Kunodai Pernikahanku

Kunodai Pernikahanku
KP 7 - Menerima Kenyataan


__ADS_3

“Mas! Apa-apaan kamu ini?!”


Ayline memekik bingung. Menurutnya, yang paling berhak marah di sini adalah dirinya. Bukan marah karena Oswald, suaminya sendiri baru saja mengusirnya. Tapi marah sebab pada kenyataannya dia lah orang yang paling tidak tahu apa-apa di ruangan itu.


Tidak tahu tepatnya kapan suaminya mengalamai kecelakaan, tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tidak tahu kondisi suaminya saat ini, bahkan tidak tahu alasan mengapa dirinya menjadi seseorang yang bersalah di sini.


Tidak adil, itulah yang terpikirkan oleh Ayline. “Apa kamu marah dan mengusirku karena aku datang terlambat?” Setelah bertanya seperti itu, Ayline menolehkan wajahnya pada Denis. Ia menatap tajam asisten pria itu yang berdiri tak jauh dari kedua mertuanya dan seorang yang Ayline kira adalah dokter.


Jika benar karena itu aku diusir, maka kau harus bertanggung jawab. Bukan kau, tapi kalian! Pembelaan Ayline dalam hatinya. Menurutnya, bukan salahnya dia datang terlambat, dia saja baru diberitahu pagi ini. Karena itu juga Ayline berpikir seharusnya dia yang seharusnya marah di sini, bukan dia yang dimarahi bahkan diusir seperti ini.


Oswald menggeleng lalu menatap Ayline. “Aku bahkan tak berharap kamu datang, Ayline,” ucapnya datar.


Mendengar itu air mata Ayline tumpah sudah. Suaminya baru saja sukses menancapkan belati pada hatinya. Oswald yang kecelakaan namun rasanya kenapa Ayline yang merasa sulit untuk bernapas. Suami yang beberapa hari lalu masih sangat baik padanya, berubah seketika hanya karena sebuah kecelakaan. Suaminya tak mengharapkannya lagi, apakah ada hal menyedihkan lain selain itu? Pikir Ayline.


“Ta-tapi kenapa, Mas? Aku salah apa?” tanya Ayline meminta penjelasan di sela isak tangisnya.


“Sudah kukatakan semua demi kebaikanmu. Pergilah, tinggalkan aku. Jangan buang percuma waktumu bersama pria cacat sepertiku,” ucap Oswald.


Kedua netra sepasang suami istri itu saling pandang. Mungkin orang lain tak melihatnya, tapi Ayline bisa melihat jika ada genangan air mata di kedua netra suaminya.


“Ca-cat?” Ulang Ayline dengan lirih. Sementara Oswald mengangguk lemah. Sorot matanya menatap ke bawah, tertuju pada dua kakinya yang dililit perban.


“Apa maksudnya, Mas? Apa yang telah terjadi? Aku berhak tahu, Mas. Aku masih istri sahmu, kamu harus menjelaskan semuanya padaku,” desak Ayline.


“Maaf Nyonya, bisakah kita bicara di luar?” Sela si dokter yang sejak tadi ikut menjadi penonton.


Ayline menggeleng, “Tidak, jika ingin bicara katakan di sini.”


“Ta-tapi, Nyonya-“ sang Dokter akhirnya mengalah saat melihat Oswald yang memberikan kode dengan anggukan kepala.


“Baiklah, Nyonya. Maaf … karena kecelakaan yang menimpa beliau, Tuan Oswald mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Tapi tenanglah, walau kecil namun kemungkinan agar Tuan Oswald bisa berjalan kembali itu ada,” jelasnya.

__ADS_1


Ayline mengangguk setelah mengerti dengan penjelasan dokter. Anehnya, entah mengapa ia merasa lebih tenang. Rasa sakit di hatinya bukan karena suami sempurnanya kini terancam menjadi pria cacat. Tetapi, rasa sakit hatinya lebih karena ia merasa suaminya meremehkannya. Apa sepicik itu Mas Oswald menilaiku?


Berbeda dengan Mommy Raya yang kembali menangis dalam sekapan Daddy Jay. Ayline malah tampak mengusap air mata yang tadi membasahi kedua netra bening miliknya.


“Karena alasan itu kamu memintaku pergi, Mas?” tanya Ayline.


“Semua demi kebaikanmu. Kamu masih muda, jangan bertahan bersama pria cacat sepertiku,” jawab Oswald datar.


“Rupanya aku sepicik itu di matamu, Mas. Aku sangat kecewa padamu, Mas.”


“Ayline, apa-apaan kamu! Mengapa kamu malah menyalahkan suamimu yang sedang terbaring lemah begitu?!” Mommy Raya menegur Ayline.


“Mommy … seharusnya Mommy juga menegur Mas Oswald. Apa Mommy tak mendengar tadi, Mas Oswald mengusirku hanya karena sekarang kakinya lumpuh,” bantah Ayline.


“Itu demi kebaikanmu, Ayline. Kamu masih bisa mendapatkan yang lebih baik dari pada pria cacat sepertiku,” sela Oswald.


“Aku tak peduli!” pekik Ayline. “Berhenti mengatakan itu, Mas! Aku tidak sepicik itu.”


“Aku tak akan pergi. Aku tak akan meninggalkanmu!”


“Tapi-“


Oswald masih ingin membantah ucapan Ayline, namun bibirnya segera dibungkam oleh bibir Ayline. Wanita itu memeluk tubuh Oswald yang terbaring di ranjang pasien setelah melepaskan tautan bibir mereka.


Ayline membaringkan kepalanya di dada bidang suaminya. “Aku akan tetap setia mendampingimu, Mas. Bagaimanapun keadaannya, aku tak akan pergi meninggalkanmu. Jangan lagi menyuruhku pergi, Mas,” pinta Ayline.


Air mata Oswald luruh sudah. Perlahan, satu tangannya mengusap lembut kepala istrinya lalu membalas dekapan snag istri. Pemandangan itu menimbulkan perasaan haru yang luar biasa dalam hati setiap orang di ruangan itu yang menjadi penonton.


“Baiklah, baiklah. Terima kasih, Sayang.”


...…...

__ADS_1


Seminggu telah berlalu, kondisi kesehatan Oswald sudah jauh lebih baik. Semua itu tak lepas dari peran serta Ayline yang merawat suaminya dengan sangat baik dan penuh kesabaran. Pria itu tampak sehat dan bersinar seperti biasanya, terlepas dari emosinya yang masih belum stabil karena masih belum bisa menerima kenyataan jika kakinya sekarang lumpuh.


Setelah menjalani perawatan terbaik di rumah sakit hari ini Oswald akan kembali ke rumah. Ke istana yang ia buatkan khusus untuk istrinya.


Ayline dengan wajah sumringah membantu suaminya bersiap. Dengan telaten ia membantu Oswald berpakaian. Meski awal-awalnya ia merasa kesulitan namun sedikit banyak ia mulai terbiasa.


“Mengapa kamu sesenang itu?” tanya Oswald.


“Tentu saja aku senang. Hari ini kan kita akhirnya bisa kembali ke rumah,” jawab Ayline. Tangannya dengan lincah memasang satu per satu kancing kemeja suaminya. Tak lupa ia akhiri dengan satu kecupan di bibir suaminya. Kecupan yang tak pernah berbalas oleh suaminya.


“Tak ada yang berubah walau kita kembali ke rumah. Aku masih tetap tidak bisa berjalan dan hanya akan duduk tak berdaya di kursi roda si*lan itu!”


“Ck.” Ayline berdecak lalu menggeleng. “Kamu salah, Mas.”


Kening Oswald mengenyit saat melihat Ayline sangat percaya diri membantah ucapannya.


“Di rumah, kita bisa melakukan banyak hal yang tak bisa kita lakukan di ruangan ini,” ucap Ayline sembari mengerlingkan satu matanya menggoda suaminya.


Meski begitu tampak berani dan percaya diri saat ia menggoda suaminya, namun sebenarnya dalam hati wanita itu merasa sangat malu. Ayline bahkan sengaja berpura-pura sibuk mencari sesuatu dalam laci nakas di samping ranjang pasien, agar wajahnya yang merona tak dapat dilihat oleh Oswald.


“Apa yang kamu pikirkan, Ayline?” tanya Oswlad. “Apa kamu lupa jika aku bukan lagi Oswald yang dulu. Aku hanya pria cacat!”


Ayline menghela napasnya. Lagi-lagi Oswald kembali meratapi kondisinya yang sekarang. Sudah seminggu ini, pria itu terus saja mengeluh dengan keadaannya. Ayline hanya bisa terus bersabar menghadapi sikap suaminya itu. Ayline berjanji dalam hati akan membantu suaminya berdamai dengan keadaan meski hal itu akan sulit.


“Kamu tetap suamiku, bagaimanapun keadaanmu kamu tetap suamiku. Tak ada yang berubah,” tegas Ayline.


“Terserah padamu saja. Aku sudah memperingatkanmu, jadi jangan kecewa,” peringat Oswald pada istrinya yang menurutnya keras kepala.


Ayline mengangguk dengan mantap. “Kita buktikan saja nanti malam. Bagaimana? Kamu setuju?”


...—————————...

__ADS_1


__ADS_2