Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 36 - Kebetulan


__ADS_3

Hari ini, pertama kalinya Ayline menginjakkan kakinya di Kota Gumi. Beberapa Perguruan Tinggi yang terkenal dan menjadi unggulan, sebagian besar berada di Kota tersebut. Hari ini pula adalah persemian salah satu outlet terbaru Pallas Tekstil yang berlokasi di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.


Oswald terlihat gusar sebab ia berharap acara hari ini sukses dan berjalan lancar. Sama dengan suaminya Ayline pun tak kalah gelisahnya menghadapi hari ini. Namun, alasan mereka berbeda. Yang dikhawatirkan Ayline, bagaimana jika nantinya ia akan bertemu dengan Kevin.


Ayline sadar, Kota Gumi tak sekecil itu hingga ia dengan mudahnya bisa bertemu dengan seseorang. Namun, yang disebut sebagai kebetulan itu tetap ada. Jadi, Ayline tak akan menyalahkan dirinya yang sejak semalam ia terus gelisah memikirkan hal ini.


“Kamu sakit, Sayang?” tanya Oswald lembut. Drama pasangan suami istri yang harmonis sedang diperankan oleh pria itu.


“Enggak, aku baik-baik saja.”


Drama yang diperankan Oswald belum terhenti sampai di situ. Dengan lembut ia letakkan punggung tangannya menyentuh dahi istrinya. “Hem, kamu enggak demam kan?” tanyanya masih dengan raut wajah khawatirnya.


Andai saja kondisi rumah tangganya masih sama seperti dulu, sudah pasti hati Ayline akan tersentuh dengan sikap manis dan penuh perhatian dari sang suami. Sayang sekali, dengan segala masalah yang terjadi di rumah tangganya, hati Ayline malah merasakan sakit karena tahu sikap suaminya hanya pura-pura.


Ayline menepis tangan Oswald setelah melihat di dalam mobil mereka hanya ada Denis, seorang manajer, dan seorang wakil manajer dari outlet baru Pallas Tekstil di Kota Gumi.


“Aku enggak apa-apa, Mas. Jika tak sehat, aku juga pasti akan menolak ikut.”


Ingin rasanya Oswald marah, berani sekali Ayline berbicara ketus padanya. Namun, yang terjadi ia hanya bisa mengepalkan tangannya. Andai saja hanya ada mereka berdua, kata-kata pedas sudah pasti terlontar dari bibirnya.


“Baguslah,” ucap Oswald dengan tatapan tajamnya.


Tak ada perbincangan lagi setelah itu. Ketika Oswald dan Ayline mendadak bungkam, Denis dan dua orang yang lain juga menutup mulut mereka rapat-rapat. Tanpa mengatakan apa pun, raut wajah bos mereka sudah jelas menunjukkan jika ia tidak dalam suasana hati yang baik.


...…...


Outlet baru Pallas Tekstil tak pernah dibuat sederhana. Kemewahan dapat dirasakan sejak langkah kaki yang pertama kali memasuki outlet tersebut. Sorak sorai dan riuh tepuk tangan menggema saat Oswald, Ayline, dan sang manajer outlet menggunting pita sebagai simbolis pembukaan outlet itu secara resmi.


Senyum yang semakin mempercantik wajah Ayline tak pernah sirna sepanjang acara berlangsung. Ia benar-benar berperan baik sebagai Nyonya Pallas, dan hal itu membuat Oswald cukup puas. Kekesalannya pada Ayline tadi pagi sedikit berkurang karena itu.

__ADS_1


“Apa kamu lelah?” tanya Oswald saat beberapa tamu undangan sudah pulang.


“Lumayan,” jawab Ayline singkat.


Mengamati raut wajah dan tingkah suaminya, Ayline pikir pria itu sedang dalam suasana hati yang baik. Ayline pikir ini saatnya ia untuk meminta izin untuk pergi sejenak, menjauh dari keramaian pesta untuk menghirup udara segar.


“Mas, sepertinya para tamu sudah mulai berkurang,” ucap Ayline.


Oswald ikut mengamati sekeliling. Benar ucapan istrinya, hanya tertinggal beberapa tamu yang masih menikmati hidangan sembari berkeliling melihat-lihat koleksi kain terbaik produksi Pallas Tekstil.


“Hem … sebagian besar tamu undangan adalah relasi Pallas Grup. Mereka semua adalah pengusaha yang memiliki banyak kesibukan. Waktu sangat berharga bagi mereka,” ucap Oswald.


Ayline hanya mengangguk, lalu pandangannya kembali menyapu ke seluruh sudut-sudut ruangan. Ia mencari sosok Denis. Tak mungkin dia meninggalkan Oswald sendiri. Keterbatasan suaminya menjadi alasan, apalagi sifat angkuhnya yang pantang meminta tolong pada orang yang menurutnya asing.


“Kamu mencari siapa?” tanya Oswald.


“Denis,” jawab Ayline singkat.


Pertanyaan Oswald menyadarkan Ayline jika dia sudah ceroboh menjawab. “Hem, i-itu … aku ingin minta izin padamu untuk pergi sebentar. Ini pertama kalinya aku ke Kota ini, aku hanya ingin berjalan-jalan di sekitar sini.”


“Kamu ingin minta izin padaku, tapi malah mencari Denis.” Oswald tertawa, “Yang benar yang mana, Ayline?”


Ayline hanya bisa tersenyum tipis. “Aku tak ingin meninggalkanmu sendiri. Itulah mengapa aku berniat menunggu Denis kembali baru meminta izin padamu untuk pergi,” jelas Ayline.


Oswald berdecak. Lagi-lagi ia salah memahami maksud istrinya. Oswald tersinggung, ia mengira Ayline meremehkannya.


“Pergilah! Tak perlu menunggu Denis kembali,” suruh Oswald.


“Ta-tapi ….”

__ADS_1


“Pergi sekarang atau kamu akan aku larang untuk pergi,” ancam Oswald. “Kamu pikir aku tak bisa menjaga diriku sendiri? Walau aku hanya duduk di kursi roda, tapi aku tak selemah itu!”


Setelah itu, Oswald menjalankan kursi rodanya sendiri meninggalkan Ayline. Pria itu menemui beberapa orang pria dengan setelan jas rapi. Masih dari tempat yang sama, Ayline mengamati suaminya yang menyapa sekumpulan pria itu lalu terlibat perbincangan dengan mereka.


Ayline menghela napasnya. Sampai saat ini, Oswald masih sangat sensitif terhadap apa pun. Terlalu sering merasa serba salah, membuat Ayline akhirnya menjadi sering ragu dengan ucapan juga tindakannya di hadapan suaminya. Ia takut jika apa yang ia katakan atau lakukan akan menyinggung Oswald seperti yang baru saja terjadi.


...…...


Tak ingin merusak suasana hatinya sendiri, Ayline memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di dalam pusat perbelanjaan. Berjalan sendiri rupanya cukup tak nyaman, pikir Ayline.


Beberapa orang menatapnya dengan tatapan yang aneh, menurut Ayline. Terurama para kaum pria. Ayline yang sudah terlanjur berjalan cukup jauh dari outlet Pallas Tekstil merasa sayang jika harus kembali. Alhasil tiap kali ada yang memandangnya dengan tatapan yang aneh, ia akan berpaling ke arah yang lain atau sontak menunduk untuk menghindar.


“Apa yang salah, ya?” gumamnya sembari terus melangkah. “Apakah ada sesuatu yang aneh dengan wajahku?”


Tak ingin terus merasa tak nyaman, Ayline akhirnya mencari toilet. Ia harus memastikan tak ada yang aneh pada wajah atau penampilannya.


Tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, Ayline bisa melihat ada papan penanda yang menunjukkan lokasi toilet. Langkahnya pun ia percepat hingga tiba di dalam toilet.


Ayline mematut dirinya di depan cermin. Memutar tubuhnya ke kiri lalu ke kanan. “Tak ada yang aneh,” monolognya.


Setelah yakin, Ayline melangkah keluar dari toilet dengan percaya diri. Namun, secara kebetulan ia bertabrakan dengan seorang pria yang juga keluar dari toilet.


“Maaf, aku yang salah karena tak memperhatikan jalan,” ucap si Pria sembari menunduk untuk memungut ponselnya yang terjatuh.


Kening Ayline mengernyit, suara pria di hadapannya ini sungguh tak asing. “Ta-tak apa-apa,” jawab Ayline.


Sama seperti Ayline, pria itu juga dibuat terkejut mendengar suara Ayline yang terasa sangat familiar. “Ayline?!” pekiknya.


“Ka-kamu ….”

__ADS_1


“Bagaimana bisa kamu ada di sini?”


...——————...


__ADS_2