Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 42 - Kabur


__ADS_3

“Alin!”


Alin?! gumam Ayline dalam hati. Selain Syila tak ada orang lain lagi yang tahu nama Alin, selain ….


“Alan?!” pekik Ayline.


Sadar jika baru saja ia memekik dan menarik perhatian beberapa orang, Ayline sontak menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Ka-kamu sedang apa di sini?” tanyanya.


Kening Andra mengernyit. “Kebetulan lagi?!” tanyanya.


Andra menahan tawanya, sungguh ia tak menyangka jika hari ini pun akan kembali bertemu bersama wanita itu. Apalagi pertemuan mereka lagi-lagi karena kebetulan.


Ayline mengedikkan bahunya. Ia merasa tidak mengikuti pria itu, apa lagi sengaja merencanakan pertemuan mereka. Tapi, karena lagi-lagi mereka bertemu secara kebetulan, tak salah bukan jika ia sedikit mencurigai pria bernama Alan itu.


Kota ini kan memang tempat tinggal Alan, dia pasti punya banyak koneksi di tempat ini, batin Ayline.


Melihat Andra seperti sedang menahan tawanya, Ayline bisa menebak apa yang dipikirkan pria itu. “Kenapa senyum-senyum?! Jangan bilang kamu curiga aku ikutin kamu lagi!” gerutu Ayline.


“Eh, siapa yang bilang,” elak Andra. “Kamu itu lucu, ya. Orang senyum kok di larang,” lanjutnya.


Kini tak hanya tersenyum, Andra malah tertawa karena wajah menggemaskan milik Ayline. “Terus kamu ngapain di sini? Kamu tuh ya, kok bisa gitu ada di mana-mana?!”


Ayline mendengus sebal diikuti bibirnya yang mencebik. Melihat itu, tawa Andra semakin nyaring terdengar. Beberapa orang di sekitar mereka menoleh sebab penasaran pada hal lucu apa yang membuat pria yang berdiri di depan pintu itu tergelak.


“Andra!”


Mendengar suara yang tak asing bagi keduanya, baik Ayline maupun Andra membelalak. Suara itu adalah suara Kevin. Ayline tentunya tak ingin bertemu Kevin, apalagi jika Kevin sampai tahu jika dia bersama seorang pria. Penilaian Kevin akan semakin buruk padanya.


Sedangkan bagi Andra, yang membuatnya terkejut adalah Kevin, sahabatnya itu memanggilnya dengan menyebut nama aslinya. Ia tak ingin Alin berpikir jika ia memiliki niat buruk dengan menggunakan nama samaran.


Andra berniat mengajak Ayline pergi dari sana, namun pria itu masih kalah cepat dengan Ayline. Merasakan suara Kevin yang semakin mendekat, sontak Ayline menarik tangan Andra untuk bergegas meninggalkan tempat itu.


Panik … Ayline panik. Entah apa pertimbangannya hingga wanita itu menarik tangan Andra hingga mereka tiba di parkiran. “Mobil kamu yang mana?” tanya Ayline.


Kening Andra mengernyit, bingung dengan pertanyaan dan apa yang dilakukan Ayline. Namun, bagai sebuah robot ia tetap mengikuti ucapan wanita itu.


Andra merogoh saku celananya, mengeluarkan remot kunci mobil miliknya. Suatu kebetulan lagi, mobil miliknya terparkir tak jauh dari tempat Andra dan Ayline berdiri saat ini.

__ADS_1


“Yang itu.” Andra menunjuk ke arah mobil miliknya. Bukan mobil mewah atau mobil sport keluaran terbaru yang limitid edition. Mobil milik guru tampan itu lebih terkenal dengan sebutan mobil sejuta umat.


“Ayo!” Ajak Ayline seraya berjalan lebih dulu menuju mobil milik Andra.


“Ayo? Ke mana?”


“Sepertinya aku akan pulang besok. Kuminta pada kamu untuk mengajakku jalan-jalan hari ini,” ucap Ayline.


Walau tak yakin pria di hadapannya akan setuju, namun Ayline mencoba percaya diri saja. Dari pada harus bertemu Kevin lagi, pikirnya.


“Tapi, aku ke sini karena ingin menghadiri seminar tadi. Ketua panitia acara itu adalah sahabatku. Dia mengundangku dan a-“ Andra menggantungkan ucapannya saat melihat wajah memohon Ayline.


“Baiklah, baiklah!” seru Andra. Pria itu membuka pintu mobil dan mempersilakan Ayline masuk dengan sopan.


Setelah menyusul Ayline masuk ke dalam mobil, Andra menyalakan mesin mobil lalu terlihat menghubungi seseorang. Ayline pun melakukan hal yang sama, mengetikkan pesan pada ponselnya untuk mengabari sang Ibu jika ia akan pulang ke hotel karena merasa kurang sehat.


Maafkan aku, Ibu. Aku telah berbohong, batin Ayline.


“Bro, aku sepertinya tidak bisa ikut acara seminar hari ini,” ucap Andra di telepon.


“Ya, benar. Aku memang sempat ke sana tadi, tapi ada panggilan mendadak. Aku harus segera pergi.”


“Wanita apaan?!” ucap Andra lirih pada sambungan telepon. Sesekali ia melirik ke arah Ayline yang menatap ke luar melalui jendela mobil.


“Enggak ada wanita-wanitaan. Kamu salah lihat!” elak Andra sekali lagi sebelum ia memutuskan sambungan teleponnya sepihak.


Setelah selesai menelepon, Andra mulai melajukan mobilnya. Sungguh dia belum memiliki ide ingin membawa Ayline ke mana.


Mobil sudah melaju beberapa menit, namun belum ada percakapan antara Ayline dan Andra. Suasana hening membuat situasi canggung timbul di antara keduanya.


“Alin, kamu sukanya apa?” tanya Andra gamang.


“Suka? Suka apa?”


“Maksud aku, kamu sukanya tempat yang seperti apa. Jujur, aku masih bingung ingin mengajakmu ke mana,” jelas Andra.


Ayline diam, wajahnya pun tampak berpikir keras. Sejak dulu, dia hanya menghabiskan waktunya dengan belajar dan belajar.

__ADS_1


Jika menjawab perpustakaan atau toko buku, apa mungkin Alan akan berpikir jika aku sok pintar? batin Ayline.


“Aku baru pertama kali ke kota ini. Kamu bisa mengajakku ke tempat yang kamu sukai,” jawab Ayline mencoba cara aman.


Sembari terus melajukan mobilnya, Andra terpikirkan satu tempat yang dulu sangat suka ia datangi. Entah tempat itu masih ramai, Andra pun tak yakin.


“Baiklah, ada satu tempat yang terpikir olehku. Jujur saja, sudah lama aku tak ke sana,” ucap Andra.


Mobil pun terus melaju dengan perbincangan yang hanya terjadi sekali-kali. Hanya ketika Andra menunjukkan bagian kota yang ikonik, atau ketika Ayline bertanya sesuatu mengenai apa yang dilihatnya sepanjang jalan.


Hingga mobil milik Andra berhenti di area parkir sebuah objek wisata hutan mangrove. Di area parkir hanya ada sekitar tiga mobil dan empat sepeda motor yang terparkir. Hal itu bisa menjelaskan jika tempat itu sepi pengunjung.


“Ayo!” ajak Andra.


Ayline cukup terkejut sebab Andra sudah membuka pintu mobil untuknya. Kapan pria itu keluar dari mobil, Ayline bahkan tak menyadarinya sebab fokus memerhatikan daerah sekitar objek wisata itu.


Saat berjalan masuk ke area objek wisata itu, Ayline kembali mengamati ke sekitar. Dari area parkir hingga ke gerbang masuk yang terbuat dari kayu dan dicat warna warni, kondisi tempat itu cukup bersih dan terawat.


Ayline terus mengikuti ke mana Andra melangkah. Bahkan saat pria itu membeli tiket untuk masuk ke area objek wisata, Ayline tetap mengikuti di belakangnya.


“Ada apa?” tanya Andra saat menyadari jika sejak tadi Ayline terus mengamati sekitarnya.


“Apa kamu tak suka tempat ini?” tanyanya lagi.


Ayline menggeleng. “Kita bahkan belum masuk, bagaimana aku bisa menentukan suka atau tidak,” jawab Ayline.


“Lalu, mengapa kamu terlihat tak nyaman?” tanya Andra lagi.


“Hem, apa kamu yakin tempat ini masih beroperasi? Katamu kamu sudah lama tidak ke sini. Lihatlah, di sini sangat sepi,” jelas Ayline.


Andra tergelak. Ia menganggap lucu wajah Ayline yang tampak cemas. “Kamu takut? Masih siang gini, kok kamu takut sih!” Ledeknya.


Ayline mencebik. Ia memang takut, tapi bukan takut seperti yang dipikirkan Andra. “Memangnya ada larangan takut di siang hari?!”


“Jangan takut. Ada aku,” ucap Andra berbisik.


Tubuh Ayline membeku sesaat. Bukan karena Andra berbisik padanya atau karena embusan napas pria itu terasa di pipinya. Tapi karena kedua tangannya kini digenggam oleh pria itu.

__ADS_1


Dag … Dig … Dug … Jantungku, kamu kenapa? Semoga Alan tak mendengarnya, batin Ayline.


...——————————...


__ADS_2