Apa aku boleh duduk di sini? Kulihat kamu sendirian saja, boleh aku menemanimu?”
Ayline benar-benar salah tingkah. Ia tak terbiasa berbicara dengan pria yang tak ia kenal secara tiba-tiba seperti ini. Refleks saja Ayline menggeleng, ia pasti akan merasa canggung seandainya pria itu duduk satu meja bersamanya.
Senyum pria itu menghilang. Ah, dia merasa ditolak bahkan sebelum mereka sempat berkenalan. Sayang sekali, batinnya. Namun mengapa penolakan itu membuatnya semakin bersemangat dan tertarik dengan wanita itu
“Tak boleh?” tanya si pria memastikan kembali. Ada rasa kecema dalam benaknya, namun ia tak rela untuk pergi. Dia bertekad harus berhasil bekenalan dengan wanita cantik ini, pikirnya. Setidaknya, kehadirannya di persta itu tidak sia-sia.
Pria itu menoleh ke sekeliling, “Sayang sekali, sepertinya aku harus pergi saja. Padahal sudah enggak ada tempat lain lagi,” ungkapnya.
Ayline mengikuti apa yang dilakukan si pria. Ia ikut menyapu seluruh ruang restoran dengan tatapannya. Ayline menahan senyumnya saat sadar jika apa yang diucapakan pria itu hanya alasan.
“Mata kamu ada yang salah deh, masih banyak kok kursi lain yang kosong,” ucap Ayline.
Pria itu kembali tersenyum. Akhirnya, wanita itu mau juga bica padanya. Masih mending dan ada harapan, pikirnya. Sebab wanita itu sudah bicara, tak hanya menunduk dan menggeleng saja seperti sebelumnya.
“Enggak, kok. Kursi lain memang masih banyak yang kosong. Tapi, yang ada wanita cantiknya hanya di sini,” jawab pria itu menggoda Ayline.
Sontak saja Ayline tertawa, menganggap godaan dan pujian pria itu sebagai lelucon. Ia tampak berpikir sejenak, mungkinkah ini kesempatanku, batin Ayline.
__ADS_1
“Hem … karena kamu sudah membuatku tertawa, maka baiklah kamu boleh duduk di sini,” ucap Ayline.
“Lalu kamu?” Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, pria itu segera duduk di kursi hingga duduk berhadapan dengan Ayline.
“A-aku kenapa?” Ayline tampak kebingungan mendapatkan pertanyaan itu tiba-tiba.
“Kamu enggak kemana-mana kan? Tetap duduk di situ kan?” tanyanya memastikan.
Ayline mengedikkan bahunya. Pria di hadapannya ini tampan, tapi cukup aneh menurutnya. “Tentu saja. Ini kan tempat dudukku sejak awal. Aku juga belum berniat untuk pergi dari pesta ini,” jawab Ayline.
“Yes!” seru pria itu mendapat tatapan heran dari Ayline.
“Maaf, maaf,” pria itu terkekeh saat melihat tatapan Ayline. “Aku hanya terlalu senang karena mendapat kesempatan bisa mengobrol denganmu,” ucapnya.
Ayline ikut tergelak. Lucu juga pria ini, pikirnya. “Memangnya siapa yang mau mengobrol denganmu? Aku tak biasa mengobrol dengan orang asing,” balas Ayline.
Tangan pria itu terulur di hadapan Ayline. “Mudah saja, ayo berkenalan!” ajaknya. “Setelah berkenalan aku enggak akan jadi orang asing lagi kan?”
“Nama aku Kevin dan aku datang sendiri ke pesta ini. Kamu mau kan menemaniku di sini? Kita bisa mengobrol, setidaknya aku dan kamu tak akan bosan juga merasa kesepian walau berada di antara keramaian ini.”
Banyak hal berkecamuk dalam benak Ayline saat ini. Ia ragu, apakah ia harus melanjutkan semuanya atau harus berhenti saat itu juga. Namun saat ia masih galau untuk memutuskan, Kevin tanpa permisi menarik satu tangan Ayline dan memaksa untuk menyambut uluran tangannya.
Ayline terkejut bukan main, pertama kalinya ada pria lain yang menyentuhnya selain Oswald. Ingin menarik tangannya, namun Kevin sudah lebih dulu menjabat tangannya. “Sebutkan namamu,” pintanya.
“Hah?!” Ayline masih syok dengan tingkah Kevin.
“Namamu siapa? Jika kamu tak menyebutkannya maka aku akan memanggilmu cantik. Bolehkan?” lanjut Kevin.
“Ck! Mana bisa seperti itu,” jawab Ayline. “Awas saja jika berani-berani mengubah namaku seenaknya.”
“Namaku Ayline, dan terima kasih atas perkenalannya yang dipaksakan ini,” lanjut Ayline seraya menarik tangannya.
Kevin tertawa dengan ucapan sarkas Ayline. “Tenanglah, aku tak akan mengubah nama kamu kok. Nama kamu bagus banget.”
“Ay-line,” ucap Kevin. “Biar makin akrab, aku manggil kamu apa? Ay atau Ayang, bagusan yang mana?” tanya Kevin diakhiri dengan kedipan salah satu matanya.
__ADS_1
Ayline menggeleng sambil berdecak. “Ck!”
“Ayline! namaku Ayline,” tegas Ayline. “Kamu sengaja menggodaku ya?”
Kevin lagi-lagi tergelak. Ah, akhirnya ada alasan yang membuatnya tak boleh mengeluh karena telah dipaksa hadir ke pesta ulang tahun Kakak Iparnya. “Memangnya kamu tergoda?”
Kedua netra Ayline terbelalak. Seketika terasa panas di sekitar wajahnya, ia yakin rona merah muda sudah menghiasi pipinya. “Enggak, kok. Aku tak semudah itu tergoda dengan leluconmu itu.”
“Iya Ay-line, aku percaya kok.” Kevin sengaja mengucapkan nama Ayline dengan menekankan kata Ay. Tentu saja ia lakukan itu untuk menggoda wanita Ayline.
“Tapi jika boleh jujur, aku senang kok kamu enggak mudah tergoda,” ucap Kevin.
Kening Ayline mengernyit. “Karena itu artinya kita masih akan mengobrol lama. Soalnya, aku sudah bertekad harus berhasil menggodamu,” jelas Kevin.
“Apa?!” Ayline sungguh tak percaya jika ada pria dengan tingkat kepercayaan diri tinggi sepeti Kevin. “Siapa kamu berani sekali berkata seperti itu padaku. Memangnya kamu enggak tahu siapa aku?!”
Kevin menggeleng. “Enggak tahu. Makanya aku ajak kenalan. Sekarang sudah tahu nama kamu, tapi aku masih ingin tahu yang banyak hal lain tentang kamu.”
“Boleh?”
Pertanyaan Kevin membungkam Ayline. Baru kali ini ia bertemu dengan pria seperti Kevin. Unik, tapi juga aneh. Namun Ayline bingung apa dia harus melanjutkan ini atau tidak.
Dalam keraguannya Ayline teringat ancaman Oswald semalam. Suaminya itu mengancam akan membeberkan satu proyek yang dananya digelapkan oleh Ayahnya. Jika itu terjadi sudah pasti Ayahnya harus membayar kerugian yang cukup besar kepada perusahaan.
Kevin melambai-lambaikan tangannya di hadapan Ayline. “Hei, Ayline .. boleh kan?” tanya Kevin sekali lagi.
“Jika boleh, aku juga tak keberatan untuk mengizinkanmu tahu banyak hal tentangku,” lanjut Kevin.
Entah dari mana datangnya keberanian itu, Ayline mengangguk. “Bo-boleh, kok.”
“A-aku juga ingin tahu banyak tentangmu,” ucap Ayline ragu.
Apakah apa yang sudah kulakukan ini benar? Kumohon selamatkan aku jika ini adalah sebuah kesalahan.
...—————————...
__ADS_1