Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 21 - Ide Gila


__ADS_3

“Mas, kumohon jangan!” pinta Ayline. Walaupun Oswald belum menjelaskan apa maksud ucapannya, entah mengapa Ayline merasa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.


Ayline memalingkan wajahnya saat Oswald semakin mempererat genggaman tangannya. “Kamu percaya padaku kan?” Tanya Oswald yang tak mendapat jawaban dari Ayline.


“Ayline, Sayang, kamu harus percaya padaku seperti aku percaya padamu. Aku percaya jika hanya kamu yang mampu menyelamatkan pernikahan kita,” lanjut Owald.


Ayline akhirnya kembali menatap suaminya. Lama Ayline menatap kedua netra Oswald. Apakah ia bisa merasakan kejujuran suaminya dari sorot mata pria itu? Mengapa yang ia bisa ia lihat hanya keputus asaan yang terpancar dari sorot mata Oswald.


“Tapi apa yang bisa aku lakukan, Mas?” tanya Ayline. “Kamu percaya padaku, di saat aku sendiri tak tahu apa yang bisa kulakukan.”


“Mengapa hanya aku, Mas? Mengapa bukan kita berdua? Ini pernikahan kita, Mas. Bukan hanya pernikahan aku,” jelas Ayline.


Ia berharap semoga Oswald dapat mengerti maksudnya. Apa pun yang direncanakan Oswald, Aylie tak akan setuju seandainya hanya dia yang harus melakukannya.


“Dengarkan aku dulu, Ayline. Ini hal yang mudah kok,” pinta Oswald.


Ayline mengangguk. Ia perbaiki posisi duduknya hingga kini keduanya benar-benar berhadapan. “Katakan!”


Oswald mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran. Syukurlah mereka datang di saat jam makan siang sudah lewat hingga sudah banyak pengunjung yang pulang.


“Sejujurnya, aku pun tak menginginkan hal ini. Namun, aku tak ada waktu lagi. Mommy dan Daddy tak berhenti menekanku. Posisiku di perusahaan terancam, Ayline,” ucap Oswald.


“Aku ingin kamu menjalin hubungan dengan seseorang,” lanjutnya dengan ragu.


“Me-menjalin hubungan? Seseorang siapa dan hubungan seperti apa?”


Ayline tak bisa menahan keterkejutannya. Intonasi suaranya pun mulai meninggi saat mencecar suaminya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Oswald sudah menduga jika istrinya pasti akan sangat terkejut dengan ide gilanya ini. Ia cukup dibuat panik dengan respon Ayline yang memekik hingga menarik perhatian beberapa orang di restoran.


“Pelankan suaramu, Ayline!”


“Aku tahu ini ide yang sangat gila, tapi kamu tak mau kan jika hal gila ini sampai ketahuan orang lain?!” Peringat Oswald.


“Dengarkan aku baik-baik. Semuanya akan mudah asalkan kamu mau mengikuti ucapanku.”

__ADS_1


Ayline tak henti menarik dan mengembuskan napasnya untuk menormalkan pernapasannya. Dadanya terasa sesak, sedikit banyak Ayline sudah mulai paham dengan maksud dan keinginan suaminya.


“Kita harus memiliki anak. Aku ingin kamu hamil, Ayline. Maka dari itu aku memberimu kebebasan untuk menjalin hubungan dengan pria lain,” ucap Oswald.


Ayline semakin terkejut dengan ucapan suaminya barusan. Ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tak berteriak. Air matanya luruh bersamaan dengan hatinya yang sakit bagai ditusuk belati.


Ayline mengusap air mata yang membasahi pipinya. “Kamu ingin aku hamil anak dari pria lain? Kamu menyuruhku menikah lagi?” Tanya Ayline dengan suara yang bergetar menahan tangisnya.


Oswald menggeleng. “Aku membebaskanmu berhubungan dengan pria lain, tapi bukan berarti aku mengizinkanmu menikah lagi!”


“Mau ditaruh di mana wajahku sandainya itu terjadi!” Ada kekesalan dari nada bicara Oswald. “Kau cukup berhubungan saja dengan pria itu. Setelah kamu hamil, keadaan akan kembali sepeti semula.”


Ayline menggeleng. Ia menatap tajam pada suaminya. “Itu sama saja kamu menyuruhku berzin*, Mas!”


“Aku tak mau!” Tolak Ayline dengan tegas.


Ayline berdiri tanpa peduli dengan tatapan mengancam dari suaminya. “Ceraikan saja aku!”


“Kamu kan yang selalu minta aku pergi?! Aku selalu menolak dan bertahan, karena aku masih berharap suatu saat nanti kita akan hidup bahagia bersaama keluarga kita. Aku tak pernah menyangka jika kamu akan memintaku melakukan hal sehina itu!”


Baru beberapa langkah namun Ayline segera berhenti saat samar-samar mendengar tawa suaminya. Ayline menoleh, keningnya mengernyit saat tahu jika pendengarannya tak salah.


Pria itu memberi kode pada Denis untuk memberikan sebuah amplop putih pada Ayline. “Apa ini?” Tanya Ayline.


“Buka saja, kamu akan mengerti setelah melihat apa isi dokumen-dokumen itu,” suruh Oswald.


Dengan tangan yang gemetar, Ayline mengeluarkan lembaran-lembaran kertas itu dan mulai membacanya. Ini seperti laporan keuangan, batin Ayline.


Melihat istrinya yang masih fokus membaca lembaran demi lembaran kertas di tanganya, Oswald mulai tak sabar. “Kamu wanita cerdas istriku,” ucapnya.


“Kamu pasti paham kan jika angka-angka itu menunjukkan laporan keuangan perusahaan,” lanjutnya.


Benar dugaan Oswald, Ayline mengangguk sebagai tanda bahwa apa diucapkan suaminya benar. “Tentunya kamu juga tahu kan Sayang, apa maksud dari laporan itu,” lanjutnya.


Kali ini Ayline bergeming. “Aku ingin tahu pendapatmu, wahai istriku. Menurutmu kenapa laporan keuangan kita terlihat aneh. Ada sejumlah uang yang tak jelas penggunaannya.”

__ADS_1


“Duduklah kembali, Sayang. Aku yakin kamu ingin tahu kemana uang-uang itu kan?!”


Denis mendekat pada Ayline. “Silakan, Nyonya. Sebaiknya ada mengikuti ucapan suami Anda,” ucap Denis. Terpaksa Ayline kembali duduk di tempatnya semula.


“Kamu pasti akan terkejut saat tahu siapa pemilik rekening yang menerima semua dana itu,” ucap Oswald.


Ayline akhirnya mulai membaca lembaran terakhir. Kedua netranya terbelalak saat melihat bagaimana aliran dana itu bisa berakhir ke rekening yang nama pemiliknya saat ia kenali.


“I-I-Ibu?!” Gumam Ayline.


Oswald bertepuk tangan. “Ya, Istriku sayang. Kamu memang wanita yang cerdas.”


“Rupanya Tuan Damian, orang yang sangat dipercaya oleh Daddy telah berani menggelapkan dana perusahaan,” ucap Oswald.


“Tapi sepertinya keberuntungan berpihak padanya, karena telah menjadi Ayah mertuaku. Sudah kewajibanku untuk melindugi Ayah mertuaku kan, Sayang?”


Ayline berdecak. Tangannya meremas kertas yang ada dalam genggamannya. “Kamu mengancamku, Mas?”


Oswald tergelak. Ia belai dengan lembut pipi istrinya yang memerah karena menahan amarah. “Aku tak mengancammu, Istriku.”


“Aku hanya ingin kamu tahu, jika kita bisa sama-sama saling membantu. Bantu aku untuk menutupi aibku. Maka akan kubantu kamu menutupi kesalahan keluargamu.”


“Kita berada di posisi yang sama, Ayline. Aku akan hancur. Semua yang kuperjuangkan saat ini akan sia-sia. Begitu juga dengan dirimu, semua yang dimiiki oleh keluargamu akan hancur saat aku mengungkap kebusukan Ayahmu selama ini.” Oswald dengan tegas mengancam Ayline.


Ayline membisu. Terpaksa ia mengurungkan niatnya untuk pergi. Cukup dirinya yang hancur, Ayline tak akan mungkin membiarkan Ayah dan Ibunya juga turut merasakan penderitaan.


Diamnya Ayline diartikan Oswald sebagai persetujuan wanita itu. “Bagus, Sayang. Keputusanmu sudah tepat. Walau awalnya akan sulit, percayalah jika akhirnya nanti kita akan bahagia bersama. Aku berjanji padamu.”


Oswald kembali menggenggam tangan Ayline. “Sayang, dengarkan aku baik-baik!”


“Demi kenyamananmu, aku membebaskanmu memilih sendiri siapa pria itu. Tapi ingatlah satu hal, aku berharap pria yang kamu pilih itu bukanlah pria yang kukenal atau berada di sekitar kita.”


“Setelah hamil, kamu harus berhenti berhubungan dengan pria itu. Sebagai gantinya, aku berjanji akan menerima anak yang kamu kandung nanti. Aku akan berusaha menyayangi anak itu bagai anakku sendiri. Anakmu itu akan mendapatkan hak sebagai penerus keluarga Pallas,” jelas Oswald.


“Jadi, ingatlah satu hal. Jangan biarkan pria itu tahu mengenai kehamilanmu nanti. Dia tak boleh tahu jika anak yang kamu lahirkan itu adalah anaknya. Demi kebaikan anak itu,” peringat Oswald.

__ADS_1


“Kamu paham kan, Sayang?”


...——————————...


__ADS_2