Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 32 - Curhatan Kevin


__ADS_3

Sementara itu, di sebuah kafe terbesar yang berada di Kota Gumi, Kevin dan dua orang teman prianya sedang berkumpul. Mereka terlihat asyik bercengkerama, saling bertukar candaan untuk meramaikan suasana malam itu.


Walau tak semuanya tampak bergembira, sebab ada salah satu di antara meraka yang sejak tadi hanya diam dan terlihat tak bersemangat. Dia adalah Kevin.


“Bro … kamu kenapa? Kalau ada masalah, cerita saja. Mungkin kami bisa bantu,” tanya seorang pria yang bernama lengkap Guilandra.


“Jangan bilang karena kerjaan,” timpal seorang pria lain lagi bernama Septi. “Alasan kerjaan sudah basi!”


Mendengar celotehan Septi, Guilandra pun tak bisa menahan tawanya. “Septi bener sih, Vin. Jangan pakai alasan kerjaan lagi deh. Kita bertiga kan bekerja di bidang yang sama, sekurang-kurangnya tahu lah gimana mumetnya pekerjaan kita.”


“Lagian, kamu baru kembali dari rumah Kakak kamu, kan? Apa ada hal buruk yang terjadi selama di sana?” tanya Guilandra, pria yang biasa di sapa Andra.


Kevin menggeleng. “Enggak ada apa-apa, kok. Santai saja,” ucapnya seraya menenggak habis satu gelas minuman di hadapannya.


“Ck! Kamu enggak asyik, Vin. Kan yang ngajakin ngumpul kamu. Ayo, dong semangat. Kita senang-senang!” Septi mencoba mengubah suasan hati sahabatnya itu agar bisa lebih ceria.


Kevin menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia yakin, kedua sahabatnya ini tak akan berhenti bertanya sebelum dia bercerita.


Bayangan wajah cantik Ayline memenuhi kepalanya, saat Kevin hendak menceritakan kejadian satu minggu lalu yang membuatnya galau hingga kini.


“Jadi, aku itu ketemu cewek di ulang tahun Kakak Iparku. Namanya, Ayline. Dia cantik banget. Sumpah, senyumnya itu loh ….”


Benar, kan?! Hanya menyebut nama Ayline saja hatinya sudah terasa cenat-cenut. Membayangkan betapa cantiknya wajah Ayline saat terenyum. Menggemaskannya dia saat merajuk, ah … Kevin sungguh dilanda kerinduan yang luar biasa pada wanita itu.


“Wah … keren tuh!” celetuk Septi. “Terus kamu pepet dong tuh cewek?”


Kevin mengangguk membenarkan pertanyaan Septi. Sementara Andra tetap diam, ia penasaran sebab mengapa wajah Kevin malah tampak murung. Seharusnya pria itu bahagia setelah bertemu dengan wanita yang katanya sangat cantik itu.


“Oh, aku ngerti nih.” Septi membusungkan dadanya, berlagak sok tahu. “Paham … paham banget nih aku,” lanjutnya.


Andra dan Kevin menatap sahabatnya itu dengan senyum yang tertahan. Tahu sekali dengan kebiasaan Septi yang sok tahunya suka melebihi batas. “Tahu apa memang?” tanya Andra.


“Tahu kenapa anak ini kok malah murung,” jawab Septi.


“Ini anak pasti lagi sakit rindu! Kangen kan kamu sama dia?” Tebak Septi.

__ADS_1


Kevin mengangguk dengan helaan napas yang panjang. Jika Septi merasa bangga dan puas sebab tebakannya dibenarkan oleh Kevin, berbeda dengan Andra. Pria itu menebak jika selain rindu, masih ada hal lain yang mengusik pikiran Kevin.


Andra, Kevin, dan Septi sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Hingga sekarang, saat ketiganya sudah bekerja sebagai seorang tenaga pendidik, persahabatan mereka masih sangat erat. Jika Kevin berprofesi sebagai seorang dosen, lain lagi dengan Andra dan Septi yang berprofesi sebagai seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Atas yang sama.


“Ya udah, telepon gih jika rindu,” saran Andra.


Mendengar saran Andra, helaan napas Kevin terdengar lagi. “Seandainya aku bisa,” gumamnya.


“Kenapa? Apa ada masalah?”


Kevin mengangguk. “Wanita itu ternyata sudah milik orang, Bro!” jawab Kevin membuat Andra dan Septi memekik.


“Pacar orang atau Istri orang?!” tanya Septi dan dijawab Kevin dengan menaikkan dua jarinya sebagai jawaban.


“Astaga?! Istri orang?” tanya Andra memperjelas. Kevin pun mengangguk sebagai jawaban.


Andra mencoba menasihati Kevin. Bagi Andra, lebih baik sahabatnya itu kecewa sekarang, dari pada nanti terlibat dalam masalah besar.


“Parah sih, mending kamu jangan sampai terlibat dengan istri orang. Hanya akan bawa masalah nantinya. Bukan bahagia, aku yakin nanti kamu akan dibuat sakit hati.”


Andra lebih banyak menutup dirinya pada orang lain, apalagi orang yang baru dikenalnya. Itulah mengapa hingga di usianya yang sudah menginjak 29 tahun, pria itu belum pernah menjalin kasih sekali pun.


“Kamu benar, Ndra. Aku juga sekarang sedang berusaha untuk berhenti memikirkan wanita itu. Sebab jika kupaksakan, bukan hanya aku yang nantinya akan terlibat masalah. Keluarga Kak Galih juga terancam,” jelas Kevin.


“Hem … sebab wanita itu adalah istri dari pemilik perusahaan tempat Kak Galih bekerja,” lanjutnya.


Gantian Andra yang menepuk lengan Kevin. “Sabar aja, Bro. Aku yakin suatu saat kamu akan bertemu dengan wanita yang memang cocok denganmu.”


Tanpa Andra dan Kevin sadari, sejak tadi Septi hanya diam. Pria itu sedang sibuk mengutak-atik ponsel Andra.


Sebenanrya ide ini sudah sejak lama dia usulkan pada Andra, namun pria itu selalu menolak. Septi jadi gemas sendiri, pasalnya di antara mereka hanya Andra yang tak pernah terdengar dekat dan terlibat dengan wanita mana pun.


“Yes, akhirnya!” Seru Septi tiba-tiba.


Andra dan Kevin menoleh bersamaan menatap Septi. Kedua netra Andra membola saat melihat Septi sedang memegang ponselnya.

__ADS_1


“I-itukan ponselku? Kembalikan sini!” suruh Andra seraya berusaha merebut ponselnya dari tangan Septi.


Septi menghindar, ia terus menjauhkan ponsel milik Andra. Ia harus menyelesaikan apa yang sudah dimulainya, pikir Septi.


“Bentar dulu! Ini juga demi kebaikan kamu loh, Ndra.”


Kevin hanya menggeleng saja, menatap kedua sahabatnya bertingkah layaknya anak kecil yang sedang rebutan ponsel.


“Enggak ada baik-baiknya ya ide kamu itu!” Balas Andra kesal.


Bukankah sudah ia katakan jika ia tak tertarik dengan ide aneh Septi. Meski banyak yang bilang cinta pandangan pertama itu benar-benar ada, namun Andra tak pernah percaya. Apalagi dengan cinta yang timbul melalui aplikasi pertemenan, bagi Andra hal itu tak masuk akal.


“Coba saja dulu!” Septi tetap kekeh dengan idenya.


Untuk menghindari Andra, Septi bahkan beranjak dari kursinya dan berlari ke sudut ruangan agar tak dikejar oleh si pemilik ponsel.


Tak ingin menarik perhatian pengunjung lain, Andra terpaksa biarkan saja Septi melakukan apa pun pada ponselnya. Pikirnya, saat pulang ke rumah ia akan menghapus aplikasi pertemanan yang sudah Septi unduh untuknya.


Tak lama Septi kembali. Wajah pria itu berseri-seri layaknya seseorang yang baru saja sukses melaksanakan tugas negara.


“Nih lihat, aku bilang juga apa. Di aplikasi ini tuh, tak sulit menemukan wanita yang cocok denganmu,” ucap Septi bangga sembari mengembalikan ponsel Andra pada pemiliknya.


“Cocok dari mananya? Gila kamu!”


“Cocok dari namanya,” jawab Septi yakin. “Wanita itu namanya Alin dan kamu Alan. Sepertinya kalian akan berjodoh,” lanjut Septi percaya diri.


“Alan? Siapa Alan?” Kali ini Kevin yang bertanya sebab bingung dengan apa yang terjadi. Beberapa minggu tak bertemu dengan kedua sahabatnya, sepertinya dia melewatkan beberapa hal penting.


“Alan itu Andra. Nama samaran di aplikasi pertemanan itu,” ungkap Septi.


“Gui-lan-dra, alias A-lan! Keren kan?” Septi menaik turunkan alisnya. “Nama itu aku loh yang buatin,” lanjutnya semakin bangga.


Sementara, Andra hanya bisa berdecak sebab merasa kesal pada Septi. “Gila! Mana ada jodoh yang dicocokkan dari nama samaran,” gumam Andra kesal.


...——————————...

__ADS_1


__ADS_2