
Rasanya Ayline ingin menjerit dalam hati. Masih pagi namun kesabarannya sudah kembali diuji.
“Ya Tuhan, kuatkan aku. Tolong beri aku kesabaran,” gumam Ayline lirih saat dari jauh ia melihat sosok seorang wanita yang tak pernah ia harapkan kehadirannya di rumah megahnya.
“Kenapa berhenti?” tanya Oswald saat Ayline tak kunjung mendorong kursi rodanya.
Ayline tak mendengar Oswald. Dia masih sibuk dengan lamunannya. Dia sempat berpikir, apakah mungkin jika dirinya dan Oswald bisa berbalik saja? Sarapan di kamar mungkin lebih baik. Tapi, sepertinya keinginannya sudah terlambat. Dokter Siska yang menyadari keberadaan sepasang suami istri itu sudah berdiri untuk menyambut Tuan dan Nyonya rumah.
“Ay!” tegur Oswald saat Ayline masih tetap bergeming. Istrinya itu bahkan tak menjawab pertanyaannya.
“Eh, kenapa?” tanya Ayline.
“Kamu yang kenapa? Kenapa berhenti?” tanya Oswald balik pada Ayline.
Ayline menggeleng, lalu tanpa menjawab pertanyaan Oswald ia kembali melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
“Selamat Pagi, Tuan Oswald,” sapa Dokter Siska ramah dengan senyum manisnya.
Oswald hanya mengangguk menjawab sapaan Dokter Siska.
“Wah, apa kami mendapat kejutan di pagi hari?” tanya Ayline sarkas pada Dokter Siska.
“Selamat pagi, Nyonya Ayline.” Jelas sekali jika dia terpaksa menyapa Ayline.
“Kejutan? Sepertinya aku yang mendapat kejutan di pagi hari dari Tuan Oswald,” ucapnya memaksakan tawanya.
Sementara Ayline segera menoleh pada suaminya. Tatapannya tajam, meminta penjelasan mengenai apa yang baru saja di ucapkan Dokter Siska.
“Benarkah?” tanya Ayline seraya mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping kursi roda Oswlad.
“Panggilan telepon Tuan Oswald di pagi hari, bagai sebuah kejutan untukku,” jawab Dokter Siska dengan tatapan hangat pada Oswald.
Jawaban Dokter Siska membuat sesuatu bergemuruh dalam hati Ayline. Dokter pribadi suaminya ini, benar-benar memancing emosinya. Ayline berusaha kerasa meredam amarahnya.
Jangan terpancing Ayline, jangan permalukan dirimu sendiri. Mantra yang terus terucap dalam hati Ayline.
Oswald yang tak ingin harinya diawali dengan buruk, segera menengahi dengan memberi penjelasan pada istrinya. “Hari ini aku akan ke pabrik lebih awal. Makanya aku meminta Dokter Siska untuk datang lebih awal,” jelasnya.
Dokter Siska yang tak ingin usahanya membuat Ayline kesal sia-sia, segera menyela. “Dan itu membuatku sangat tersanjung. Anda menghubungiku langsung dan mengajak sarapan bersama,” ucapnya.
__ADS_1
Di bawah meja, Ayline mengepalkan kedua tangannya di atas paha agar tak terlihat oleh Oswald dan Dokter Siska. “Anda pantas untuk tersanjung, Dokter. Suamiku biasanya mengutus asistennya untuk hal-hal kecil seperti itu,” balas Ayline.
Dokter Siska hanya tersenyum canggung. Kurang ajar! Dia sengaja meremehkanku, geram Dokter Siska dalam hati.
Meski suasana hatinya menjadi buruk karena ulah suaminya, Ayline tetap melayani Oswald dengan baik. Dengan telaten dia menyiapkan sarapan di piring Oswald. Tak lupa pula ia memastikan Oswald menghabiskan minuman herbal serta meminum obat-obatan yang telah diresepkan oleh dokter.
...…...
Setelah sarapan, Oswald memulai sesi terapinya. Ayline pun dengan sabar menemani Oswald pada sesi terapi pagi ini. Ayline akui, Dokter Siska memang terlihat sangat kompeten saat melakukan tugasnya. Terapi yang ia lakukan hari ini adalah terapi manual dengan tujuan agar otot akan menjadi lebih rileks dan mengurangi pembengkakan pada beberapa bagian.
Awalnya semua biasa saja, Ayline memilih membaca buku sembari menunggu Oswald menyelesaikan sesi terapinya. Namun, pembicaraan antara Dokter Siska dan suaminya yang awalnya hanya seputar terapi lama kelamaan menjurus ke arah yang lebih pribadi.
Semuanya berawal ketika Dokter Siska bertanya apakah ini pertama kalinya Oswald mengunjungi Kota Lando. ”Dulu, saat remaja aku pernah datang ke Kota bersama Mommy dan Daddy,” jawab Oswald yang dapat di dengar Ayline.
Ayline tak lagi fokus dengan bacaannya. Walau wajah dan pandangannya tertuju pada buku yang tadinya ia baca, namun fokusnya tertuju pada apa yang Dokter Siska dan Oswald bicarakan.
Keduanya tampak asyik membicarakan mengenai restoran yang menyajikan makanan-makanan khas Kota Lando. Dokter Siska begitu bersemangat bercerita mengenai tempat-tempat wisata di Kota Lando yang katanya wajib Oswald kunjungi.
“Lihatlah, Tuan,” ucap Dokter Siska seraya menunjukkan sesuatu di ponselnya.
“Bagus kan?” tanyanya meminta pendapat Oswald. “Pemandangannya masih sangat asri dan indah. Anda tak akan bisa menemukan pemandangan seperti ini di tempat lain,” ucap Dokter Siska bersemangat.
“Kamu benar. Kapan-kapan aku harus ke sana. Kamu juga bisa ikut, kamu bisa jadi pemandu tur kami,” ucap Oswald disusul tawanya.
Brak! Ayline meletakkan buku dengan kasar ke atas meja. Ia tak tahan lagi melihat tingkah keduanya. Ayline merasa marah karena keberadaannya seperti tak dianggap.
“Aku akan ke kamar dan bersiap. Aku ingin ikut denganmu ke pabrik!” ucap Ayline sembari berlalu keluar ruangan. Rasanya ia tak sanggup melihat kedekatan suaminya dan Dokter genit itu.
...…...
Berada di pabrik, rasanya Ayline akhirnya bisa bernapas lega. Setelah kejadian saat terapi pagi tadi, Ayline berusaha bersikap tak acuh pada Oswald. Ia tak bicara banyak kecuali saat Oswald lebih dulu memulai pembicaraan dengannya.
“Aku ingin berkeliling pabrik,” ucap Ayline.
“Baiklah. Tapi jangan terlalu jauh, aku takut kau akan tersesat,” peringat Oswald.
“Aku bukan anak kecil. Aku tahu ke mana aku pergi,” jawab Ayline lalu pergi dari ruangan Oswald.
Tujuannya kini adalah mencari Syila. Tak sulit untuk menemukan wanita itu, saat Ayline mengatakan jika ia mencari anak dari Pak Albert maka karyawan yang ia tanyai itu segera mengantar Ayline ke ruangan Syila.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Ayline. Ia pikir, walaupun Syila bekerja di pabrik, mungkin wanita itu bekerja di bagian staff admin rupanya tidak. Syila adalah salah satu dari ratusan buruh yang bekerja di bagian pengepakan barang.
“Syila,” panggil Ayline.
“Nyonya?!” Syila cukup terkejut dengan kehadiran Ayline.
“Kemari!” suruh Ayline. “Aku ingin bicara berdua denganmu,” imbuhnya.
Semua orang tahu siapa Ayline, maka tak ada yang berani melarang saat ia memanggil Syila di jam kerja.
“Ada apa Nyonya?” tanya Syila dengan hormat.
“Syila, sebelumnya aku minta maaf. Bukannya ingin ikut campur urusanmu, tapi aku sungguh penasaran.”
Kedua kening Syila mengerut, ia tak bisa menebak apa yang sebenarnya diinginkan Ayline. “Penasaran? Apa yang membuat Anda penasaran, Nyonya?”
“I-itu … soal kekasihmu,” ucap Ayline ragu.
“Kekasihku? Aku tak punya kekasih, Nyonya.”
Ayline tertawa. “Benar juga, ya. Maksudku, pria yang bicara denganmu di panggilan video kemarin. Teman dekatmu itu loh,” jelas Ayline.
“Oh … Bagus!” seru Syila.
“Bagus? Apanya yang bagus?” tanya Ayline.
“Bagus, pria itu. Nama pria itu Bagus, Nyonya,” jelas Syila membuat Ayline semakin tertawa karena ia sempat tak mengerti.
“Ada apa dengan Bagus, Nyonya?” tanya Syila.
“Katamu, dia tak nyata. Tapi, kamu bahkan bicara dengannya di telepon. Kamu juga tahu namanya. Mengapa kamu katakan dia tak nyata?”
Kini gantian Syila yang tertawa. Ia tak menyangka jika ucapan asalnya berhasil mengusik pikiran Nyonya-nya.
“Itu karena aku tak pernah bertemu dengannya,” jawab Syila.
Ayline semakin bingung. “Syila, maaf ya. Sepertinya aku semakin ingin tahu. Bisa kamu jelaskan padaku?”
...————————...
__ADS_1