
“Bicara denganku?”
Syila mengangguk lalu melirik ke kiri dan kanan. Ayline yang melihatnya, lagi-lagi dibuat hampir tertawa dengan tingkah salah satu karyawan di pabrik milik suaminya itu.
“Kamu ingin bicara denganku atau ingin menyebrang sih?” tanya Ayline.
“Bu-Bukan begitu Nyonya, hanya saja … di novel-novel yang kubaca, istri konglomerat biasanya memiliki pengawal yang akan melarang orang sepertiku bicara dengan Nyonya,” jawab Syila disusul dengan tawanya. “Saya hanya waspada saja, Nyonya.“
Tak bisa lagi menahan tawanya, Ayline akhirnya ikut tergelak. Lucu sekali putri dari kepala pelayan di rumahnya, pikir Ayline. Ia kembali bayangkan wajah serius Pak Albert jika sedang berhadapan dengan putrinya ini akan seperti apa.
Ayline pun berjalan lebih dulu. Rencananya ia akan mencari tempat yang tidak terlalu ramai untuk bicara dengan Syila. Namun, baru beberapa langkah, ia terpaksa berhenti sebab merasa Syila tak mengikutinya. Benar saja, wanita itu masih berdiri di tempatnya dengan kepala menunduk.
“Syila!” panggil Ayline. “Kenapa diam di situ? Kamu ingin bicara dengannku kan?”
“Eh … iya, Nyonya.” Syila tampak terkejut dengan panggilan Nyonya pemilik pabrik tempatnya bekerja.
“Ayo!” seru Ayline sekali lagi.
“Eh, benar Nyonya mau bicara denganku?” tanyanya seakan tak percaya.
Ayline hanya mengangguk untuk menjawab sementara Syila terlihat hampir melompat karena kegirangan. Ayline sungguh terheran-heran dengan sikap Syila yang penuh semangat. Sangat berbeda dengan dirinya yang memendam banyak beban pikiran.
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya ayline saat mereka berdua sudah berada di salah satu sudut ruangan.
“Hem … begini, Nyonya.” Ayline bisa melihat keraguan dari sorot mata Syila. “A-Aku … ingin-“ Syila menjeda lagi ucapannya.
Ayline lagi-lagi hampir tertawa melihat tingkah Syila. Ayline jadi berpikir, mungkin akan menyenangkan jika ia memiliki seorang adik seperti Syila. Ia kembali meratapi dirinya yang terlahir sebagai putri tunggal.
“Kamu ingin apa? Katakan cepat, sebelum suamiku mencariku.” Ayline melirik ke arah Oswald yang tampak sangat serius berbincang dengan para petinggi perusahaan cabang yang sengaja datang dari Kota.
“Baiklah, Nyonya. Begini … bolehkah saya minta tolong pada Anda?” pinta Syila dengan ragu.
“Minta tolong?” kening Ayline mengernyit. Apa yang bisa dia lakukan untuk Syila. Padahal mereka baru saja bertemu beberapa jam lalu. Mengapa Syila malah memilihnya untuk dimintai tolong, pikir Ayline.
__ADS_1
“Bisakah Nyonya menolongku, merahasiakan apa yang Nyonya lihat tadi dari Ayah?”
Dari yang tadinya tampak ragu, sekarang Ayline bisa melihat jika Syila tampak memendam ketakutan. “Merahasiakan apa? Memangnya apa yang sudah kulihat tadi?”
Jujur saja, Ayline sempat bingung dengan permintaan Syila. Dia coba mengingat kembali rentetan peristiwa saat keduanya bertemu di taman. Sayangnya, Ayline tak menemukan sesuatu yang penting yang harusnya menjadi rahasia.
“I-itu, Nyonya … tolong jangan katakan pada Ayah jika Nyonya mendapatiku sedang bicara di panggilan video dengan seorang pria,” jelas Syila.
“Hah?!” Ayline tak percaya jika hal itu adalah hal yang diminta Syila untuk dirahasiakan. Memangnya apa yang salah dengan berbicara pada seorang pria? Pikir Ayline. Toh, dari yang dilihatnya tadi Syila hanya mengobrol biasa. Tak ada yang aneh dari pembicaraan mereka sepanjang yang Ayline ingat.
“Apa Pak Albert tak merestui hubunganmu dengan kekasihmu?” Ya, hanya ini alasan paling memungkinkan yang terpikirkan oleh Ayline.
Syila segera menggeleng. “Bu-bukan begitu, Nyonya. Pria itu bukan kekasihku,” jawab Syila.
“Oh, kupikir kamu tak ingin diketahui oleh Pak Albert karena beliau tak merestui,” komentar Ayline.
Syila merasa malu pada Nyonya-nya. Ia sampai menunduk untuk menyembunyikan rona merah pada wajahnya. “Tapi tebakan Nyonya juga tak sepenuhnya salah,” gumam Syila lirih.
“Maksudmu?” Meski lirih, Ayline tetap bisa mendengar gumaman Syila.
“Mengapa?” tanya Ayline penasaran.
Apakah mungkin jika Syila juga sudah memiliki calon suami yang ditentukan oleh Ayahnya? tebak Ayline dalam hati.
“Karena pria itu tak nyata, Nyonya,” jawab Syila membuat Ayline semakin bingung.
Rasa penasaran Ayline bertambah berkali-kali lipat. Baru saja ia ingin meminta penjelasan pada Syila, dehaman seorang pria mengalihkan perhatian keduanya.
“Ekhem!”
“Denis! Ada apa?” tanya Ayline kesal sebab asisten suaminya itu sudah membuatnya terkejut.
“Tuan Oswald mencari Anda. Kita harus segera pergi ke kota, ada jamuan yang harus Tuan dan Nyonya hadiri,” jelas Denis.
__ADS_1
Ayline tak bisa menolak jika Denis sudah membawa-bawa nama suaminya. Apalagi saat ia melihat ke arah suaminya, di sana ia mendapati Oswald yang sedang menatapnya.
“Syila, sepertinya aku harus pergi. Tenanglah, rahasiamu aman padaku,” ucap Ayline sebelum berlalu menemui Oswald. Tak lama setelah itu, bersama rombongan para petinggi perusahaan mereka meninggalkan pabrik menuju ke kota.
...…...
Rupanya jamuan yang dimaksud Denis adalah undangan makan siang dari Walikota Kota Lando. Ayline tetap berusaha menampilkan senyum terbaiknya saat mendorong kursi roda suaminya. Meskipun selama perjalanan Oswald tak hentinya menceramahi Ayline yang ia anggap telah melakukan kesalahan.
Menurut Oswald, Ayline telah melakukan kesalahan karena selama di acara penyambutan tadi istrinya itu tak berada di sisinya. Alih-alih mendampinginya, Oswald kesal karena Ayline malah sibuk mengobrol dengan karyawan yang Oswald pun tak tahu siapa.
Maka dari itu, selama di acara jamuan makan siang di kediaman Walikota, Ayline tak pernah berdiri jauh dari suaminya. Dengan terpaksa dia harus bersandiwara. Berpura-pura menikmati jamuan dan obrolan yang sedang dibicarakan oleh orang-orang yang Ayline bahkan tak ingat siapa-siapa saja mereka.
“Kuharap Tuan dan Nyonya merasa nyaman tinggal di Kota ini,” ucap Pak Walikota.
Ayline ikut mengangguk mengikuti gerakan Oswald. Sungguh ini adalah hal paling buruh yang ia alami hari ini. Mengapa aku merasa sepi di tengah keramaian ini? keluh Ayline dalam hati.
Hingga kehadiran Dokter Siska semakin memperburuk keadaan. “Tuan Oswald, aku sangat senang kita bertemu lagi di sini,” ucap Dokter Siska penuh semangat saat menyapa Oswald. Sedangkan pada Ayline, jangankan menyapa, melirik saja tidak.
Apa-apaan Dokter Siska?! Aku yakin dia melakukannya dengan sengaja! gerutu Ayline dalam hati.
Obrolan pun terus berlanjut. Terkadang perbincangan mulai membahas hal serius, kadang pula hanya perbincangan random yang menuai tawa. Namun, entah mengapa Ayline tetap merasa tak nyaman berada di tengah-tengah orang-orang itu.
Oswald yang duduk di kursi rodanya tepat di sisi Ayline pun tak menyadari jika istrinya merasa tak nyaman. Bagaimana dia akan sadar, jika sejak tadi melirik pada istrinya saja tidak dilakukan Oswald. Dia seakan tenggelam dengan perbincangan yang terjadi.
Hati Ayline semakin tak nyaman saat Dokter Siska dengan berani memuji Oswald di hadapan semua orang. “Aku sangat kagum pada Tuan Oswald. Bahkan sebelum aku bertemu dengannya secara langsung, dari cerita orang-orang saja dia sudah sangat luar biasa,” ucap Dokter Siska tanpa canggung.
Tangan Dokter Siska pun tanpa ragu mengusap lembut lengan Oswlad. “Apalagi setelah bertemu langsung, aku semakin mengaguminya. Aku sangat senang bisa terpilih menjadi dokter pribadi Beliau,” ucap Dokter Siska tanpa tahu malu.
Ayline berusaha sekuat tenaga meredam amarahnya. Ia tak mungkin meledak-ledak dan berakhir mempermalukan dirinya sendiri dan suaminya.
Jika tahu akan seperti ini, lebih baik aku tinggal saja di pabrik dan lanjut mengobrol dengan Syila, batin Ayline.
Mengingat Syila, Ayline jadi ingat ucapan wanita itu sebelum pembicaraan mereka berakhir.
__ADS_1
Pria itu tidak nyata? Tapi, aku bahkan bisa mendengar jelas suara pria itu di telepon. Bahkan, aku sempat melihat wajah pria itu dari layar ponsel Syila. Lantas, mengapa Syila katakan jika pria itu tak nyata?
...———————...