
Di tengah kerisauan hatinya, Ayline berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Hari ini, ia ingin berpenampilan berbeda dari biasanya. Tak biasanya wanita itu merias wajahnya, namun hari ini ia menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya hanya untuk merias wajahnya yang memang sudah sangat cantik.
Pakaiannya pun cukup berbeda. Hari ini pilihan Ayline jatuh pada warna kuning terang. Mini Dress tanpa lengan dilengkapi blazer berwarna putih, membuat penampilan Ayline tampak lebih berani.
Entah apa alasan Ayline melakukan itu semua. Setelah semalaman berpikir dan akhirnya mengambil keputusan, pagi ini ia tak ingin terlihat menyedihkan di mata suaminya.
“Jadi bagaimana, Mas?”
Oswald masih menimbang-nimbang permintaan istrinya mengenai asisten pribadi. Beberapa kali Denis pernah melaporkan padanya jika istrinya itu memang beberapakali terlihat mengobrol dengan putri dari Pak Albert. Namun, apa alasan Ayline memilih seorang buruh pabrik untuk menjadi asistennya, hal itu masih jadi pertanyaan Oswald.
“Baiklah. Tapi, setelah aku bertemu dengannya. Aku ingin memastikan, jika putri Pak Albert memang pantas menjadi asisten Nyonya muda Keluarga Pallas.”
Pak Albert yang saat itu sedang menuangkan air ke gelas Oswald, tertegun saat mendengar Tuan dan Nyonya-nya membahas putrinya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah putri semata wayangnya itu telah membuat masalah dengan majikannya.
Ayline bisa melihat guratan kekhawatiran di wajah tua Pak Albert. “Aku tak mungkin memilih sembarang orang,” ucap Ayline menyadarkan Pak Albert dari lamunannya.
“Aku ralat, Mas. Aku tak meminta padamu, tapi itu adalah syarat dariku. Aku hanya akan pergi jika Syila ikut denganku!” tegas Ayline.
Pak Albert terbatuk-batuk mendengar keputusan Nyonya-nya. Walau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun pria tua itu bisa membaca bagaimana kacaunya keadaan rumah tangga majikannya. Pak Albert hanya khawatir jika putrinya suatu saat akan ikut terseret dalam masalah rumah tangga majikannya.
“Tak apa Pak Albert, jangan khawatir,” ucap Ayline dengan ramah seraya memberi segelas air pada Pak Albert.
Dengan sopan Pak Albert menerima gelas pemberian Nyonya muda keluarga Pallas, walau ia tak berani meminumnya barang seteguk di tempat itu. “Terima kasih, Nyonya.”
“Aku ingin meminta bantuan putri Anda sebagai asistenku selama aku beradi di Kota Gumi,” jelas Ayline.
“Maaf Nyonya, tapi anak itu tak tahu apa-apa. Ia tak punya pengalaman sebagai seorang asisten. Dia hanya buruh pabrik biasa. Aku takut anak itu bukannya membantu, tapi hanya akan menyusahnya Anda, Nyonya.”
Pak Albert mengatakan dengan jujur kekhawatirannya. Meskipun tahu akan sulit menolak jika perintah sudah dikeluarkan oleh Tuannya, namun ia akan berusaha agar Nyonya-nya memikirkan kembali keputusannya.
“Sudah! Aku yang akan memutuskan dia layak atau tidak,” ucap Oswald menghentikan niat Pak Albert.
__ADS_1
“Denis, panggil putri Pak Albert. Aku ingin menemuinya segera!” titah Oswald.
...…...
Entah apa yang membuat Oswald akhirnya menyetujui Syila untuk menjadi asisten istrinya. Ketika pulang dari pabrik ia segera menemui istrinya yang sedang membaca buku di perpustakaan.
“Sepertinya buku yang kamu baca sangat menarik?” ucap Oswald saat melihat Ayline begitu fokus membaca hingga tak menyadari kehadirannya.
Oswald menekan satu tombol di kursi rodanya agar semakin mendekat pada istrinya. “Apa kamu bisa memilihkan satu buku bagus untuk kubaca?”
Ayline bergeming di tempatnya. Ia memandangi suaminya yang semakin mendekat padanya. Apa yang telah terjadi, mengapa suaminya tiba-tiba kembali berbicara lembut padanya. Sandiwarakah?
“Kamu melamun lagi!” tegur Oswald.
Oswald menggelengkan kepalanya, namun netra Ayline sempat menangkap senyum pria itu.
“Kebiasaan kamu itu masih saja belum berubah. Kenapa melamun kamu jadikan hobi.”
“Ini,” ucap Ayline seraya menyodorkan sebuah buku pada Oswald.
Kening Oswald mengernyit saat tahu jika istrinya memberinya buku yang berisi kumpulan cerita jenaka. “Kamu yakin enggak salah ngasih rekomendasi buku?”
Ayline menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Ya, kupikir buku itu sangat cocok untuk kamu baca saat ini.”
Ayline menutup buku yang sejak tadi berada di pangkuannya. Ia menarik napas panjang saat menatap wajah suaminya. Setelah meletakkan buku yang ia pegang ke atas meja, Ayline bertumpu dengan lututnya di depan sang suami.
“Aku harap setelah membaca buku ini kamu bisa sedikit terhibur,” ucap Ayline.
Mengatakan hal itu, kerinduan akan sosok suaminya yang hangat seperti dulu kembali Ayline rasakan. Walau ragu, namun satu tangan Ayline perlahan menyentuh pipi suaminya.
“Kamu memikul terlalu banyak beban, Mas. Aku ingin kamu lebih perhatian pada dirimu sendiri. Berhentilah memerhatikan penilaian orang lain.”
__ADS_1
Oswald diam mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir istrinya. Untuk sesaat Oswald sempat membenarkan ucapan istrinya. Namun, teringat besarnya perubahan hidupnya, banyaknya hal yang harus ia lepaskan setelah kecelakaan naas menimpanya, Oswald seperti murka dengan keadaan. Ia tak ingin hidupnya semakin terpuruk, jika orang-orang memandang sebelah mata padanya. Ia ingin mengembalikan kesempurnaan dalam hidupnya walau ia memiliki kekurangan.
Oswald sontak memalingkan wajahnya. Terpaksa Ayline menjauhkan tangannya dari wajah suaminya.
“Orang-orang tak akan pernah berhenti menilai dan membicarakan kita. Mereka punya mata dan mulut, kita tak bisa mencegahnya,” ungkap Oswald.
“Jangan tunjukkan kelemahan kita, karena itu yang mereka cari. Buat mereka hanya bisa melihat dan membicarakan kelebihan kita,” lanjutnya.
Ayline kembali duduk di kursinya. Benteng ego suaminya masih terlalu kokoh untuk ia goyahkan. “Apa pentingnya itu semua? Apa yang kita dapatkan dari itu semua, Mas?”
“Kesuksesan, Ayline. Semuanya akan lebih mudah kita jalani jika menggenggam kesuksesan,” jawab Oswald dengan yakin.
“Kamu istriku, maka bantulah aku. Kumohon, berusahalah agar cepat hamil. Setelah itu, kujanjikan padamu kehidupan rumah tangga kita akan lebih baik lagi. Tak akan ada yang mengusik rumah tangga kita lagi, termasuk Mommy.”
Oswald kembali memohon dengan sungguh-sungguh pada Ayline. Pria itu bahkan menggenggam erat kedua tangan istrinya, menunjukkan betapa besar harapan yang ia taruhkan pada Ayline.
Namun Ayline segera memalingkan wajahnya. Tak ada jawaban yang ia berikan. Bagaimana pun ia coba memikirkan alasan suaminya, tetap saja ia tak bisa membenarkan hal itu.
Ayline yang terus bersikap tak acuh padanya, membuat Oswald memutuskan untuk menyudahi pembicaraan keduanya.
“Kamu tahu kamu harus setuju, bukan? Kamu tetap akan melakukannya. Suka atau tidak suka!” Ucapan Oswald berbalas sebuah tatapan tajam dari istrinya.
“Oh ya, aku ingin memberitahumu jika aku sudah setuju mengenai gadis pilihanmu. Kalian akan berada di Kota Gumi selama hari kerja. Di akhir pekan, kita akan bertemu di Kota Lando. Selagi menunggumu, aku akan melakukan terapi.”
Karena Ayline tak kunjung merespon ucapannya, Oswald akhirnya memilih keluar dari ruang perpustakaan.
“Mas!” panggil Ayline.
“Jawab jujur, sebenarnya apa tujuanmu memintaku ke Kota Gumi?” tanya Ayline.
Oswald tersenyum. “Kamu tahu jawabannya, Ayline. Maka, jangan kecewakan aku.”
__ADS_1
...————————...