
Apa?! Seenaknya saja dia bilang aku enggak ada kerjaan!
Genggaman tangan Ayline semakin erat pada sendok dan garpu. Meski yang salah bukan kedua benda itu, namun sungguh malang nasibnya sebab kini keduanya menjadi pelampiasan kekesalan Ayline.
Wanita itu sedang menikmati makan siangnya. Sebenarnya tak bisa dikatakan menikmati, lebih tepatnya jika dikatakan jika dia sedang melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya. Makan siang bersama agar di mata orang-orang keduanya terlihat sebagai pasangan rumah tangga yang harmonis.
Beberapa saat yang lalu, ketika ia sedang makan, ponsel miliknya yang ia letakkan di atas meja bergetar. Tanpa menunda, segera Ayline mengecek apakah ponselnya bergetar tanda pesan yang ia tunggu akhirnya tiba juga.
Senyumnya mengembang saat melihat benar jika ada notifikasi pada aplikasi Teju. Semoga ini pesan dari Alan, batin Ayline memohon.
Benar saja, dari banyak pesan baru yang ia terima salah satunya adalah pesan dari pria bernama Alan. Kedua netra Ayline membola, bibirnya sedikit terbuka. Ah, dia tak menyangka jika pesan dari Alan akan mengejutkan seperti ini.
Kasar sekali pria ini!!! gerutu Ayline dalam hati.
Apa maksudnya?! Seenaknya saja dia bilang aku enggak ada kerjaan!
Gelagat aneh istrinya, tertangkap oleh kedua netra Oswald. Ada rasa tak nyaman saat melihat istrinya sibuk dengan urusan lain ketika mereka bersama. Namun, sekali lagi Oswald memperingatkan pada dirinya sendiri untuk bersabar. Ia meyakini setelah permasalahan ini selesai, mereka berdua dapat hidup bahagia.
“Ekhem,” Oswald berdeham. “Sayang, selesaikan makan kamu dulu.” Tentu saja ia harus mengucapkan kata-kata lembut nan romantis, mereka sedang berada di restoran. Banyak mata yang mengawasi.
Dengan berat hati Ayline meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Kedua netranya masih memicing, mengawasi layar ponselnya. Ia masih menunggu apakah pria bernama Alan itu akan mengiriminya pesan lagi.
Sayangnya yang ditunggu Ayline tak kunjung terjadi. Tak ada satu pun pesan dari Alan hingga ia menyelesaikan makan siangnya.
Melihat istrinya makan dengan cepat, Oswald hanya bisa menghela napasnya pelan. Apalagi saat Ayline pamit ke toilet, Oswald hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika menatap punggung istrinya yang perlahan menjauh.
Saat Tuannya sendiri di meja, Denis yang dari tadi hanya mengawasi dari meja lain mendekati Tuannya. “Tuan, apakah Anda masih tak ingin cari tahu siapa pria itu?”
Oswald menggeleng. “Sepertinya istriku itu bekerja keras untuk memenuhi keinginanku. Sebaiknya aku menepati janjiku padanya, bukan?”
Denis tak menjawab, ia kembali ke tempat duduknya semula. Denis tahu, ia tak memiliki kewajiban dan kewenangan untuk mengambil keputusan.
Perintah terakhir Oswald adalah memastikan jika Ayline benar bertemu dengan seorang pria sekitar seminggu yang lalu. Hanya itu perintah yang ia terima, jadi hanya itu yang ia laporkan pada Tuannya. Mengenai identitas pria itu, Denis masih menyimpan faktanya.
Sementara di toilet, Ayline segera mengetikkan pesan balasan pada pria bernama Alan itu.
__ADS_1
Pengangguran?! Sok tahu banget kamu!
Semenit berlalu belum ada balasan dari Alan. Ayline masih bertahan di dalam toilet. Ia masih ingin menunggu balasan pesan dari Alan.
Dua menit, hingga lima menit Ayline masih menunggu. Walau ia mulai gelisah memikirkan bahwa Oswald pasti mencarinya.
Drrtt … ponsel dalam genggamannya bergetar. Tangan Ayline juga gemetaran saat hendak membaca pesan dari Alan.
Tentu saja aku tahu. Mau disebut apa lagi, orang yang enggak ada kerjaan seperti kamu? !
Ayline menggeram. Ia sangat kesal pada pria bernama Alan ini. Tanpa ia sadari, secara tak langsung pria itu sudah menarik perhatiannya. Ayline bahkan tak menghiraukan pesan-pesan lain untuknya. Ayline hanya membalas dan juga menunggu balasan pesan dari seorang pria saja, yaitu Alan.
Dada Ayline bergemuruh, ia tak sabar untuk membalas pesan dari Alan. Ayline sempat bingung, memangnya sekarang apa pekerjaannya. Ibu rumah tangga? Jika memberi jawaban jujur, pria ini pasti akan tahu statusnya adalah seorang istri, pikir Ayline.
“Jika tahu aku adalah wanita bersuami, sudah pasti dia akan seperti Kevin,” Ayline bermonolog.
Lama ia berpikir, akhirnya ia memiliki jawaban yang dirasa paling tepat.
Kamu tahu apa tentangku. Asal kamu tahu saja ya, pekerjaanku adalah pekerjaan yang mulia.
Kamu pasti bingung, kan?! Orang sok tahu sepertimu memang tak akan paham dengan yang namanya pekerjaan yang mulia.
Ayline masih tertawa. “Kamu pintar, Ayline. Jadinya kamu tak harus berbohong,” pujinya pada diri sendiri.
Lagi-lagi ucapan Syila terbukti. Bertukar pesan di aplikasi Teju memang membuat seseorang lupa waktu. Seperti yang terjadi pada Ayline sekarang.
Suara Denis yang memanggil namanya, membuat Ayline terkejut. “Astaga, apa yang sudah kulakukan?!” gerutunya.
“Nyonya Ayline, apa Anda baik-baik saja di dalam?” teriak Denis dari luar.
Ayline mendadak panik. Padahal tadi dia sudah mewanti-wanti agar tak terlalu lama berada di dalam toilet.
“Iya, aku baik-baik saja. Aku akan segera keluar,” balas Ayline juga berteriak.
Setelah merapikan pakaiannya, Ayline pun keluar dari toilet dan berjalan kembali ke meja di mana suaminya sudah menunggu. Denis dengan setia berjalan mengikuti di belakang Ayline.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan di toilet, Sayang?” tanya Oswald.
Ayline bergidik ngeri mendengar sebutan sayang dari suaminya yang penuh penekanan. Tatapan tajam Oswald, seperti ingin mengulitinya.
“A-aku … hem, itu Mas, perutku sakit. Sepertinya karena makanan pedas deh,” ucap Ayline beralasan.
Oswald tersenyum. Tetap saja senyumnya itu bukan membuat Ayline lega, akan tetapi membuat Ayline makin merasa gelisah.
“Makanan pedas? Kamu bahkan tak menyentuh sama sekali sambalnya. Entah bagaimana bisa kamu kepedasan, Ayline.”
“Ta-tapi makananku memang pedas. Apa ya tadi itu nama makanannya? Hem … kok aku bisa lupa,” jawab Ayline.
Oswald berdecak. “Sudahlah! Masih ada yang ingin kamu makan?” tanya Oswald. “Jika tak ada lagi, ayo kembali ke pabrik. Masih ada yang harus kukerjakan.”
...…...
Malam harinya sepasang suami istri Ayline dan Oswald sudah siap untuk berkelana ke alam mimpi. Ayline bersyukur sebab suaminya tak membahas lebih lanjut lagi insiden toilet tadi.
Sebelum menyimpan ponselnya ke dalam laci nakas, Ayline sempatkan untuk menbuka aplikasi Teju lagi. Ia ingin memastikan sekali lagi apakah pria bernama Alan itu masih belum membalas pesan darinya.
Sombong banget sih orang itu, gerutu Ayline dalam hati.
Ayline pun akhirnya berusaha untuk memejamkan matanya. Dia sudah memutuskan, jika sampai besok pria itu belum membalas pesannya, maka Ayline tak mau lagi membalas atau mengirimi pria itu pesan.
“Ayline, apa aku sudah katakan jika besok kita akan pergi ke luar kota,” ucap Oswald.
“Kamu belum membahas apa pun soal bepergian ke luar kota. Memangnya kamu akan pergi ke mana besok?”
“Bukan hanya aku, Ay. Tapi kita,” jawab Oswald. “Kita akan pergi bersama Denis dan beberapa manajer pabrik.”
“Aku juga ikut?”
Oswald menjawab dengan anggukan. “Hem, kita akan ke kota Gumi. Ada outlet baru yang akan kita resmikan, besok.”
“Ko-Kota Gumi?” Seketika Ayline kembali teringat pada sosok Kevin.
__ADS_1
Bukankah Kevin juga tinggal di Kota itu? Apa mungkin kami akan dipertemukan lagi? tanya Ayline dalam hati.
...————————...